
Happy reading ❤️
"Silvi, kamu kenapa?" tanya aku di sela-sela makan, Silvi menoleh ke arah ku lalu ibu. Dia kembali murung, tidak biasanya dia berdiam diri seperti ini.
"Tidak apa-apa, Mbak? aku ke kamar dulu mau istirahat," ujar Silvi meninggalkan kami semua di meja makan, aku hanya diam. Perasaan aku tidak enak, kami saling menatap satu sama lain.
Tidak ada yang tahu kenapa dia seperti itu kecuali dirinya sendiri, Selesai makan aku berjalan ke kamar Silvi.
"Boleh Mbak masuk?" tanya ku berdiri di depan pintu kamarnya. Silvi hanya mengangguk lalu menggeserkan tubuhnya sedikit.
"Kamu kenapa? apa ada masalah," tanya ku menggenggam tangan Silvi, berharap dia tidak menutupi sesuatu dari kami yang akan merugikan dirinya sendiri.
Hening, tidak ada kata yang keluar dari bibir Silvi. Apa semua ini ada hubungannya dengan Fadli.
"Tidak ada, Mbak," kata Silvi mengalihkan pandangannya ke arah jendela.
"Benarkah, apa semua ini karena Fadli,"
Aku mencoba menerka-nerka pikiran Silvi, hanya Fadli yang dekat dengan Silvi sekarang. Mungkin saja ada masalah di antara mereka berdua.
"Tidak, semua ini tidak menyangkut dengannya Mbak," kata Silvi.
"Benarkah, kalau begitu kamu istirahat saja," kata ku beranjak dari tempat tidur.
"Tunggu, Mbak? bolehkah aku meminta sesuatu?" tanya Silvi.
"Boleh, apa?" tanya ku balik.
"Kalau Fadli datang kesini, tolong bilang kalau aku tidak ada disini," kata Silvi.
"Iya, apa kalian berdua punya masalah!"
"Tidak ada, Mbak,"
"Ya sudah, mbak keluar dulu," kata ku membuka pintu lalu kembali menutupinya.
Aku berjalan menaiki tangga satu persatu, aku terus memikirkan tentang Silvi. Pasti sudah terjadi sesuatu dengannya, sebaiknya besok aku bertemu saja dengan Fadli dan menanyakan semuanya.
"Kamu belum tidur, Mas?" tanya ku melihat Mas Rahman masih memainkan game di ponselnya.
"Belum sayang, bagaimana?" tanya Mas Rahman meletakkan ponselnya di atas nakas di samping tempat tidur.
"Aku rasa semua ini ada hubungannya sama dokter Fadli deh Mas?" kata ku.
"Maksud mu gimana, sayang?"
__ADS_1
"Tadi sebelum aku keluar, Silvi hanya menyampaikan jika Fadli datang ke rumah jangan katakan kalau dia di rumah. Mungkinkah di antara mereka ada masalah,"
Mas Rahman hanya diam lalu kembali mengambil ponsel.
"Apa kita bisa bertemu besok," Mas Rahman berbicara dengan seseorang di telepon.
"Baiklah, besok aku share lokasinya," Mas Rahman kembali berbicara, aku tidak bisa mendengar apa yang tersebut katakan.
"Siapa, Mas?" tanya ku penasaran.
"Dokter Fadli, besok kita akan bertemu dengannya waktu jam makan siang," kata Mas Rahman, aku hanya mengangguk lalu menaiki ranjang empuk dengan ukuran Size.
*** ***
Satu Minggu sudah berlalu, Silvi masih mengurung diri di dalam kamarnya. Setiap kali dokter Fadli datang, ia tidak mau keluar walau hanya sekedar untuk berbicara sebentar dan hari ini Fadli kembali untuk bertemu dengan Silvi.
"Silvi, dokter Fadli ada diluar? temui dia sebentar," kata ku mencoba untuk membujuknya.
"Iya sayang, sampai kapan kamu akan seperti ini. katakan sebenarnya padanya, jika dia benar-benar mencintai dirimu tentu dia akan menerima setiap kekurangan Yang ada pada dirimu." kata ibu.
Silvi hanya diam, ia menoleh ke arah ku dan ibu.
"Baiklah, aku akan bertemu dengannya," kaya Silvi.
"Ehemm..."
"Dok, aku tinggal sebentar ya?" kata Mas Rahman setelah melihat Silvi ada di hadapannya.
