
...Happy reading 🍁...
"Rumah sakit ibunda, inikan rumah sakit tempat Fadli bekerja," kata ku pada Anggara.
"Sepertinya Rahman memang ada disana, sebaiknya kita ke sana langsung" kata Anggara,
Aku hanya mengangguk lalu kembali memasukkan ponsel ke dalam tas.
"Tapi pagi aku menghubungi dia semalam tidak ada pasien yang bernama Rahman atau mirip dengan Rahman," kataku menghentikan langkah kakiku kala teringat dengan ucapan Fadli tadi pagi.
"Apa kamu yakin jika Rahman memang tidak ada disana?" tanya Anggara pada ku, tidak ada kata yang bisa keluar dari bibirku.
"Sebaiknya kita tanyakan langsung pada perawatnya nanti, apapun hasilnya nanti kamu harus sabar," Angga menyemangati aku.
"Baiklah, ayo pergi?" kataku.
Kami berangkat bersama-sama ke rumah sakit, berharap ada keajaiban mempertemukan aku dan mas Rahman.
*****
Pagi-pagi sekali, Bu Sekar sudah berangkat ke penjara untuk menjenguk Riko, ia berjalan tergesa-gesa dengan jantung berdegup kencang.
"Bagaimana Bu, apa rencana ibu berhasil?" tanya Riko saat Bu Sekar sampai di kantor polisi.
"Semalam Rahman mengalami kecelakaan dan ibu berhasil menculiknya tapi ia kembali berhasil kabur setelah orang-orang suruhan kamu menyiram wajahnya dengan air keras," kata Bu Sekar menatap ke arah Riko.
"Apa, Bu. Berhasil kabur!" kata Riko membulatkan matanya.
"Kenapa ibu ceroboh sekali, kalau dia masih hidup maka tamatlah riwayat ibu," kata Riko merasa takut kalau namanya ikut terbawa jika suatu saat Rahman masih hidup.
"Apa ibu sudah mencoba mencarinya?" tanya Riko lagi.
"Sudah, tapi tidak juga di temukan bahkan ibu saja kehilangan jejaknya," kata ibu Sekar menyesal dengan kecerobohannya, jika ia tidak kembali ke tempat kejadian itu pasti Rahman tidak lolos darinya.
__ADS_1
"Sudah, ibu tidak perlu takut! Sekalipun ia hidup pasti Ratih juga tidak mengenalinya karena wajahnya yang rusak," kata Riko tersenyum, dendamnya terbalaskan hingga membuat Ratih tersiksa seperti ini.
Setelah waktu kunjungan habis, Bu Sekar kembali pulang menaiki ojek dan pulang ke rumah, untuk saat ini dia merasa aman karena tidak ada orang tahu tentang kejahatannya.
****
Aku dan Anggara sampai di rumah sakit, lalu berjalan ke repsionis rumah sakit.
"Mbak, saya mau tanya? apa ada pasien yang di bawa kesini semalam atas kasus kecelakaan," tanya ku.
Rasanya jantung ku di pompa sangat cepat, takut-takut kalau itu bukanlah Mas Rahman.
"Ada Mbak atas nama Afnan," kata perawat tersebut.
"Apa, Afnan tapi nama suami saya bukan Afnan tapi Rahman," kata ku lagi.
"Coba di cari lagi mbak, mungkin ada ," timpal Anggara berdiri di sampingku. Aku hanya mengangguk lalu menatap sendu ke arah perawat.
"Maaf, Bu! memang tidak ada yang namanya Rahman yang terdaftar di rumah sakit ini," kata perawat itu lagi.
"Bagaimana, apa kita akan tetap disini?" Tanya Anggara padaku, sesaat aku terdiam.
"Kita pulang saja?" Kata ku pada Anggara, kami berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Tiba-tiba, seseorang menabrak ku dari depan.
"Maaf, mbak saya tidak sengaja?" Kata seseorang gadis perawan yang menabrak aku.
"Tidak apa-apa, saya saja yang jalannya tidak hati-hati," kataku tersenyum.
"Terimakasih, Mbak. Kalau begitu saya pergi dulu," kata perempuan cantik itu, umurnya berkisar 25 tahun.
