
Dua jam perjalanan, Akhirnya kami sampai ke rumah sakit. Aku berteriak memanggil perawat untuk membantuku mengangkat mas Rahman dan meletakkannya di atas brankar rumah sakit. Ia masih memejamkan matanya tanpa mau melihat aku sebentar.
Apa ini jawaban dari permintaan mas Rahman ingin bersamaku selama 40 hari dan setelah itu terserah aku ingin bercerai dengannya.
Aku mengusap wajah lalu menunggu mas Rahman yang berada dalam ruang UGD rumah sakit, berharap dia baik-baik saja dan waktu ia masih panjang agar aku bisa lebih lama bersamanya walaupun kematian itu terjadi.
Aku terus menunggu, pintu di depan ku ini agar terbuka tapi tidak. Pintu UGD masih saja tertutup, apa penyakit mas Rahman sudah separah itu sehingga ia kerap kali mimisan dan pingsan. Aku berjalan mondar-mandir, perasaan aku tidak tenang karena memikirkan mas Rahman yang masih berada di dalam sana.
Ceklek...
Pintu ruang UGD terbuka, aku melihat dokter keluar setelah memeriksa mas Rahman.
"Bagaimana keadaan suami saya, Dok?" tanya ku.
"Kondisi suami ibu saat ini baik saja tapi...!"
"Tapi apa pak, apa yang terjadi dengan suami saya,"
Aku sangat khawatir terjadi apa-apa dengan mas Rahman, semoga mas Rahman bisa bertahan dengan penyakit yang di deritanya.
__ADS_1
"Penyakit kanker yang di deritanya sudah menjalar keseluruh tubuh, sehingga membuat pak Rahman sering mimisan, cepat lelah dan kami harus cepat-cepat melakukan transplantasi sumsum tulang belakang," kata dokter Yadi.
Apa, melakukan transplantasi sumsum tulang belakang pasti biaya mahal sekali. Apalagi uang ku belum cukup jika untuk biaya operasi mas Rahman.
"Apa tidak ada cara lain selain itu, Dok," tanyaku.
"Ada, kita bisa melakukan kemoterapi pada pak Rahman tapi sebelumnya kita tanyakan nanti pada pasien. Jadi biarkan pak Rahman untuk beristirahat dulu!" Kata Dokter Yadi lalu pergi meninggalkan aku yang masih mematung.
Beberapa perawat membawa mas Rahman ke kamar inap, aku mengikutinya dari belakang. Aku meminta suster untuk membawa mas Rahman ke ruang VIP agar aku lebih leluasa menjaganya dan Rania tidak gerah bila menjenguk papanya.
Mas Rahman terbaring lemah di atas brankar, dia belum sadar sama sekali. Aku duduk di sampingnya, tubuhnya begitu kurus dan pucat, selama ini aku hanya berpikir kalau dia tidak peduli padaku padahal di balik semua itu dia menyimpan penyakit yang di alaminya.
Aku mengambil ponsel lalu mengirim pesan pada ibu kalau aku berada di rumah sakit karena tadi aku tidak sempat ke kamarnya untuk memberitahu kalau mas Rahman pingsan. Setelah mengirim pesan, aku kembali meletakkan ponsel dia atas nakas rumah sakit.
Aku tidur di kursi samping mas Rahman, ku pejamkan mata yang lelah menangis dari tadi. Aku hanya berharap kalau besok mas Rahman sudah dasar. Masalah pengobatan nanti aku bicarakan lagi dengan dokter yang menangani mas Rahman.
Aku akan berusaha untuk menyembuhkan mas Rahman, untuk menebus rasa bersalah ku karena selama ini sudah mengabaikan dirinya.
🌷🌷🌷
__ADS_1
Aku terbangun kala merasakan tangan seseorang mengelus puncak kepalaku, Aku mengucek mata dan melihat mas Rahman yang sudah terbangun.
"Mas, kamu sudah bangun! kamu mau minum,"
Mas Rahman hanya mengangguk lalu aku beranjak mengambil air minum di atas nakas lalu memberi pada mas Rahman.
"Bagaimana keadaan kamu, Mas?" tanya ku melihat dia tersenyum lalu menggenggam tanganku.
"Maafkan mas yang sudah menyusahkan kamu,"
Air mataku kembali jatuh perlahan, baru saja aku bahagia karena sikapnya yang sudah berubah tapi kebahagiaan ini seakan hilang berganti dengan rasa sakit sepeti ini. Disaat kami sedang bahagianya, Allah memberikan aku cobaan seperti ini.
"Sudah, mas Rahman tidak menyusahkan aku. Sudah seharusnya aku disini menemani mas sampai sembuh," kata ku dengan air mata yang tak bisa ku tahan lagi. mas Rahman hanya mengelus tangan ku lalu menciumnya.
"Terimakasih sudah mau memaafkan kesalahan, mungkin waktu mas tidak lama lagi,"
"Jangan bilang begitu, Mas. Aku yakin kamu akan sembuh," kataku mencoba menguatkan mas Rahman.
Jangan pernah kamu meninggalkan orang yang kamu sayang di saat ia terpuruk, tapi tetaplah menguatkannya meskipun kita tidak tahu bagaimana kehidupan ke depannya. Setidaknya kita tetap bersama menguatkan seseorang yang kita cintai. Apalagi seorang suami, sudah berusaha untuk memberikan yang terbaik walaupun kurang.
__ADS_1