Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang

Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang
Ketika istriku tak lagi meminta uang 118


__ADS_3

Happy reading 🍁


"Bagaimana Afnan, apa kamu senang bisa bertemu dengan istrimu," tanya pak Brata pada Afnan yang masih berada di cafe.


"Iya, Pa. Makasih atas kebaikan papa dan mama," kata Afnan tersenyum kecut pada pak Brata.


"Papa lakukan semua ini karena papa yang sudah menjadikan kamu menjadi orang lain bahkan istrimu saja tidak mengenali mu sedikit pun," kata pak Brata menyesal.


Ya, setelah di bawa ke Singapura. Rahman operasi wajah karena wajah karena wajahnya rusak. Dua bulan disana, Rahman sadar lalu melihat perubahan wajah pada dirinya.


Awalnya Rahman tidak menerima kondisinya seperti ini tapi ia sadar tanpa mereka,mungkin dia tidak selamat malam itu sehingga ia berbaikan dengan keadaannya.


"Suatu saat, dia pasti ingat sama aku Pa?" kata Afnan lalu berjalan keluar ke arah parkiran, ia menaiki mobil lalu pulang ke rumahnya.

__ADS_1


Di dalam mobil, Afnan terus tersenyum membayangkan saat Ratih begitu kesal dengannya, ia benar-benar gemas ingin sekali dia mengatakan kalau dia adalah istrinya.


"Tuan, apa tuan baik-baik saja," tanya Josep melihat Afnan senyum-senyum sendiri.


"Memangnya kenapa, apa kamu pikir saya gila," kata Afnan memandang asistennya, ia menatap tajam ke arah Josep.


"Tidak tuan, saya hanya salah bertanya," kata Josep takut kalau Afnan akan marah jika Josep salah berbicara.


Afnan diam lalu kembali menatap ke depan, ia mengambil ponsel lalu membuka sosial media untuk mencari akun Ratih. Dia sangat rindu dengan putrinya, Tiga bulan tidak melihat mereka membuat dia sangat rindu.


"Sebaiknya aku ke rumah saja untuk melihat Rania, tapi bagaimana jika ketahuan sama Ratih," pikir Afnan.


Tak lama kemudian, ia sampai di rumah lalu turun dari mobil. Terlihat Bu Lidya sedang bercengkrama dengan teman arisannya, Afnan berlalu begitu saja tapi langkah kakinya berhenti saat Bu Lidya memanggilnya.

__ADS_1


"Afnan, kemari lah?" pinta Bu Lidya.


Afnan menoleh lalu menghembuskan nafas dengan kasar, ia berjalan ke arah ibu-ibu sosialita yang berteman dengan mamanya.


"Wah, Afnan ganteng ya Jeng! boleh dong kalau di jodohkan sama putriku, kebetulan kita sudah berteman lagi dan asal jeng tahu, putri saya masih sendiri loe," kata Ibu-ibu yang ingin menjodohkan anaknya dengan Afnan.


Mata Afnan melebar kala mendengar semua itu, ia menggeleng kepala pada Bu Lidya agar tidak menyetujui perjodohan tersebut.


"Benarkah jeng, sebaiknya mereka kenalan aja dulu biar mereka saling kenal. Kita kan tidak tahu mungkin ada orang lain yang mereka sukai begitu," kata Bu Lidya menolak secara halus agar Jeng Mira tidak merasa di tolak mentah-mentah.


"Kata Bu Lidya benar loe, jeng? jaman sekarang perjodohan itu tidak ada lagi, contoh putriku dia tidak mau dijodohkan dan lebih memilih pasangannya sendiri. Ya, kita sebagai orang tua hany bisa menerima keinginan anak-anak kita," kata jeng Anis yang lain membenarkan ucapan jeng Anis, jeng Mira terlihat jengkel karena ia ingin sekali menikahkan putrinya dengan Afnan agar dia dapat mencicipi harta keluarga Brata.


Untuk bisa bergabung dengan geng sosialita Bu Lidya, jeng Mira harus terlihat wah agar di anggap lebih kaya dari Bu Lidya padahal suami bekerja sebagai HRD di perusahaan milik Pak Brata.

__ADS_1


"Maaf ya semuanya, aku ke kamar dulu soalnya baru pulang dari kantor," kata Afnan tersenyum lalu berlalu meninggalkan mereka, untung saja Bu Lidya tidak memaksakan kehendak nya kalau tidak dia tidak bisa berbuat apa-apa karena ia sudah banyak berhutang Budi pada Bu Lidya.


__ADS_2