
"Bapak mau kemana?"
"Ke rumah kamu...,"
"Apa, ngapain bapak kerumah saya! Saya itu mau pulang pak bukan jalan-jalan," kata Stefani membulatkan bola matanya di depan wajahnya Anggara, ia begitu gemas melihat bola mata indah itu.
"Saya tahu kalau kamu mau pulang bukan jalan-jalan, saya yang akan mengantarkan kamu dan saya tidak suka penolakan," kata Anggara.
Entah kenapa, ia takut melepaskan Stefani pulang sendirian ke rumah orang tuanya, Ia takut jika ada orang yang akan mencelakainya.
Stefani medengus kesal karena ia tidak bisa pulang sendirian, artinya ia tidak bisa berlama-lama di kampung halamannya sendiri.
"Bapak tidak usah mengantarka aku, aku bisa kok pulang sendirian," kata Stefani tetap kekeh melarang Anggara untuk mengantarnya.
Anggara menghentikan langkahnya lalu membuka kaca mata hitam menatap ke arah Stefani yang berada di sampingnya, Stefani mengalihkan pandangan ke arah lain untuk menghindari mata elang Anggara.
"Apa yang bapak lakukan, turunkan saya Pak?" teriak Stefani tersadar melihat tubuhnya di angkat oleh Anggara, Stefani terus berteriak memukuli dada bidang Anggara tapi Anggara terus membawa ke mobil.
Bu Sonya melihat mereka dari lantai atas hanya tersenyum dan menggeleng kepala, Bu Sonya senang melihat kedekatan stefani dan putranya, ia berharap Stefani bisa mengubah sikap dinginnya mencair.
__ADS_1
"Bapak turun saya, malu di lihat sama pak Samsul,"
Akhirnya Anggara menurunkan Stefani tepat di depan mobilnya, ia kembali memakai kacamata miliknya yang selalu ia bawa kemana-mana.
"Ternyata kamu berat ya?" Kata Anggara.
Stefani merasa dirinya di hina, melotot ke arah Anggara dan akan membalasnya nanti sampai di kampungnya, sekarang ia akan pulang dengan mobil Anggara.
"Tunggu pembalasan aku, pak!" Kata Stefani berniat untuk mengerjainya.
"Masuk atau tetap mau berdiri disitu," kata Anggara menurunkan kaca mobilnya, Stefani membuka pintu mobil lalu masuk duduk samping Anggara dengan wajah cemberut.
Di tengah perjalanan, Anggara bertanya pada Stefani kemana ia akan pulang karena ia tidak tahu dimana rumah orang tua Stefani.
"Di Bandung!"
"Apa, kenapa kamu tidak bilang!"
"Kan bapak tidak nanya? bapak sih nyolonong minta ikut," kata Stefani mencibirkan mulutnya.
__ADS_1
Anggara terlihat kesal pasalnya ia tidak membawa baju ganti sesampai disana, ia hanya terus menyetir. Perjalanan masih panjang, dua jam lagi baru sampai ke Bandung belum lagi masuk pelosok desa butuh waktu yang panjang.
"Memangnya ibumu sakit apa?"
Anggara terus menyetir karena tidak mendapat jawaban dari Stefani, ia menoleh melihat Stefani tidur di mobil lalu ia kembali fokus menyetir mobil miliknya.
🌷🌷🌷
Dua jam perjalanan, kami baru sampai di kota Bandung tapi untuk sampai di tempat liburan kami butuh waktu dua jam lagi. Perutku mulai minta diisi, Silvi sudah bangun di belakang kami.
"Mas, Aku lapar kita cari makan dulu," kata ku.
Mas Rahman hanya mengangguk lalu mencari warung untuk makan siang, Silvi dari tadi hanya tersenyum melihat suasana kota Bandung.
Kami mampir di warung makan Ampera Bandung, kami turun untuk mengisi perut yang sudah minta di isi. Disini banyak makanan yang kita pesan, ada ayam goreng, ayam bakar dan lain-lain, tidak mungkin aku mengatakannya satu persatu.
Tak lama kemudian, makanan yang kami pesan sudah datang, aku duduk di samping mas Rahman dan Silvi duduk di samping.
"Mbak, makanan disini enak ya?" tanya Silvi mengambil ayam goreng.
__ADS_1
"iya, kamu makan sekarang nanti kita akan menempuh perjalanan lagi,"
Kami makan dalam diam, makanan disini sangat gurih. Baru pertama kali aku datang kesini, mungkin selama ini memang mas Rahman tidak pernah mengajak kami sekeluarga untuk liburan.