
Mas Rahman baru saja menghubungi aku dan mengatakan jika Bu Sekar sudah di tangkap, aku harus menemui mereka di kantor polisi. Aku sudah geram sekali melihat mereka selalu menghancurkan rumah tangga ku.
Aku putar balik setelah sampai ke rumah ke kantor, untuk bertemu mereka kita harus menyiapkan kekuatan agar mereka tidak terus semena-mena dengan kita.
Satu jam kemudian, aku sampai di rumah sakit dan terlihat mas Rahman juga baru sampai di sana. Aku menghampiri mas Rahman dan masuk bersama-sama.
Seorang polisi membimbing kami untuk bertemu dengan Bu Sekar, kami berjalan ke arah sel. Terlihat Bu Sekar baru saja menangis mungkin dia takut jika akan selamanya dalam penjara.
Mengetahui kedatangan kami, Bu Sekar berdiri begitu juga dengan Riko menatap nyalang ke arahku.
Apa dia pikir aku ini adalah musuhnya.
"Bagaimana, apa anda suka dengan tempat ini," mas Rahman membuka pembahasan.
"Kurang hajar, kalian sudah membuat aku berada di dalam sini." Kata Bu Sekar dengan amarah menggebu-gebu.
__ADS_1
"Seharusnya kami yang mengatakan itu, apa kalian tidak jera atas semua apa yang terjadi, kenapa kalian selalu mengganggu kami," kata ku penuh emosi.
"Semua itu karena kamu terlalu banyak ikut campur urusan kami, kalau kamu tidak membongkar rencana kami pada Anggara mungkin sampai saat ini kalian baik-baik saja, tapi yang namanya hidup memang penuh rintangan kali ya," kata Riko.
Apa, jadi dia melakukan semua itu hanya untuk balas dendam. Apa hati mereka hanya diliputi rasa iri dengki, balas dendam.
"Aku gak nyangka kalian sepicik itu, tapi baguslah kalian berada di tempat ini. Mungkin saja selama berada di dalam jeruji besi kalian insaf," kata ku lagi menahan amarah, tidak mungkin aku berteriak di kantor polisi. Bisa-bisa aku jadi tahanan juga.
"Kamu tidak perlu mengajari saya, ingat saya akan membalas perbuatan kalian sampai keturunan kamu, camkan itu," kata Riko berapi-api.
"Ayo, Mas. Kita pergi dari neraka ini," kata ku menarik tangan Mas Rahman, rasanya aku menyesal sudah datang ke rumah sakit. Bukannya sadar malah semakin menjadi - jadi.
"Mas, kamu gak ke rumah sakit? Kamu udah tiga hari loe cuti waktu pernikahan kita," kata Silvi sedang menyiapkan makanan untuk suaminya, kini silvi dan suaminya tinggal di apartemen milik Fadli.
Karena ia tidak mungkin tinggal bersama ibu, ia harus ikut kemana pun suaminya pergi meski ia sangat rindu pada wanita yang telah melahirkannya.
__ADS_1
"Gak sayang, aku sudah minta cuti satu Minggu lagi sama kepala rumah sakit," kata Fadli menarik kursi dan duduk.
"Cuti satu Minggu, untuk apa Mas?" tanya Silvi lagi.
"Sayang, apa kamu tidak ingin honymoon ke Paris. Kita baru menikah loe sayang, kita baru saja menikah dan aku ingin punya banyak waktu bersama kamu," kata Fadli mengambil piring lalu menyendok nasi dan mengambil menu yang lain untuk menemani makan siangnya kali ini.
"Mau sih Mas tapi aku...!"
"Sudah, besok kita berangkat ke Paris. Mas sudah mengurus paspor untuk kita kesana," kata Fadli menyela perkataan istrinya.
"Baiklah suamiku," kata Silvi tersenyum meskipun ia sedikit takut jika honymoon mereka akan membuat Fadli kecewa.
Selama menikah, Silvi belum memberikan haknya sebagai istri. Setiap Fadli ingin menyentuhnya, seakan memori tentang kejadian dulu kembali berputar di ingatannya dan membuat ia histeris.
Silvi duduk di samping suaminya, mereka makan dengan penuh canda tawa. Silvi selalu berharap jika Fadli tidak meninggalkannya suatu hari.
__ADS_1