
"Silvi...!"
Ah ternyata benar itu adalah Silvi tapi aku tidak mungkin memberitahu pada mas Rahman kalau di foto tersebut Silvi adiknya, bisa-bisa aku akan ketahuannya.
"Kalian bicara apa sih, Silvi siapa?" Kata mas Rahman mungkin dari tadi tidak paham kemana arah pembicaraan kami berdua.
"Bukan apa-apa, tadi Rara menanyakan di foto yang ada di ruangan ku," kata dokter Fadli.
"Ya sudah kalau begitu kami pulang dulu Dok, lagian juga udah siang?" Kata mas Rahman meminta pamit untuk pulang, kami keluar dari ruangan dokter Fadli.
Jam sudah menuju pukul 11 siang, aku sangat lapar karena tadi pagi hanya makan sedikit. Aku melihat ada warung bakso di depan rumah sakit, aku ingin membelinya tapi aku tidak membawa uang.
"Kenapa, Ra? Kok berhenti!" Aku yang sedang mengelus perut menoleh ke arah mas Rahman.
"Tidak ada apa-apa, Pak," kata-kata ku berjalan ke depan mas Rahman, perutku sudah berbunyi karena sangat lapar.
Seseorang menarik tanganku lalu menyeberang jalan ternyata mas Rahman menarik tanganku dan masuk ke warung tadi.
"Bapak lepasin, gak enak di lihat orang," kataku mencoba melepaskan tangannya dariku.
"Kalau lapar itu bilang, jangan ngelus perut," ucapan mas Rahman membuat aku kesal lalu duduk di meja paling pojok, kenapa dia harus bicara seperti itu. Bikin malu saja.
"Siapa yang lapar, aku tidak lapar kok! Bapak saja yang sok tahu," kata ku mengerucutkan bibir.
"Sudah tidak usah cemberut begitu nanti cantiknya hilang," kata Mas Rahman berjalan ke depan untuk memesan bakso.
Apa, tumben mas Rahman bilang aku cantik. Eh bukan aku tapi Rara, aku kan sedang menyamar. Apa mas Rahman mulai mencintai aku sebagai Rara.
"Sebentar baksonya datang," kata mas Rahman duduk berhadapan dengan ku.
Aku menatap wajahnya begitu tampan, deburan kerinduan semakin menggebu membuat jantung ini berdetak terus berdetak seakan ingin aku memeluk suami yang selama ini begitu aku rindukan.
"Pak, saya boleh tanyakan sesuatu!" Kataku.
"Boleh, Apa?"
"Ibu tadi pagi siapa?"
"Ibu yang mana?"
"Ibu yang tadi pagi berbicara dengan bapak, masak bapak lupa," kata ku menahan kekesalan.
"Oh, Bu Yati, memangnya kenapa!" Tanya Rahman membuat Ratih semakin kesal karena ia tidak bisa mendapatkan informasi tentang perempuan bernama Lilis, jika ia terus bertanya takut membuat Rahman mencurigainya.
"Tidak apa-apa, lupakan saja?"
"Katakan saja kalau kamu cemburu, aku tahu kamu menanyakan Bu Yati itu agar aku cerita tentang Lilis putrinya kan,"
Kata Mas Rahman membuat mataku membulat, kenapa dia bisa baca isi hatiku padahal aku tidak mengatakannya kalau aku ingin menanyakan tentang Lilis.
"Cemburu, mana mungkin aku cemburu pada majikan sendiri?" Kata ku menoleh ke arah lain.
"Lalu kenapa kamu menanyakan Bu Yati kalau bukan karena cemburu, apa karena aku terlalu tampan sehingga kamu menyukai ku," kata mas Rahman pongah.
"Tidak, bapak hanya salah paham," kata ku.
__ADS_1
Tak lama kemudian, pelayan datang dengan membawakan bakso yang membuat aku semakin ngiler. Aku mengambil satu mangkok bakso lalu mengambil sendok dan menyicipi kuah bakso yang terasa sangat menggugah selera, kuahnya terasa sangat gurih.
Bau rempah-rempahnya sangat terasa seperti bawah putih, bawah merah dan juga yang lain-lain. Aku mencomot satu bakso kecil untuk merasakan bagaimana isinya sebelum ku lumuri dengan saos dan kecap.
Baksonya terasa lembut di lidahku, aku sangat suka dengan bakso ini. Baru pertamakali aku merasakan bakso selembut ini.
"Kamu kenapa?"
"Wah, Pak. Baksonya enak sekali?" Kataku mengambil saos lalu menuangkannya ke dalam mangkok bakso ku sementara mas Rahman hanya mengambil saos sedikit karena ia tidak terlalu suka dengan pedas.
"Iya, memangnya kamu tidak pernah makan bakso seperti ini," kata mas Rahman.
"Pernah Pak sama Su..." Aku berhenti berbicara takut rahasia ku terbongkar, belum saatnya aku menampakkan diri.
"Su apa?"
"Maksud aku Susan, Pak!" Kataku tersenyum sambil melanjutkan memakan bakso kesukaanku.
"Aku pikir kamu sudah punya suami?" kata mas Rahman membuat aku menganga.
Kenapa dia berpikir seperti itu?
"Bapak ada-ada saja, masak wajah saya begini punya suami," kata mas Rahman.
Huuh, untung saja mulut ku tidak keceplosan mengatakan suami kalau tidak bisa tambah curiga mas Rahman sama aku.