Dokter Fadli hanya mengangguk lalu menatap Silvi dengan dalam.
"Duduklah, bagaimana kabarmu," kata dokter Fadli basa-basi.
"Baik, ada apa kesini?" tanya Silvi basa-basi.
"Bisakah kita bicara di luar saja, ada banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu," kata Fadli.
"Baiklah, aku ganti baju dulu?" kata Silvi, Fadli hanya mengangguk. Setidaknya Silvi mau jalan berdua dengannya.
Tak lama kemudian, Silvi keluar dengan baju yang sudah rapi. Rambutnya di biarkan tergerai begitu saja.
"Ayo, kita berangkat," kata Fadli.
Silvi hanya mengangguk, tak banyak kata yang terucap. Dia hanya diam membisu, tidak ada senyuman di bibirnya.
Akhirnya mereka sampai di danau, Fadli menggelar tikar di bawah pohon yang sangat rimbun. Silvi berdiri di tepi danau lalu merentangkan kedua tangannya.
__ADS_1
"Apa kau suka?" tanya Fadli berjalan mendekatinya.
"Iya, aku suka tempat begini," kata Silvi.
"Boleh aku katakan sesuatu?" tanya Fadli. mereka sama-sama menatap danau, keduanya terlihat canggung karena sudah seminggu mereka tidak saling berbicara.
"Apa ..?" kata Silvi.
"Izinkan aku menjadi suamimu!" kata Fadli mantap.
Silvi menatap Fadli, lalu menatap lekat wajah Fadli, ia berjalan ke arah bangku kosong yang ada di tepi danau. Fadli mengikuti langkah kaki Silvi berdiri tidak jauh dari bangku yang di duduki Silvi.
"Aku tidak bisa, aku tidak pantas untuk mu," kata Silvi menarik nafas agar udara bisa masuk ke rongga dadanya.
"Kasih aku alasan yang tepat agar aku bisa meninggalkan kamu," tantang Fadli memandang danau yang begitu biru.
"Aku tidak suci lagi, aku di nodai oleh lelaki yang tidak bertanggung jawab," kata Silvi menatap ke depan, air matanya mulai mengembun. Fadli yang tahu Silvi menangis langsung membingkai wajahnya.
"Tatap aku, apa kamu pikir aku menikahi mu hanya untuk mencicipi keperawanan mu, apakah aku seburuk itu?" tanya Fadli, Silvi bingung dengan perkataan Fadli.
"Maksud kamu apa?" tanya Silvi yang belum mengerti dengan perkataan Fadli.
"Aku tidak peduli kamu masih perawan atau tidak, aku hanya ingin bersamamu sampai kita menua. Semua orang punya masa lalu termasuk aku, bisa kamu melupakan masa lalu mu dan hidup bersamaku selamanya?"
Kata-kata Fadli membuat air mata Silvi jatuh membasahi pipinya, ia tidak menyangka jika cinta Fadli begitu besar padanya. Dia pikir setelah mengatakan semuanya, Fadli akan meninggalkannya.
"Lupakan orang-orang yang pernah menyakiti mu, kini ada aku yang selalu akan membuat kamu bahagia. Mau kah kamu menikah dengan ku?" tanya Fadli sekali lagi, Silvi hanya bisa mengangguk.
Lidahnya kelu, ia tidak menyangka jika Fadli akan bisa menerima masa lalunya dan dirinya yang tidak suci lagi.
"Berhentilah menangis, terimakasih sayang?" kata Fadli memeluk Silvi.
"Karena kamu sudah menerima cintaku, aku akan melamar kamu pada ibumu," kata Fadli duduk di kursi, Silvi menghapus jejak air matanya.
"Boleh aku tanya sesuatu?"
"Apa, tanyakan saja?"
"Kok kamu biasa saja saat aku bilang kalau aku..," Silvi menggantungkan ucapannya.
"Ratih dan Rahman sudah memberitahu aku segalanya tentang kamu, awalnya aku syok dan tidak bisa menerima tapi cintaku untuk mu terlalu kuat, itu semua bukan salah kamu. Setiap manusia punya masa lalu termasuk juga diriku jadi mulai sekarang jangan pernah bahas masalah ini lagi," kata Fadli panjang lebar, Silvi hanya mengangguk lalu tersenyum menyandarkan kepalanya di pundak Fadli.
"Fadli...!" Seseorang memanggil Fadli dari arah samping membuat Fadli menoleh ke arahnya.
"Tania...?"
__ADS_1