
"Bukan saya, pak?" Kata Sinta menegang kala melihat videonya yang sedang mencuri file yang ingin di serahkan pada pak Hermawan.
"Bukan kamu, apa kamu buta atau pura pura-pura buta," kata Anggara duduk di sofa Yang ada di dalam ruangannya.
Sinta semakin takut, ia takut kalau Anggara membawanya ke penjara dan selamat ia akan mendekam di penjara termasuk yang lainnya.
"Saya melakukan semua itu karena kamu,"
"Karena saya, apa salah saya pada kamu," kata Anggara menatap tajam ke arah Sinta.
"Karena aku mencintai kamu, apa kamu pernah mengerti tentang perasaanku. Semenjak kita kuliah, berteman dan selalu bersama aku mulai mencintaimu tapi kamu malah mencintai Ratih," kata Sinta.
Anggara diam dengan seribu bahasa, ia tahu kalau Sinta memang menyukai dirinya sejak masa kuliah, ia tidak menyangka jika itu akan menjadi bomerang untuk dirinya sendiri.
"Sinta, aku hanya menganggap kamu teman dan tidak lebih dari itu," kata ku.
"Perbuatan yang kamu lakukan itu salah, aku tahu kamu merencanakan semua ini bersama papaku, lelaki penghianat itu." Kata Anggara merasa geram.
Sinta pikir, ia akan terkicuh dengan alasan konyol itu. Yogi hanya diam dan melihat perdebatan mereka berdua.
"Dari mana kau tahu?" tanya Sinta gugup.
"Kamu tidak perlu tahu, saya sudah tahu semua kebusukan kalian dan kamu tinggal pilih, keluar dari kantor saya atau saya masukan kamu ke penjara," kata Anggara.
__ADS_1
Sinta menggepalkan tangannya, ia tidak punya pilihan lain selain keluar dari kantor Anggara. Dia tidak mau di penjara karena ia sedang mengandung anaknya pak Sanjaya.
Selama ini, ia menjalani hubungan dengan pak Sanjaya untuk menumpang hidup tapi kini pak Sanjaya sudah menjadi miskin.
Sinta keluar dari ruang Anggara lalu berjalan keluar, ia menghubungi Riko mengajaknya untuk bertemu dengan di cafe yang tidak jauh dari kantor milik Anggara.
"Ada apa...!"
"Aku ingin bertemu dengan kamu, sekarang?" Kata Sinta kesal.
Sinta menghentikan taxi yang kebetulan lewat di depannya lalu naik menuju cafe yang tidak jauh dari kantor. Ia turun lalu membayar taxi yang ia naiki lalu berjalan masuk dan duduk di pojokan.
Ia terus menatap ponsel yang tak berdering itu, ia masih merasa kesal dengan sikap Anggara. Semua ia lakukan selama ini hanya untuk mendapatkan perhatian Anggara tapi tak membuat Anggara simpati.
"Ada apa, kenapa kau menghubungi ku," tanya Riko yang baru saja datang lalu meneguk minuman Sinta.
"Sudah, kamu bisa pesan lagi. Aku haus nyusul kamu kesini?" Kata Riko.
"Aku di pecat...!"
Uhukk...uhukk...
Riko tersedak dengan minuman yang ia minum, ia menatap ke arah Sinta dengan raut yang tidak percaya.
__ADS_1
"Kok bisa di pecat, kenapa?" tanya Riko.
"Aku Ketahuan mencuri file di atas meja tempo hari, semua ini karena kalian terus memaksa aku untuk mencuri file itu" kata Sinta menaikkan suara satu oktaf.
Riko menatap Sinta dengan geram karena ia merasa malu dengan suara keras Sinta. Dia diam lalu mengingat siapa yang membocorkan rahasia mereka pada Anggara.
"Aku tahu....,"
"Tahu apa?"
"Siapa orang yang memberitahu Anggara," kata Riko tersenyum menyeringai.
"Siapa... kasih tahu aku,"
"Ratih....!
"Maksud kamu..?
Sinta juga belum mengerti kemana arah pembicaraan Riko sehingga membuat Riko kembali kesal padanya.
"Kamu ingat waktu kita bertemu dengannya di cafe malam itu, pasti dia sudah mendengar pembicaraan kita," kata Riko.
"Kamu yakin,"
__ADS_1
Riko mengangguk kalau Ratihlah yang sudah membocorkan rencana mereka.
"Tunggu pembalasan aku, Ratih!" Bisik Riko dalam hatinya.