"Oh, aku pikir sama suami kamu!" Kata mas Rahman.
Aku hanya diam, tidak lagi merespon perkataan mas Rahman. Aku larut dalam memakan bakso yang begitu lembut dan sangat pas di lidah aku.
"Ra, nanti panaskan saja makanan tadi yang di berikan sama Bu Yati dan kamu istirahat saja sekarang?" Kata mas Rahman sesampai kami di rumah.
Aku hanya mengangguk lalu berjalan ke kamar, merebahkan tubuh ini di atas tempat tidur. Ingin sekali mata ini rasanya terlelap tapi getaran ponsel membuat aku harus mengangkatnya, ternyata dari ibu.
"Hallo, Ada apa Bu?" Kata ku.
"Apa, Rania sakit! Baik aku ke sana sekarang?"
Aku terkejut mendengar Rania demam dan berada di rumah sakit sekarang, soalnya kemarin dia baik-baik saja. Aku berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh ini karena baru saja pulang dari rumah sakit.
Selesai mandi, aku mengantikan pakaian lalu pergi ke rumah sakit untuk melihat kondisi putriku Rania. Aku memesan taxi untuk menunggu ku di depan gang.
"Bagaimana keadaan Rania, Bu?" tanyaku setelah sampai di rumah sakit.
"Kata dokter dia hanya step karena demam yang terlalu tinggi, dia memanggil kamu terus mungkin rindu sama kamu," kata ibu.
Aku mengecup kepala putriku yang tertidur di brankar rumah sakit, aku menyelimuti tubuhnya yang ramping. Hari ini aku akan menemaninya, tak perduli jika mas Rahman curiga kalau aku tidak ada di rumahnya.
"Apa Rahman sudah mengetahui tentang kamu?"
"Belum, mas Rahman tidak curiga kalau Rara itu aku!" Kata ku pada ibu duduk di dalam kamar.
"Siapa bilang?"
Seseorang berdiri di depan pintu ternyata mas Rahman dan Silvi. Kenapa dia bisa di disini, siapa yang memberitahu mas Rahman.
__ADS_1
"Mas Rahman...!" Ucap ku terbata.
"Berhentilah untuk menjadi orang lain," mas Rahman berjalan ke arahku lalu meletakkan kacamata dan tompel yang tertinggal di rumahnya.
Aduh, Ratih. Betapa bodohnya dirimu bisa ketahuan, bikin malu diri sendiri saja.
"Tapi Mas aku bisa...,"
"Sudah, Mas sudah tahu semuanya. Maafkan Mas karena sudah meninggalkan kalian berdua waktu di Bandung,"
Mas Rahman menggenggam tanganku, aku merasa terharu. Hari ini dia berani menunjukkan wajahnya sendiri.
"Mas tidak marah?" Tanya ku.
"Kenapa harus marah, semenjak kamu bekerja di rumah. mas sudah curiga kalau itu kamu dan mas hanya ingin mengikuti sandiwara kamu saja," kata mas Rahman.
"Mas Rahman jahat!"
Aku memukul dada bidang mas Rahman dengan perasaan malu-malu, jadi selama ini dia hanya berpura-pura tidak kenal dengan ku begitu.
"Kenapa Mas ikut bersandiwara!" kata memanyunkan bibir hingga 3 senti.
"Mas hanya mengikuti sandiwara mu sayang tapi mas benar-benar minta maaf, setelah pulang dari ulang tahun Rania kemarin Mas mencari tahu tentang Riko dan benar dia berada di dalam penjara sekarang," kata Mas Rahman panjang lebar.
Aku hanya diam lalu mengelus pipi putriku, terlihat Silvi baru saja datang dengan menenteng tas selempang miliknya.
"Silvi, kamu dari mana?" tanyaku.
"Aku baru saja mencari pekerjaan, aku bosan di rumah terus lagian kakak juga gak ada di rumah sekarang," kata Silvi menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Pekerjaan, kerja apa?" tanyaku lagi.
Silvi tidak sadar jika di sampingnya ada Mas Rahman yang sedang membaca koran untuk menutupi wajahnya.
"Aku bekerja di restoran "Rania Resto" sebagai pelayan kak," kata Silvi dengan semangat.
"Apa, pelayan di restoran "Rania resto", Kamu bisa jadi manajer disana nanti biar kakak yang omongin semua ini?" kata ku pada Silvi.
"Tidak kak Ratih, aku lebih suka bermula dari nol dan lagian mas Rahman mana mau aku di jadikan manajer bisa-bisa bangkrut lagi tuh Resto," kata Silvi.
"Benarkah begitu?
"Iya, Eh tunggu, yang berbicara dengan aku siapa? Kak Ratih dan ibu kan disana," kata Silvi memalingkan ke arah samping dan terlihat mas Rahman berada di sampingnya.
"Mas kok ada disini juga?" tanya Silvi.
"Memangnya kenapa? Rania juga putri Mas,"
"Tapi...!"
"Silvi, mbak mau tanyakan sesuatu sama kamu?" kata ku berjalan ke arahnya.
"Mau tanya apa, Mbak. Kayaknya serius amat," kata Silvi.
Aku mengambil ponsel lalu membuka galeri foto, memperlihatkan foto seseorang.
__ADS_1
"Apa kamu kenal dengan orang di foto ini?"