Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang

Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang
Ketika istriku tak lagi meminta uang 63


__ADS_3

Malam sudah menjelang pagi, udara di sekitar villa cukup dingin membuat ku ingin kembali meringkuk di bawah selimut tapi mata tidak mau terpejam. Aku bangun untuk membersihkan tubuh dan setelah itu ku tunaikan kewajiban ku sebagai umat muslim.


Mas Rahman masih terlelap, semalam ia pingsan jadi aku tidak menggangu tidur. Aku berjalan ke dapur villa, disana sudah terletak teh dan gelasnya.


Mungkin mas Rahman sebelum membookingnya sudah bilang jauh-jauh hari, tapi siapa pemiliknya bahkan kami belum bertemu dengan pemilik villa ini.


Aku menyalakan gas dan memasak air untuk membuat teh untuk kami bertiga. Selesai membuat teh aku berjalan ke sofa yang berhadapan dengan pemandangan puncak bukit yang begitu indah.


"Bangun kok gak ngajak-ngajak?" Aku menoleh ke samping ternyata mas Rahman sudah bangun. Wajahnya nampak pucat karena obatnya sudah habis.


"Mas, kamu sudah bangun. Ayo kesini, kita minum teh dulu," kata ku.


Mas Rahman beranjak ke arah sofa lalu duduk di sampingku, aku menatapnya lekat-lekat. Rasanya aku tidak lepas dari pasangan matanya.


"Mas, semalam kamu mimisan lagi, apa sebaiknya kita pulang saja," kata ku.


Mas Rahman menatap ke arah ku, mana tahu mas Rahman kalau ia mimisan semalam, Kan mas Rahman pingsan.


"Masak sih, mas sehat-sehat aja kok,"


Kata mas Rahman meminum teh buatan ku.


"Tapi Mas kamu....!"


"Sudah, mas tidak apa-apa! Sekarang kamu lihat Rania dan Silvi ajak mereka ikut untuk mencari makan diluar," ujar mas Rahman.


Aku hanya mengangguk lalu berjalan ke kamar, aku melihat Rania sudah duduk di tempat tidur. Aku mangakatnya untuk mengajaknya mandi.


Selesai memandikan Rania dan mendandaninya, aku keluar dari kamar menemui mas Rahman bdan Silvi juga ubah sudah ada disana.

__ADS_1


"Ayo, kita berangkat?" Kata Mas Rahman.


Kami hanya mengangguk lalu berjalan keluar dari villa tersebut, di villa itu hanya ada seorang penjaga yang berdiri tepat di depan pintu gerbang.


Di sepanjang perjalanan menuju warung makan, aku tak henti-hentinya menatap ke arah luar. Suasananya cukup tenang dan damai membuat aku betah disini.


*** ***


Di rumah Stefani, Bandung.


"Stefani, apakah di sekitar sini ada warung makan?" tanya Anggara setelah bermalam di rumah Stefani, ia menemukan keluarga yang sederhana di dalam kehidupan keluarga Stefani.


"Kenapa, apa bapak tidak biasa makan makanan orang kampung," kata Stefani mesintil hatinya. Ia menatap Stefani yang sedang membersihkan meja makan, ia hanya diam bukan tidak biasa tapi Anggara masih kelaparan.


Di rumah Stefani hanya ada kangkung tumis dan ikan tongkol goreng, Anggara tetap memakannya walau hanya sedikit karena itu dia masih kelaparan.


Sekilas Stefani menatap ke arah Anggara, dari kamarim Anggara belum menggantikan bajunya mungkin benar ia tidak membawa baju ganti.


."Baiklah, tunggu aku ganti baju dulu."


Stefani berjalan ke kamarnya, lalu mengambil pakaian yang ada di dalam lemari untuk ia kenakan.


Pilihan jatuh pada baju dres di bawah lutut berlengan panjang menambahkan kecantikannya membuat Anggara terpana.


"Pak... Bapak.. kok bengong?" tanya Stefani.


"Eh, Ayo kita berangkat," kata Anggara.


Di perjalanan Anggara terus menatap ke arah Stefani yang cantik tanpa polesan make up.

__ADS_1


"Bapak kenapa ngeliatin saya terus!" Tegur Stefani membuat Anggara pias dan malu karena ketahuan mencuri pandang ke arah Stefani.


"Siapa ngeliatin kamu, enak saja," kata Anggara mengelak.


"Halah, bila saja kalau bapak malu karena ngeliatin aku,itu saja ngeles," kata Stefani mencibirkan mulutnya ke depan.


"Kamu cantik," kata Anggara membuat Stefani terdiam, ia menatap ke arah Anggara lalu meletakkan tangannya di kening Anggara.


"Kamu apa-apaan Stefani, nanti kita bisa celaka," kata Anggara menepiskan tangan Stefani.


"Bapak mimpi apa semalam, muji saya bilang saya cantik. Ah, saya tahu pasti bapak suka sama saya ya," goda Stefani pada majikannya.


Ciiitt...ciiit....


Suara rem mobil mendadak membuat kepala Stefani terbentur dasboard mobil, ia meringis kesakitan.


"Bapak kalau mau mati jangan ngajak-ngajak saya dong, Pak. Saya gak mau mati duluan, nikah saja belum," kata Stefani.


Anggara yang merasa dirinya bersalah menatap datar ke arah Stefani lalu mendekat tubuhnya ke arah mobil.


"Kalau begitu kamu mau gak nikah sama aku?" Kata Anggara lirih.


Jantung Stefani berdetak kencang, tak pernah ia merasakan seperti ini bahkan jantungnya hampir copot keluar dari tempatnya.


"Bapak bilang tadi?" Tanya Stefani.


"Ah, tidak ada. Lupakan saja," kata Anggara tersadar dari ucapannya.


Duh, kenapa aku bisa bilang begitu pada Stefani. Nanti ia malah memanfaatkan situasi ini lagi.

__ADS_1


__ADS_2