
"Ibu..!"
Panggil mas Rahman saat melihat ibu, ia langsung memeluk wanita yang sudah melahirkannya. Sepertinya mas Rahman begitu rindu dengan momen seperti ini, aku hanya bisa melihat dua orang yang saling merindukan.
"Kamu siapa, kok manggil saya ibu?" tanya ibu meregangkan sedikit pelukan mas Rahman.
"Aku Rahman Bu, anak ibu!" seru mas Rahman dengan mata merah menahan tangis.
Hujan juga belum reda, mungkin ia ikut merasakan apa yang kami rasakan. Ibu menatap ke arahku mungkin meminta penjelasan kalau di depannya benar adalah mas Rahman.
"Benar, Bu. Dia mas Rahman, putra ibu," kata Ku tersenyum, terlihat ibu menangis dan langsung merangkul mas Rahman.
Aku ikut menangis melihat ibu menangis, kerinduan yang selama dia simpan kini dia lepas kembali, ternyata ibu benar kalau mas Rahman masih hidup dan kini mas Rahman kembali.
"Ya Allah Nak, akhirnya kamu kembali. Kamu masih hidup tapi kenapa wajah kamu berubah," kata ibu.
"Ceritanya panjang Bu," kata Mas Rahman lagi.
"Ya sudah, kalian masuk ke dalam dan ganti baju nanti kalian kedinginan lagi jika memakai baju basah," kata ibu mempersilahkan mas Rahman masuk, aku berjalan menaiki tangga untuk mengganti pakaian tapi langkah ku terhenti saat melihat mas Rahman.
__ADS_1
"Ada apa, kok melihat Mas begitu! apa kau...," Mas Rahman menaikkan kedua alisnya, menggodaku membuat aku jadi malu. Kini aku berjalan ke kamar untuk mengganti pakaian yang sudah basah.
Selesai menggantikan pakaian, aku melihat mas Rahman sudah berada di dalam kamar. Aku begitu canggung karena sudah tiga bulan aku tidak bertemu dengannya.
"Mandilah, akan aku siapkan baju ganti untuk Mas," kata ku, mas Rahman hanya mengangguk lalu berjalan ke kamar mandi sedangkan handuk memang sudah aku letakkan di kamar mandi.
Tak lama kemudian, mAs Rahman keluar dengan handuk melilit di tubuhnya. Aku memalingkan wajah karena malu menatap tubuh tanpa wajah itu.
"Ini pakaian mu, Mas! aku buatkan teh dulu," kata ku turun kebawah untuk membuat teh untuk mas Rahman.
Terlihat ibu sedang menyiapkan makanan kesukaan mas Rahman, beliau begitu bahagia setelah bertemu dengan Mas Rahman.
"Tidak Bu, aku mau buatkan teh untuk Mas Rahman," kata ku memasak air di atas kompor gas lalu mengambil teh yang ada di laci atas.
Tak butuh waktu lama agar air mendidih, aku langsung melarutkan air ke dalam gelas yang sudah berisi teh. Cuaca di luar sangat buruk, langit begitu mendung membuat orang-orang enggan lebih-lebih sesekali petir menyambar.
Selesai membuat teh, aku kembali ke kamar membawa teh untuk mas Rahman. Tidak ada kata yang bisa aku ucapkan selain tersenyum bahagia.
"Tehnya, Mas!" seru ku memberikan segelas teh untuknya, ia duduk di sofa di dalam kamar.
__ADS_1
"Terimakasih, sayang," kata Mas Rahman. Aku hanya mengangguk tanpa bicara apa-apa, lalu berjalan duduk di sampingnya.
"Ada apa, Mas!" tanya ku.
"Bukan apa-apa! oh ya, besok kamu ikut aku ya?" kata Mas Rahman.
"Kemana?" tanya ku lagi.
"Ke rumah pak Brata, aku ingin memperkenalkan kamu pada Mama," kata Rahman mas Rahman.
"Untuk apa! bukan Mas sudah kembali," kata ku lagi.
"Sayang, lihatlah! aku sekarang menjadi Afnan bukan Rahman, jadi aku harus memperkenalkan kamu pada Mama," kata Mas Rahman menelungkup wajahnya.
"Tapi...!!
Maaf ya, malam ini babnya sedikit dulu karena ada sesuatu yang tidak bisa di tinggal.
Mampir juha kee ceritaku.
__ADS_1
Suamiku Selingkuh