
Happy reading ❤️
Kami pulang di antara Anggara ke rumah, ibu terus menangis. Sementara aku hanya diam, jika terus akan membuat ibu dan Silvi, aku mencoba menghubungi nomor mas Rahman.
Aku hanya berharap mas Rahman masih hidup, walaupun kemungkinan sulit terjadi. Apalagi mobil yang dinaiki Mas Rahman menabrak pohon di tepi jurang sehingga beling-beling kaca mobil berhamburan.
Aku tahu tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang, aku hanya berharap mas Rahman segera di temukan walaupun dalam keadaan tidak bernyawa. Jika dia di celakai seseorang, aku akan membuat dia mendekam di penjara.
Jam 12 malam kami baru sampai di rumah, ibu membawa Rania ke kamarnya sementara aku menaiki lantai atas dengan separuh nyawa yang hilang. Rasanya aku belum siap untuk kehilangan Mas Rahman untuk selama-lamanya.
Aku merebahkan tubuh dia atas tempat tidur, berharap semua ini hanya mimpi dan besok ketika bangun Mas Rahman sudah pulang.
*** ***
Tok...tok...tok...
Ketukan suara pintu terdengar jelas di telinga, aku membuka mata ternyata sudah pagi. Aku berjalan ke arah pintu lalu menekan handle pintu untuk membukanya.
"Ada apa, Bu?" tanya ku.
"Ada polisi diluar, turunlah!" kata ibu membuat aku membuka mata lebar-lebar, Ku lirik jam sudah menuju pukul 08:00 pagi.
"Baik Bu, sebentar lagi aku turun," kataku.
__ADS_1
"Baiklah, ibu tunggu di bawah," kata ibu berbalik arah untuk turun ke bawah. Sementara aku mengambil handuk lalu berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Selesai dengan rutinitas yang satu itu, aku turun ke bawah setelah memakai pakaian. Hari ini aku tidak ke kantor karena kecelakaan mas Rahman membuat aku syok.
"Maaf Pak, sudah lama menunggu?" ujar ku menangkupkan kedua tangan ku meminta maaf pada pak polisi.
"Tidak apa-apa, Bu. Kami hanya ingin mengatakan kalau kami mendapatkan Rem mobil yang dikendarai pak Rahman blong sehingga membuat pak Rahman mengalami kecelakaan," kata pak polisi tersebut membuat aku kembali syok.
"Tapi Pak, mobil itu baru saja kami beli satu bulan yang lalu jadi aku rasa tidak mungkin blong," kata ku menatap pak polisi.
Kedua polisi tersebut saling menatap, aku ikut bingung kenapa bisa mobil yang mas Rahman kendarai blong.
"Mungkin ada orang yang menyabotase mobil pak Rahman agar mengalami kecelakaan, apa ibu punya musuh," tanya pak polisi tersebut.
Memang benar bukan, musuh ku hanya Riko dan dia pun berada di dalam penjara, jadi mana mungkin dia bisa melakukan itu semua.
"Baiklah, Bu. Untuk selanjutnya kami akan memberitahukan ibu jika ada bukti lain tentang kecelakaan Pak Rahman dan kami tetap mencari jasad pak Rahman yang belum ketemukan, kalau begitu kami pergi dulu," kata polisi tersebut meminta izin untuk pergi, aku hanya mengangguk begitu juga dengan ibu.
Aku harus bersiap-siap untuk berangkat ke TKP, aku tidak mungkin hanya duduk di rumah dan menanti informasi tentang mas Rahman. Sebaiknya aku menghubungi Fadli untuk menanyakan mungkin ada pasien yang masuk dengan daftar kecelakaan. Mungkin saja dia adalah Mas Rahman.
"Hallo, Mbak, Ada apa?" tanya Fadli setelah panggilannya tersambung.
"Apa di rumah sakit kamu berkerja ada pasien yang masuk daftar kecelakaan, mungkin saja Itu mas Rahman," kataku berharap ada daftar nama mas Rahman disana.
__ADS_1
"Ada sih, mbak! Semalam kami menerima pasien yang mengalami kecelakaan dan wajahnya rusak mungkin akibat pecahan beling yang tertancap di wajahnya," kata Fadli.
Semalam, mungkin itu Mas Rahman. Bukankah semalam mas Rahman juga mengalami kecelakaan, mungkin saja itu adalah mas Rahman yang di tolong oleh warga.
"Apa kamu tahu siapa namanya?" tanya ku lagi.
"Coba aku tanyakan pada perawat dulu, mbak. Mungkin dia tahu?" kata Fadli.
"Baiklah," kata ku tidak mematikan ponselnya, aku berharap jika yang masuk semalam adalah mas Rahman.
"Hallo Mbak, apa masih disana?" tanya Fadli.
"Ah, iya. Bagaimana Fadli?" tanya ku.
"Pasien tersebut bernama Afnan bukan mas Rahman mbak," kata Fadli membuatku lesu.
"Oh begitu, ya sudah tidak apa-apa? mungkin mas Rahman memang belum di temukan," kata ku mencoba untuk menerima kemungkinan pahit dalam hidupku.
"Baiklah, mbak tetap harus optimis dan yakin kalau mas Rahman pasti selamat," kata Fadli menyemangati ku, aku hanya ber oh iya tanpa harus mengatakan apapun lagi.
Aku berjalan kembali ke atas untuk mengambil tas, tapi ponsel ku kembali berbunyi lalu aku melihatnya. Mataku membulat, tangan ku bergetar di saat melihat panggilan yang tertera di layar ponselku dengan nama
📞
__ADS_1
"Mas Rahman..."