
"Mikky...!" Teriak Silvi di saat dia di ganggu beberapa orang laki-laki.
Bugh...bugh....
Fadli melayangkan bogem mentah pada seorang laki-laki di antara mereka bertiga, lelaki tersebut terhuyung ke belakang.
"Pergi kalian atau aku akan membuat kalian tidak bisa lagi untuk berjalan," kata Fadli kembali menyerang dua orang laki-laki yang ingin melayangkan tinju ke arahnya.
"Baik, kami akan pergi? Lepaskan," kata lelaki tersebut. Fadli melepaskan mereka sedangkan Silvi merasa ketakutan.
"Sudah, mereka gak ganggu kamu lagi! Maafkan aku karena meninggalkan kamu tadi," kata Fadli memeluk Silvi, ia hanya diam tidak ada kata yang dia ucapkan.
Fadli membawa Ratih menuju taman, di bawah remangan lampu Fadli bisa melihat wajah Silvi yang masih syok. Ia bisa melihat kekhawatiran di wajah Silvi.
"Ayo, diminum dulu?" Kata Fadli memberikan minuman.
"Oh ya, tadi aku mendengar kamu berteriak Mikky, siapa dia? Apa dia kekasih kamu," tanya Fadli pura-pura tidak tahu.
"Dia teman aku waktu sekolah dulu, kami sering kali bertengkar di sekolah. Ada saja tingkahnya yang membuat aku kesal sehingga teman-teman satu kelas menamai kami Mikky Mouse," Senyum terbit dari bibir Silvi, sejenak ia lupa dengan kejadian yang menimpanya.
"Apa kamu sudah bertemu kembali dengannya?" Tanya Fadli.
"Tidak, bahkan aku tidak tahu dia ada dimana sekarang?" Kata Silvi.
"Bagaimana kalau dia berada di depan mu saat ini?" Tanya Fadli.
Silvi menatap Fadli, ia bingung dengan perkataan Fadli.
"Maksud kamu apa? Kamu ingin mengatakan kalau kamu adalah Mikky begitu?" Kata Silvi menatap mata yang begitu indah.
"Jika benar aku Mikky, memangnya kenapa?" Kata Fadli berusaha untuk mengatakan kalau dia adalah Mikky, teman yang selalu membuat dia marah dulu.
"Aku tidak percaya...?"
"Kenapa?" Tanya Fadli lagi.
"Apa buktinya jika kau adalah Mikky," kata Silvi menatap ke arah Fadli, ia ingin melihat bagaimana Fadli menyakinkan dirinya kalau dia adalah Mikky.
"Kamu ingat, dulu Mikky pernah memberikan sepasang liontin. Sebelah untuk kamu dan untuk ku," kata Fadli mengambil kalung berliontin Love dan di belakang dengan nama S.
Mata Silvi membulat, ia bahkan tidak ingat jika Fadli masih menyimpan kalung itu sedangkan dia tidak tahu kemana kalung yang di taruh dalam kotak.
__ADS_1
"Apa kamu masih menyimpan kalung ini?" Kata Fadli berjalan ke arah Silvi, tidak ada lagi jarak di antara mereka berdua.
Fadli membuka ikatan kalung tersebut lalu memasangnya di leher Silvi, tubuh Silvi menegang kala tangan Fadli tak sengaja menyentuh tekuk Silvi.
"Apa kamu masih meragukan aku kalau aku Mikky," tanya Fadli.
Silvi diam seribu bahasa, dia tidak bisa mengatakan apa-apa. Otaknya berputar pada kejadian 7 tahun yang lalu.
"Kenapa kau masih mencari ku!" Tanya Silvi.
Fadli tersenyum lalu menangkap kedua telapak tangannya di pipi Silvi.
"Karena aku mencintaimu, dulu kita pernah berjanji untuk tetap menyimpan kalung ini. Sekarang dimana kalung itu," kata Fadli.
Lagi-lagi Silvi lupa dengan janji-janji mereka waktu sekolah, bahkan kalung pemberian Fadli dulu ia bahkan tidak tahu ada dimana.
"Kalung itu ada dirumah, besok aku akan mengembalikan padamu," kata Silvi.
"Jangan pernah katakan untuk mengembalikannya karena aku tidak ingin mengatakan itu," kata Fadli meletakkan jari telunjuknya di bibir Silvi yang ranum membuat gairah lelaki Fadli terbangun.
