
Aku terbangun kala senja telah berganti, aku mengucek mata dan melihat jam 7 malam, aku melihat ke sisi ranjang tempat tidur mas Rahman tapi tidak ada. Kemana dia, aku mencari ke kamar mandi juga tidak ada. Aku mulai khawatir takut mas Rahman pingsan lagi, apa lagi baru melalu masa kritis.
Tak sengaja aku melihat buket bunga terletak di atas nakas sofa, aku mengambil bunga mawar merah dan membaca isi kertas itu.
" Yang tersayang...," Tapi tidak tahu dari siapa, mungkin ini dari perempuan yang suka sama mas Rahman. Duhh, kenapa aku terus berprasangka buruk pada mas Rahman.
"Mas kamu dimana?" Teriakku di seluruh ruang tapi tidak ada juga. Aku membuka pintu kamar, lagi-lagi melihat satu bunga mawar dengan tulisan " ikuti mawar itu,"
Aku mengernyitkan dahi karena bingung, apa maksudnya ini. Aku padahal mau mencari mas Rahman tapi harus mengikuti bunga mawar ini.
Langkah perlangkah aku mengikuti bunga mawar itu lalu mengumpulkannya hingga menjadi bunga yang banyak, sehingga aku tiba di di taman. Gelap tidak ada seorang pun disana, tapi kenapa bunga itu mengarahkannya disini.
Dor... Dor...
Sesuatu meletus di atas langit lalu terlihat tulisan happy anniversary ke 3 tahun dan lampu taman pun mulai menyala satu persatu, aku tersenyum melihat semua begitu indah. Kerlap kerlip di malam hari membuat suasana semakin indah.
"Happy anniversary yang ke 3 tahun, Sayang,"
Aku mendengar suara mas Rahman, aku membalikkan badan ternyata ia ada di belakang ku.
__ADS_1
"Mas Rahman apa semua ini?" tanyaku takjub melihat semua, tulisan happy anniversary yang begitu indah.
"Semua ini untukmu, untuk istriku tercinta," kata Mas Rahman bangun dari kursi mencium keningku, aku memeluknya erat. Aku merasa bahagia malam ini, ia merasa menjadi istri yang sempurna.
"Kita duduk saja disana," kata mas Rahman menunjukkan dua kursi disana sudah tertata rapi, dan kue unniversary yang sudah tertata rapi di atas meja.
Entah kapan semua ini di buat, aku tidak tahu. Apa semua ini ibu dan mbak Siti yang mengerjakannya, dari siang kan ibu bermain di taman.
"Tapi mas disini cukup dingin, tidak baik untuk kamu sebaiknya kita kembali ke kamar," kata ku mendorong kursi roda mas Rahman.
"Tidak apa-apa, mas kuat kok lagian tadi juga sudah minta izin sama dokter," kata Mas Rahman, aku menatap ke arahnya lalu mengangguk membawanya pada tempat yang sudah di sediakan.
Bulan dan bintang cukup terang, mungkin mereka ikut menyaksikan kebahagiaan kami. Aku harap malam ini bukanlah malam terakhir untuk kami terus bersama.
Suara tepuk tangan terdengar nyaring, akue melihat ke arah kanan ternyata disana sudah ada ibu, Rania dan mbak Siti, aku menjadi malu di buat mereka.
"Ibu doakan semoga kalian selalu bersama," kata ibu mencium pipiku, aku pun memeluknha karena sangat bahagia.
"Makasih Bu, sudah bersusah payah untuk semua ini!" Kata ku mengucap terima kasih.
__ADS_1
"Semua ini atas permintaan Rahman, jadi yang bekerja bukan ibu tapi dia," kata ibu menunjukkan laki-laki tinggi tersenyum ke arah kami.
"Dion, kamu juga ikut mengerjai mbak," kataku. Ia hanya terkekeh geli sementara mas Rahman hanya diam menatap ke arah kami.
"Ayo, sekarang kalian potong kuenya," kata ibu memberikan pisau untuk memotong kue pada ku dan kami memotong bersama-sama. Setelah itu, aku menyuapi kue tersebut untuk mas Rahman.
"Mas punya sesuatu untuk kamu,"
"Apa?"
"Tutup mata dulu, dong?" kata mas Rahman.
Aku pun menutup mata dengan kedua tanganku, aku hanya bisa tersenyum tanpa harus berkata apa-apa lagi.
"Sekarang boleh di buka," kata mas Rahman.
Aku membuka mata dan melihat sesuatu yang begitu indah di depan mataku.
"Mas, ini bagus banget?"
__ADS_1
****
Bisa di tebak kira-kira apa yang di berikan Rahman pada Ratih