Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang

Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang
Ketika istriku tak lagi meminta uang 51


__ADS_3

Silvi di bawa ke kamar rawat inap, kami berdua berjalan ka kamarnya dan melihat ibu dengan wajah sembab karena terlalu menangis.


Mungkin ibu rindu pada putri semata wayangnya karena selama ini tidak pernah bertemu. Di saat seperti bertemu harus cara seperti ini.


Mas Rahman hanya diam lalu berjalan dekat dengan ranjang Silvi, ia terbujur dalam keadaan belum sadarkan diri. Kami hanya menunggu ia sadar dan setelah itu kami akan menanyakan tentang tespeck yang aku temukan di dalam tasnya.


"Kalian pulang saja biar ibu yang jagain Silvi lagian kasian Rania tinggal sama Siti terus," kata ibu.


Aku menatap mas Rahman meminta pendapat padanya, tidak mungkin aku mengajaknya pulang ke rumah di saat adiknya sedang kecelakaan.


"Memangnya tidak kenapa-napa kalau ibu tinggal sendirian disini?" tanya mas Rahman.


"Tidak kenapa-napa? Lagian disini banyak orang untuk apa ibu takut," kata ibu.


Akhirnya kami mengambil keputusan untuk pulang dulu, besok baru kami datang lagi.


Mobil terus berjalan membelah jalanan yang sangat padat, aku dan mas Rahman menaiki taxi untuk pulang kerumah.


Matahari sangat terik memancarkan sinarnya, kami baru saja sampai di rumah. Aku menekan handle pintu, lalu masuk rumah berjalan ke kamar Rania ternyata mereka tidur hampir saja aku curiga pada Siti lagi.


Setelah mencium pipi putriku, aku berjalan menuju kamarku yang harus menaiki tangga satu persatu. Sementara rumah yang dulu ku tempati sudah aku sewa pada orang lain agar ada orang yang merawat rumahku.

__ADS_1


Mas Rahman sudah merebahkan tubuhnya dan terlelap, tubuhnya terasa lemah setelah melakukan kemo tadi. Aku harap efek ini akan sebentar, semoga saja ia kembali sehat.


🌷🌷🌷


Di kantor


"Kita menang lagi, Bos," teriak Yogi senang atas kemenangan mereka yang memenangkan tender kali ini sedangkan Anggara hanya tersenyum.


"Apa Bos melihat tadi bagaimana amarahnya pak Hermawan," tanya Yogi.


"Memangnya kenapa?


"Apa bos tuan tidak lihat di saat pak Hermawan ingin memutarkan apa yang akan presentasinya, yang terlihat kartun tuan," Yogi terkekeh geli membayangkan kejadian tadi pagi.


"Maksud Bos apa?" tanya Yogi tidak mengerti arah pembicaraan Anggara.


"Nanti saya jelaskan di ruangan saya, sekarang kita masuk dulu," kata Anggara berjalan memasuki kantornya meninggalkan Yogi yang masih bingung.


Anggara terus berjalan menuju ruangannya, sapaan dari karyawannya hanya mendapatkan anggukan. Sampai di dalam ruangan, Anggara melempar jasnya lalu membuka laptop.


"Bos, apa tidak bisa istirahat sebentar nanti baru kita bekerja lagi," tanya Yogi dengan kesal.

__ADS_1


"Tidak usah cerewet, lihatlah ini!"


Yogi berjalan ke meja kerja Anggara lalu pandangannya mengarah pada laptop yang ada di depannya, Video yang sedang berputar membuat ia terkejut.


"Apa...! maksud Bos Sinta mencuri file kita yang akan kita presentasikan tadi tapi bos menukarnya dengan gambar kartun begitu," kata Yogi.


Anggara hanya mengangguk lalu terus menatap ke arah laptop miliknya, jika bukan karena pemberitahuan dari Ratih. Mungkin ia gagal untuk memenangkan tender kali ini, ia tidak menyangka jika Sinta bisa berkhianat di belakangnya.


"Tolong kamu panggil Sinta sekarang?" perintah Anggara pada Yogi.


Yogi mengangguk lalu berjalan ke ruangan Sinta untuk memanggilnya.


"Sinta, kamu di panggil sama pak Anggara sebentar?" kata Yogi dengan datar.


Sinta hanya mengangguk lalu berjalan di belakang Yogi.


"Duduklah, kamu pasti lelah hari ini!" kata Anggara.


"Hari ini sedikit lelah karena pekerjaan yang sangat menumpuk," kata Sinta yang belum mengerti arah pembicaraan Anggara.


"Oh, ya, lalu bagaimana dengan pekerjaan ini?" tanya Anggara meletakkan laptop tepat di hadapan Sinta.

__ADS_1


"Bu..kan saya...


__ADS_2