
"Ada apa denganku, kenapa aku menciumnya," bisik hati Anggara, ia mondar mandir di dalam kamar.
Anggara terus berpikir keras tentang apa yang di lakukan barusan, setelah 3 tahun terus terkukung dalam cinta masa lalu baru kali ia tidak menjaga batasan dengan perempuan. Anggara menyugar rambutnya dengan kasar, ia berjalan ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.
Selesai mandi, Anggara menggantikan pakaiannya lalu menaiki tempat tidur dan merebahkan tubuhnya. Ia terus menatap langit kamarnya.
"Kenapa aku memikirkannya, apa aku jatuh cinta lagi setelah sekian lama aku menjaga perasaan ini pada Ratih," kata Anggara bergumam sendiri.
"Ah, mana mungkin atau cinta untuk Ratih mulai terhapus, aku begitu nyaman di saat menatap mata indah Stefani" batin Anggara. Ia terus berperang dengan perasaannya, ia tidak bisa terus dan terus memikirkan Stefani.
"Arghh.. kenapa aku jadi begini? Kata Anggara.
Dulu dia pernah merasakan seperti ini saat jatuh cinta kepada Ratih dan ia merasakan kembali hal yang sama pada Stefani, apa ini benar-benar cinta atau hanya sebuah rasa kasihan.
Karena tak ingin memikirkan terlalu jauh, Anggara turun untuk mengambil air minum dan perutnya yang keroncongan minta di isi.
Ia menuruni anak tangga satu persatu, ia berjalan menuju dapur dalam keadaaan remang-remang.
Terlihat seseorang sedang berjongkok di depan kulkas, entah apa yang di cari tentunya tanpa sepengetahuan pemilik rumah.
__ADS_1
"Kamu belum, tidur?"
Anggara menghidupkan lampu dapur dan terlihat Stefani sedang membuka kulkas.
"Pak Anggara belum tidur juga!"
Stefani berbalik bertanya pada Anggara membuatnya kesal.
"Kenapa kamu balik bertanya!"
"Lalu aku harus bagaimana? Kata Stefani mengambil air di dalam kulkas.
"Tolong buatkan aku mie," kata Anggara duduk di meja makan.
"Masak mie, jam segini yang benar saja pak. Bapak tidak lihat jam berapa sekarang!" Kata Stefani beruntun seperti rel kereta api.
Anggara tahu sudah larut malam tapi ia begitu lapar ingin memakan mie untuk mengganjal perutnya.
"Apa aku harus mengulangnya kembali, buatkam atau aku cium," kata Anggara datar.
__ADS_1
Stefani yang merasa dirinya terancam, beranjak mengambil mie dan memasaknya, jika tidak di turuti ciuman itu akan mendarat lagi di keningnya dan dia tidak ingin semua itu terjadi.
Selesai masak mie, Stefani menyajikannya di atas meja makan terlihat mie buatan Stefani menggugah selera.
Anggara mulai mengambil sendok makan lalu menyedok mie buatan Stefani masuk ke dalam mulutnya, rasanya begitu lezat. Terlihat Stefani menelan ludah melihat Anggara makan.
"Duduklah," perintah Anggara.
"Disini tapi saya mau..."
"Tidak ada bantahan, buka mulutmu," kata Anggara dengan mata melotot ke arah Stefani.
Kalau sudah begini Stefani hanya bisa menuruti permintaan Anggara tanpa bisa menolak.
Anggara memasukkan mie tadi ke dalam mulut Stefani, jantung Stefani berdegup kencang melihat perlakuan Anggara yang berbeda, dengan perasaan bingung Stefani mengunyahnya sementara Anggara tersenyum melihat Stefani kadang begitu polos.
Selesai makan, Anggara kembali ke kamar. Ia tersenyum membayangkan bola mata indah Stefani membulat karena dirinya. Ia berjalan ke arah tempat tidur lalu merebahkannya.
"Dasar gadis aneh?" gumam Anggara.
__ADS_1
Anggara menarik selimut lalu menutup seluruh tubuhnya karena sudah merasa kenyang dan terbuai dalam mimpi-mimpi indah.