"Iya, silakan," kata ku, kami pun berjalan ke arah parkiran rumah sakit lalu pulang. Hari ini kepalaku sakit sekali, ingin rasanya aku beristirahat sebentar.
Sampai dirumah hari sudah menjelang sore, aku turun dengan di antara Anggara terlihat ibu dan SIlvi duduk di ruang keluarga bersama putriku Rania. Hatiku miris saat melihat putriku harus kehilangannya ayahnya di saat di masih kecil, di saat ia masih ingin di pangku oleh seorang ayah.
__ADS_1
Air mataku meleleh kembali, semua kenangan bersama mas Rahman seakan berputar kembali. Ingin rasanya aku berteriak memohon agar mas Rahman kembali tapi aku bisa apa? Semua sudah menjadi takdir bagiku.
"Ratih, kami dari mana saja?" Tanya ibu berjalan ke arahku. Aku menghapus air mata ini, aku tidak boleh terlihat lemah di depannya. Jika aku lemah lalu bagaimana dengan beliau.
"Aku habis mencari keberadaan mas Rahman, Bu? Tapi sampai saat ini tidak ada yang tahu di mana mas Rahman," ujar ku duduk di samping ibu.
"Silvi, tolong ambilkan air untuk mbak Mu," kata ibu menyuruh Silvi, ia hanya mengangguk meninggalkan Rania yang sedang bermain di depan tv dengan alat-alat masakannya.
Silvi kembali dengan membawa segelas air untukku, aku meneguknya hingga habis setengah meminumnya. Lalu menyandarkan kepala ku di pundak ibu, saat ini aku hanya butuh sandaran untuk bisa melewati semua ini.
*** ***
Amelia baru saja kembali ke rumah sakit, ia ikut merasa iba yang dia temukan tergeletak di pinggir jalan dengan wajah melepuh saat itu. Dia duduk sambil membuka bungkusan nasi yang dia beli di kantin rumah sakit.
Seorang dokter datang dengan satu orang perawat bersamanya, ia memeriksa pasien yang masih tak sadar diri dengan alat-alat medis di tubuhnya.
"Apa kalian keluarga pasien?" tanya dokter tersebut.
"Iya, bagaimana dengan keadaan anak saya dok," Lidya terpaksa harus mengakui putranya karena ingin menyelamatkan nyawa seseorang.
"Luka akibat air keras membuat wajah putra ibu melepuh dan rusak, hanya ada satu cara untuk mengembalikan wajah putra ibu seperti semula," kata dokter setelah memeriksa pasien yang wajahnya di perban.
"Dengan cara apa, Dok?" tanya Bu Lidya.
"Operasi plastik, hanya itu salah satunya cara untuk membuat wajah anak ibu kembali seperti semula," kata dokter tersebut membuat Lidya dan Amelia menganga, ia tidak menyangka jika wajah lelaki tersebut akan separah itu.
"Lakukan saja, Dok? Terpenting wajahnya kembali seperti semula," kata Bu Lidya menatap putrinya, Amelia merasa bingung dengan ucapan Mamanya.
"Untuk melakukan operasi plastik, tidak bisa di lakukan di rumah sakit ini. Bu Lidya bisa membawa putra ibu ke Singapura untuk melakukan operasi plastik dan di sana sudah ada Dokter profesional yang akan menangani anak ibu kalau ibu setuju, saya akan mengurus semua," kata dokter menjelaskan.
Bu Lidya menghembuskan nafas dengan kasar, ia harus mengeluarkan uang untuk menolong orang yang sama sekali tidak ia kenal.
"Berikan saya waktu untuk membicarakan semua ini dengan suami saya Dok, dan setelah itu baru kami akan memberitahukan dokter," kata Bu Lidya, dokter tersebut hanya mengangguk lalu pergi meninggalkan kamar yang besar itu.
__ADS_1
"Mama, apa-apaan sih! Langsung menyuruh dokter melakukan operasi pada lelaki tersebut, kita tidak kenal dengannya Ma?" Kata Amelia, lagi dan lagi dia menentang apa yang ingin di lakukan oleh orang tuanya, dia hanya takut kalau mereka salah dalam menolong orang.