"Lalu untuk apa?"
Cup...
Plak ...
Silvi melayangkan tamparan di pipi Fadli karena Fadli tak sengaja mencium bibirnya, resflek tangan itu terangkat dan mendarat di pipi Fadli. Sakit tentu tapi wajar karena dia sudah kurang hajar pada Silvi.
"Maaf, aku khilaf? Aku terlalu buru-buru," kata Fadli menyesal.
"Antarkan aku pulang sekarang," pinta Silvi menunduk.
"Tapi sebelumnya kita cari makan dulu, please," pinta Fadli.
"Baiklah tapi hanya sebentar," kata Silvi.
"Oke, kita cari makan dekat sini saja?" Kata Fadli. Fadli menggenggam tangan Silvi tapi ia mencoba untuk melepaskannya tapi tidak bisa, Fadli terlalu erat menggenggam tangan Silvi.
"Biarkan seperti ini! Kita sudah lama tidak bertemu," kata Fadli.
Lagi-lagi Silvi hanya diam, ia masuk ke mobil lalu menatap ke arah jendela mobil. Ia merasa malu untuk menoleh ke arah Fadli karena menciumnya tadi.
__ADS_1
*** ***
"Sayang, kok kamu gak bilang kalau dokter Fadli kenal sama Silvi," kata mas Rahman.
Aku yang sedang bersandar di tempat tidur menatap ke arah mas Rahman yang berada di samping ku.
" Aku juga baru tahu, lagian Silvi gak pernah cerita sama aku," kata ku pada mas Rahman yang sedang memainkan ponselnya sambil berbaring.
Mas Rahman meletakkan ponsel lalu bangun dan bersandar di tempat tidur, ia mengambil tanganku dan menggenggamnya.
"Semoga Dokter Fadli bisa menjadi teman hidup untuk Silvi, Mas takut kalau Dokter Fadli tahu kalau Silvi tidak perawan lagi," kata Mas Rahman.
Ternyata ketakutan aku sama dengan yang Mas Rahman takutkan, Aku takut Silvi kembali kecewa atau merasa hina karena dirinya sudah tidak perawan lagi. Setelah sembuh dari trauma itu, ia bisa melewati kehidupan ini baik-baik saja.
"Kita hanya bisa berdoa kalau Dokter Fadli mau menerima Silvi dengan segala kekurangan, setiap manusia pasti punya kesalahan," Kataku mencoba menguatkan Mas Rahman.
"Kamu benar sayang, semoga suatu saat Silvi bisa kuat jika kemungkinan apa yang kita pikirkan itu terjadi," kata Mas Rahman, aku hanya mengangguk lalu merebahkan tubuh untuk istirahat, tadi siang pekerjaan aku cukup banyak sehingga membuat aku terasa sangat lelah.
Tit...Tit...
Suara klakson mobil terdengar jelas di saat malam mulai senyap, aku bangun lalu berjalan ke balkon kamar ternyata Silvi yang pulang. Aku kembali ke ranjang terlihat mas Rahman sudah terlelap dengan ponsel masih ada di tangannya.
Ting...
Pesan masuk ke ponsel mas Rahman, aku lihat jam mengarah pukul 10:0 malam tapi siapa yang mengirim pesan Jak segini.
Aku membuka ponsel mas Rahman yang tidak di kunci lalu membuka membuka aplikasi hijau.
[ Apa kabar Mas ]
[ Bagaimana kabar mu sekarang, kapan kita bisa bertemu ]
pesan beruntun itu kembali datang, tidak ada kontak nama tertera disini. Siapa wanita ini, apa Mas Rahman menyembunyikan sesuatu dariku.
Ah, besok akan ku tanyakan padanya, jika dia tidak mengakuinya akan aku buat dia menyesal seumur hidupnya.
Aku meletakkan ponsel mas Rahman di dalam laci samping tempat tidur dan Aku silent kan Ponselnya agar ada yang menelepon tidak terdengar, bisa saja nanti dia mencari ponselnya dan menghapus pesan itu.
Jika pun dia berkhianat maka akan aku buat dia kehilangan aku dan Rania. Namun, aku berharap kamu tidak menyakitiku lagi Mas.
Untuk sementara hanya bisa segini dulu soalnya mau ikut crazy up ya reader,
__ADS_1