
...Happy reading 🍁...
"Siapa penjahat....," Timpal pak pak Brata yang berdiri tepat di depan pintu kamar membuat mereka kaget.
"Papa, apaan sih! hampir saja jantung Mama dan Amelia copot," kata Amelia tak ingin beranjak dari sofa empuk di ruangan tersebut.
Pak Brata melangkahkan kakinya ke arah mereka lalu duduk di samping putri tercintanya.
"Habis papa lihat kalian serius amat, memangnya ada apa?" tanya pak Brata pada istrinya, Bu Lidya menghela napas dengan teratur lalu menatap suaminya.
"Bukan apa-apa, Mas? oh ya, besok kita akan berangkat ke Singapura untuk melakukan operasi plastik pada Afnan," Bu Lidya mengarahkan pandangannya pada Rahman yang tak sadarkan diri.
Pak Brata memicingkan mata menatap istrinya.
"Apa mama yakin kalau mama akan memberikan wajah anak kita untuknya lalu bagaimana kalau suatu ia sadar dan melihat wajahnya sudah berubah," Ujar pak Brata merasa keberatan dengan keinginan istrinya memberikan wajah putranya yang sudah tiada pada orang lain.
Ya, pak Brata memiliki satu putra lagi kakak dari Amelia bernama Afnan tapi sayangnya, Afnan meninggal karena kecelakaan 3 bulan yang lalu sehingga Bu Lidya berkeinginan anaknya tetap hidup walaupun dalam diri orang lain.
"Bukankah kita sudah membahas ini sebelumnya, Pa! Mama tahu dia bukan putra kita tapi mama ingin bisa masih menatap wajah Afnan walaupun dalam diri orang lain," kata Bu Lidya dengan air yang sudah mengembun di pelupuk mata. Pak Brata menghembuskan nafas dengan gusar lalu berjalan ke arah Bu Lidya sedangkan Amelia keluar untuk membeli makan siang.
__ADS_1
"Ya sudah, terserah sama kamu saja kalau begitu," kata pak Brata.
Walaupun merasa keberatan tapi ia tidak bisa menolak jika istrinya menginginkannya. Dulu waktu Afnan meninggal Bu Lidya sempat depresi sehingga butuh penanganan dokter makanya pak Brata tidak ingin hal itu kembali datang.
"Sekarang kita pulang saja biar nanti aku minta suster buat jagain dia disini?" kata Bu Lidya mengambil tas yang tergeletak di atas meja sedangkan Amelia sudah duluan pulang sendiri.
**** ***
Aku membersihkan tubuh setelah sampai di rumah, sedangkan Fadli kembali pulang ke apartemennya. Pikiran aku sedikit tenang karena sudah menemukan bukti untuk menyelidiki kasus yang menimpa mas Rahman,
Kini aku berada di dalam kamar yang penuh dengan kenangan ini, aku mengambil foto yang terletak di atas nakas di samping tempat tidur.
Entah kenapa, takdir seakan suka sekali mempermainkan hatiku. Dulu mas Rahman juga pergi meninggalkan aku meskipun akhirnya aku kembali tapi tidak kali ini Mas Rahman benar-benar pergi dariku.
Dia benar-benar telah pergi?
Aku terus menatap foto mas Rahman, semua rasa bercampur aduk. Kini aku sendirian tanpa kamu mas.
****
__ADS_1
Di apartemen Fadli.
"Tania, ngapain kamu kesini?" tanya Fadli di saat ia melihat Tania berdiri di depan pintu apartemennya.
"Fadli...!" Tania langsung memeluk Fadli yang berada di depannya.
"Lepaskan aku, Tania?" Bentak Fadli mencoba melepaskan pelukannya pada Fadli, ia hanya tidak ingin ada orang yang melihat mereka.
"Tidak, biarkan seperti ini sebentar saja?" kata Tania memeluk lebih erat tubuh Fadli lalu tersenyum licik pada seseorang yang sedang memotretnya.
"Lepas atau aku akan mendorongmu lebih keras," Ancam Fadli kesal dengan sikap Tania bermanja-manja padanya.
"Fadli, kenapa kamu membenciku padahal kita sudah kenal sejak lama," kata Tania pura-pura bersedih agar mendapatkan simpati dari Fadli, lelaki yang sangat dia cintai.
"Karena di antara kita tidak ada hubungan apa-apa lagi dan pergi dari sini sekarang juga," bentak Fadli dengan mata memerah.
"Tenanglah sayang, setelah kita akan bersama - sama," Tania mengelus pipi Fadli.
.
__ADS_1
"Maksud kamu apa?"