
Aku membulatkan mata kala mendengar perkataan mas Rahman, selama ini dia tidak pernah bertanya seperti ini. Apa benar di cemburu atau ada hal yang lain.
"Mas, aku hanya mencintaimu dan hanya akan mencintaimu bukan orang lain siapapun itu," kata ku mengalungkan tangan dilehernya, ia hanya diam tanpa sepatah kata apapun.
"Aku menolongnya karena dia sebagai atasan bukan karena yang lain, tetap lah kamu yang menjadi cinta ku selamanya sekalipun maut yang akan memisahkan kita.
Cup
Mas Rahman tersenyum lalu berlalu berjalan ke kamar mandi. Aku merebahkan tubuh di atas tempat tidur, begitu juga dengan mas Rahman yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dulu.
"Jangan tidur dulu...!"
"Apalagi, mas ngantuk sayang atau kamu mau...!" Mas Rahman mencoba merayu ku.
"Mas ini ada-ada saja, bukan itu tapi mas harus minum obat dulu," kata ku mengambil obat di dalam laci di samping tempat tidurku.
Mas Rahman mengambil pel tersebut lalu meminumnya dengan penuh rasa malas, setelah habis meminum obat mas Rahman kembali merebahkan tubuhnya dengan menggenggam tangan ini.
"Good night, sayang,"
Cup....
__ADS_1
Mas Rahman mematikan lampu lalu tidur dalam lampu pencahayaan saja. Aku pun ikut terlelap ke dalam mimpi-mimpi indah.
🌷🌷🌷
Hari ini jadwal kontrol mas Rahman dan kemoterapi semenjak pulang dari rumah sakit, hari ini aku akan menemaninya. Kemarin mas Rahman sempat mimisan lagi, katanya kepalanya pusing.
"Semua sudah siap, Mas?" tanyaku melihat mas Rahman dengan wajah yang pucat, aku memegang tangannya. Entah apa yang di pikiran mas Rahman sehingga menyebabkannya mimisan lagi.
"Sudah, kamu tidak ke kantor?" tanya Mas Rahman.
"Aku sudah ijin dari kantor dan hari ini aku ingin menemani kamu kontrol ke rumah sakit." kataku mengambil tas selempang lalu menggandeng tangan mas Rahman untuk turun ke bawah.
Terlihat Siti sedang bermain dengan Rania sedangkan ibu lagi menonton sinetron ikan terbang.
"Aku sama mas Rahman mau ke rumah sakit, hari ini jadwal kontrolnya mas Rahman setelah pulang dari rumah sakit," kata ku.
ibu hanya diam, dapat ku lihat wajah ibu mertuaku begitu gelisah dan tidak tenang.
"Kenapa, kok ibu gelisah begitu?" tanyaku.
*Entahlah, Ibu teringat sama Silvi dan perasaan ibu tidak tenang jika tidak mendengar kabar Silvi yang sudah pergi satu bulan yang lalu," kata ibu.
__ADS_1
Aku tahu ibu sangat menyayangi Silvi, tidak ada seorang pun ibu tenang di saat melihat anak berada di luar sana dan tidak tahu dimana.
"Tenanglah, Bu. kita akan cari Silvi. kita sudah menyebar fotonya, semoga Silvi cepat di temukan," kataku mengelus bahunya, berharap bisa tetap bersabar dan tubuhnya tidak drop karena memikirkan Silvi.
"Ayo, Mas kita berangkat?" kata ku mengajak mas Rahman untuk segera berangkat ke rumah sakit.
Di kantor
"Yogi, siapkan file yang akan kita jelaskan pada Mr, William agar dia tertarik bekerja sama dengan kita dan kita yang akan memenangkan tender ini agar perusahaan kita semakin maju."
Kata Anggara, ia sudah tahu kebusukan pak Sanjaya setelah tempo hari mendengar rekaman yang di kirimkan oleh Ratih. ia pun memenuhi jalan Sinta untuk mengambil file miliknya yang sudah ia siapkan di dalam flashdisk.
"Bos, bukannya kemarin flashdisk berwarna hitam kok berwarna putih sekarang," tanya Yogi.
"Sudah, kamu jangan banyak tanya? jalan semua yang sudah aku perintahkan," kata Anggara.
"Dimana pertemuan Mr.William di adakan?" tanya Anggara yang masih duduk di kursi kebesarannya.
"Di hotel Xxx di lantai 20," ujar Yogi.
"Ya sudah, ayo kita berangkat sekarang," kata Anggara beranjak dari kursi kerjanya lalu berjalan menuju pintu.
__ADS_1
"Maaf, Pak. Di luar ada seseorang yang menunggu bapak," ujar seseorang karyawan.
"Siapa....!"