Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang

Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang
ketika istriku tak lagi meminta uang 32


__ADS_3

"Mas Rahman," aku memanggilnya yang sudah terkulai lemah di pangkuanku, aku tidak menyangka jika ia akan kerumah. Ku sapu darah yang yang mulai mengering di hidungnya lalu meminta tolong pada tetangga untuk membawa mas Rahman kembali ke rumah sakit. Sementara aku menghubungi ibu agar ia juga segera ke rumah sakit.


Sesampai di rumah sakit, mas Rahman kembali di bawa ke ruang UGD padahal tadi pagi dia sudah membaik walaupun tubuhnya melemah, aku sangat khawatir. Semua karena aku meninggalkannya tadi pagi karena aku kecewa sama dia yang terus membohongiku.


"Bagaimana keadaan Rahman, Ratih?" Tiba-tiba ibu datang menghampiri ku yang duduk di kursi tunggu. Sementara Rania aku titip pada tetangga sebelah rumah, semoga saja dia tidak rewel.


"Entah, saya juga belum tahu Bu! kenapa mas Rahman sampai begini,"


Aku menatap wajah ibu, ia duduk di kursi tunggu begitu juga dengan ku.


"Tadi pagi setelah kamu pergi, dia terjatuh saat mengejar mu. Untung saja ada dokter yang membantunya, dia meminta pulang walau dokter tidak mengizinkannya. Dia tidak peduli dengan tubuhnya yang lemah, ia hanya ingin bertemu dengan kamu untuk menjelaskan kesalahpahaman kalian berdua," kata ibu.


Kesalahpahaman apa? apa yang mau di jelaskan oleh mas Rahman bukanlah semuanya sudah jelas, ia menginginkan rumah ku.


"Kamu tahu besok hari apa?" tanya ibu padaku.


"Hari Rabu, memangnya kenapa Bu?" tanya ku polos. Memangkan besok hari Rabu, hari ulang tahun dan anniversary kami yang ke 3 tahun.

__ADS_1


Ya, ampun kenapa aku sampai lupa kalau besok hari pernikahan kami yang ketiga tahun. memangnya ada apa dengan hari itu.


"Aku ingat Bu besok hari pernikahan kami," kataku pada ibu.


Ceklek...


pintu UGD terbuka, aku langsung bangun dan menghampiri dokter yang masih berada di ambang pintu UGD.


"Bagaimana keadaan suami saya, Dok?" tanyaku.


Aku hanya diam, aku tidak menyangka kondisi mas Rahman akan seperti ini. Ibu hanya diam dan menangis tidak ada yang harus di katakan olehnya.


"Oh ya, Bu. Tadi saya menemukan kertas ini dalam saku baju pasien," kata Dokter Yadi memberikan padaku.


Aku mengambilnya lalu duduk kembali di kursi sampai mas Rahman di bawa ke ruang inap, aku membuka kertas tersebut dan betapa kagetnya aku melihat kertas pembayaran pembelian rumah di blok M dengan harga 500 juta.


kamu tidaklah

__ADS_1


Rumah, untuk siapa mas Rahman membeli rumah. Rahasia apa sudah kamu sembunyikan lagi.


"Apa ibu tahu tentang pembayaran ini?" tanya ku pada ibu. Ku lihat ibu mengusap wajahnya, ia mengambil kertas yang ada tanganku.


"Selama ini dia bekerja walaupun dalam keadaan sakit, ia tidak peduli dengan kondisinya yang melemah. Setiap hari ia harus cek up ke rumah sakit,"


"Bukannya mas Rahman di pecat waktu itu?" kataku.


"Tidak, Ratih. Semenjak dia di vonis mengidap penyakit kanker, dia mengajak ibu ikut bersandiwara agar kamu membencinya. Bahkan ia pura-pura di pecat agar kamu bisa bekerja kembali agar suatu saat dia pergi kamu bisa mempunyai penghasilan."


Air mataku menetes, aku tidak menyangka ia melakukan semua ini untukku. Bahkan ia rela di benci, apa yang sudah kau lakukan Mas.


"Bukan hanya itu saja, bahkan ia sudah membeli rumah untuk kamu tempati kelak bersama Rania, ia tidak pernah mau di kemoterapi. Setiap kali ia mimisan, ia pulang ke rumah ibu," kata ibu menangis.


Ya, aku ingat waktu mas Rahman selalu pulang ke rumah ibu tapi waktu itu aku tidak mengerti bahkan aku tidak peduli padanya karena ia telah mengabaikannya.


Semulia itukah hati kamu, Mas!!

__ADS_1


__ADS_2