Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang

Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang
ketika istriku tak lagi meminta uang 25


__ADS_3

"Anggara...!"


Bugh.....


Seseorang melayang bogem mentah di wajahnya Anggara sehingga membuat ia terhuyung ke belakang. Beberapa karyawan mencoba melerai dengan memegang seorang laki-laki yang hampir 50 tahun itu. Kami hanya diam menonton pertunjukan gratis.


"Siapa anda berani sekali memukul saya," kata Anggara bangun lalu menatap tajam ke arah lelaki tua tersebut.


"Kamu mau tahu siapa saya, saya papa dari wanita yang kau hamili,"


"Hamil, siapa?" kata Anggara bingung dengan perkataan laki-laki yang ada di hadapannya. Dia tidak pernah sama sekali merasa berbuat yang tidak senonoh dengan perempuan mana pun.


"Maaf pak, saya tidak pernah merasa menghamili anak bapak mungkin bapak salah orang," kata Anggara.


"Lalu ini apa?" Bapak tersebut melempar beberapa foto tepat di depan wajah Anggara, kamu hanya bisa diam dan menonton apa yang terjadi.


Anggara mengambil lembaran foto tersebut, beberapa karyawan mulai pulang satu persatu.


"Siapa wanita ini, saya tidak mengenalnya sama sekali," kata Anggara melihat beberapa foto dia bersama perempuan dalam kamar hotel.

__ADS_1


"Apa kamu bilang, tidak kenal. Dia putri saya dan saya tidak mau tahu kamu harus bertanggung jawab karena dia sedang mengandung anak kamu," kata lelaki tersebut lalu pergi meninggalkan Anggara sendirian. Semua karyawan sudah bubar, hanya Anggara yang tinggal disana bersama asistennya Yogi dan juga beberapa karyawan masih betah di hotel tersebut.


Seseorang tertawa bahagia yang sedang berdiri di luar hotel, mendengar keributan yang sengaja ia ciptakan untuk membuat Anggara malu. Siapa lelaki itu, dia merasa sudah menang karena sudah membuat Anggara di anggap lelaki tidak baik.


"Bagus, ini bayaran untuk mu?" laki-laki tersebut menyodorkan segepok uang pada laki-laki yang mendatangi Anggara tadi.


"Terimakasih, besok-besok jangan lupa hubungi saya lagi," kata lelaki tua sambil mencium uang yang ada di datangnya.


"Maaf semuanya, acara ini terpaksa kita berhentikan karena tadi mengalami keributan dan untuk siapa yang naik jabatan, besok temui pak Anggara di kantor." kata Yogi setelah berbicara di mic lalu kembali meletakkan mikrofon tersebut di atas tempat tidur.


"Yogi, cari tahu siapa wanita ini dan cari tahu juga apa yang terjadi di hotel xxx saat kita melakukan rapat kemarin." kata Anggara menggenggam erat foto tersebut lalu melemparnya, ia turun dari panggung lalu pergi keluar dari ballroom. Aku dan mas Rahman pun pulang, namun langkah ku terhenti saat melihat Riko juga ada disana.


Apa semua ini ada hubungannya dengan Riko, mungkinkah pak Anggara di jebak oleh Riko dan mengakui pura-pura hamil.


"Ah tidak apa-apa, ayo kita pulang Mas!" kata ku menarik tangan mas Rahman menuju sepeda motor kami, aku tidak berasa tenang. aku yakin semua ini ada sangkut pautnya dengan pak Anggara.


Memang, Riko tidak bisa di ajak untuk menjadi seorang teman. Dia lebih memilih untuk menghancurkan saudara tirinya.


Satu jam perjalanan, kami sampai di depan rumah. Aku masuk duluan sementara mas Rahman mendorong motor untuk di masukkan ke rumah. Aku berjalan ke kamar, Rania tidak ada di kamar mungkin ibu membawa Rania tidur bersamanya.

__ADS_1


"Kalian sudah pulang?" tanya ibu mertuaku yang baru saja datang dari dapur.


"Ah, ibu bikin kaget saja. Rania dimana, Bu?"


"Rania ada di dalam kamar ibu, dia sudah ketiduran. Biarkan Rania tidur sama ibu nanti kalau dia haus ibu buatkan susu," kata ibu mertuaku lagi.


"Tidak usah, Bu. Nanti Rania rewel ganggu ibu tidur lagi," kata ku.


"Tidak apa-apa, kalau di bangunin kan kasian Rania takutnya nangis lagi," kata ibu berdiri tepat di depan pintu kamarnya.


"Tapi cuma malam ini saja Rania tidur sama ibu ," kata ku cemberut, pasalnya aku tidak pernah pisah tidur dengan Rania. Aku selalu bersamanya.


"Iya, ya sudah kamu tidur sana," kata ibu.


Aku berjalan masuk ke kamar, berjalan ke kamar mandi untuk mengantikan baju dengan baju piyama lengan pandang. Malam ini benar-benar kacau, aku duduk di meja rias lalu menyisir rambut.


"Rania dimana?" tanya mas Rahman.


"Rania di dalam kamar ibu, katanya Rania biar tidur saja sama ibu," ucap ku.

__ADS_1


"Yes, ada peluang dong!"


"Peluang apa?"


__ADS_2