
"Siapa dia, dok?" tanya ku setelah perempuan tadi pergi.
"Dia bukan siapa-siapa kok," ujar dokter Fadli.
Sepertinya dokter Fadli menyembunyikan sesuatu tapi apa, Sepertinya aku harus menanyakan semua ini pada Silvi. Aku hanya tidak ingin di antara mereka ada yang menyembunyikan sesuatu.
Aku berjalan ke dapur resto untuk menyuruh pada Silvi membungkus beberapa lauk pauk untuk bawa pulang, tidak mungkin aku masak sampai di rumah nanti.
Terlihat Silvi sudah menenteng tas selempang miliknya, ia berjalan ke luar dengan wajah tak bersahabat.
"Mbak, aku pulang duluan ya? makanan masih di bungkus di dapur," kata Silvi.
"Kenapa, kok pulang cepat?" tanya ku.
"Aku lagi gak enak badan, Mbak," kata Silvi, ia menoleh ke arah Fadli lalu berjalan ke luar dari resto. Fadli hanya diam, tidak ada niat untuk menghentikan mereka. Apa yang sebenarnya menjadi masalah di antara mereka berdua.
Kami pulang setelah dari restoran, mobil yang di beli dulu sudah sampai di depan rumah. Pasti ibu kaget melihat mobil baru di depan rumah, terlihat ibu berlari kecil membuka pagar.
"Ratih, tadi orang showroom mobil datang, katanya itu mobil kita, benar Tih..." tanya ibu.
Aku hanya mengangguk tersenyum, ibu langsung memelukku.
"Iya, Bu? agar kita bisa pergi kemana-mana tanpa naik taxi lagi," kataku berjalan berbarengan dengan ibu. Sementara Mas Rahman menunggu Fadli yang sedang memarkirkan mobilnya, katanya dia ingin bertemu dengan ibu dan kami semua.
__ADS_1
"Ayo masuk, Bu? soalnya Fadli ingin bertemu dengan kita semua," kata ku.
"Memangnya ada hal apa?" tanya ibu menatap ku.
"Ratih gak tahu, Bu? sebaiknya kita masuk dulu,"
Aku berjalan ke kamar, lalu membersihkan tubuh ku karena dari pagi berada di luar. Setelah menyelesaikan rutinitas yang satu itu, aku kembali turun untuk bergabung dengan mereka. Disana sudah ada silvi, ibu dan Mas Rahman, hanya aku yang tidak ada disana.
"Begini Tante, kedatangan saya kesini untuk melamar Silvi menjadi pendamping saya kalau Tante ijinkan," kata Fadli tegas.
Apa, melamar Silvi? Alhamdulillah, ibu tersenyum bahagia karena Silvi akan menikah dan ibu tidak ragu melepaskan Silvi dengan lelaki yang tepat seperti Fadil.
"Ibu setuju saja tapi nak Fadli tanyakan saja pada Silvi langsung, apakah dia menerima atau tidak" kata ibu menyerah semua keputusan pada Silvi, kami menatap ke arah Silvi berharap dia akan menerima lamaran.
Jawaban Silvi membuat kami terkejut, bukankah dia mencintai Fadli tapi kenapa hari ini dia menolaknya.
"Kok Gak, kenapa?" tanya Fadli dengan wajah pias.
"Gak nolak maksudnya?" kata Silvi tersenyum.
Ah, ternyata dia hanya ngeprank? aku pikir dia beneran menolak Fadli. Kami tertawa melihat tingkahnya.
"Jadi kamu menerima aku, benarkan," kata Fadli bangun ingin memeluk Silvi.
__ADS_1
"Ettss... tunggu belum halal!" kata Mas Rahman menunjukkan bogem mentah pada Fadli.
Karena malu, Fadli menggaruk teluknya yang tidak gatal. Kami semua hanya tertawa, kebahagiaan yang selama ini kami nantikan akhirnya datang juga.
Semoga ini awal yang baik untuk mereka berdua.
"Tapi kapan kalian akan melangsungkan pertunangan?" tanya Mas Rahman pada Fadli.
"Bagaimana bulan depan saja, kebetulan keluarga aku akan datang kesini?" kata Fadli.
"Ibu setuju, bagaimana dengan kalian berdua?" tanya ibu pada kami, aku menatap pada mas Rahman.
"Kami ikut gimana baiknya aja, Bu?" kataku.
"Jadi bulan depan saja acara pertunangan kalian, ibu harap kalian akan selalu bahagia," kata ibu memeluk putrinya, Fadli hanya tersenyum.
Setelah lamaran itu, Fadli pulang sedangkan kami masih duduk di ruang tamu begitu juga Silvi.
"Silvi, apa kamu kenal dengan keluarganya Fadli?" tanya ku.
"Belum kak, Fadli tidak menceritakan apapun padaku," kata Silvi.
"Assalamualaikum....?" Terdengar seseorang memberi salam, aku beranjak untuk melihat siapa diluar.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam, Bu Sekar!"