Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang

Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang
Ketika istriku tak lagi meminta uang 78


__ADS_3

Satu...dua..tiga...


Brak...


"Angkat tangan, jangan bergerak," polisi langsung menodongkan pistol pada pak Yanto, aku melihat Silvi dengan luka lemban di wajahnya dan Rania dimana putriku.


Kemana putriku, kenapa dia tidak bersama Silvi. Ku lihat pak Yanto sudah di ringkuh oleh dua orang polisi tapi putriku tidak ada disini juga dengan Riko.


Apa Riko sudah membawanya pergi!


"Silvi, kemana Rania?" tanya ku.


"Rania di bawa sama Riko beberapa menit yang lalu kak," kata Silvi.


Apa, beberapa menit yang lalu? Artinya dia tidak jauh dari sini. Aku berjalan ke luar dari kamar dan berlari ke belakang ternyata pintunya terbuka. Aku terus berlari berharap bisa menemukan putriku, terlihat Riko sedang berdiri sembari menggendong Rania.


"Riko, kembalikan putriku?" teriakku berlari mengejarnya, aku tidak akan membiarkan dirinya lepas lagi.


Berkali-kali aku berteriak, berkali-kali pula dia berlari membawa putriku sudah terlalu jauh dari tempat penyekapan.


"Saudara Riko berhentilah dan lepaskan anak kecil itu," kata polisi ikut berlari menangkapnya.


"Saudara Riko berhentilah atau kami terpaksa menembak mu," kata polisi lagi.


Tapi peringatan itu tidak membuat Riko berhenti dan menyerahkan diri dengan terpaksa polisi menembak kakinya.


Door...


Kaki sebelah kanan Riko tertembak, dia pun jatuh dan mencoba untuk melarikan diri tapi tidak bisa, aku berlari lalu mengambil Rania dalam gendongan.


Rania sudah menangis dengan wajah memerah, akhirnya Riko tertangkap juga. Polisi memborgol kedua tangannya lalu menariknya untuk di bawa kantor polisi.


"Terimakasih karena sudah menolong kami, pak?" Kata Anggara berterima kasih.


"Sama-sama, sudah tugas kami untuk membantu kalau begitu kami pergi dulu," kata polisi tersebut.


Kami hanya mengangguk, aku baru teringat kalau aku meninggalkan Silvi di rumah tersebut.

__ADS_1


"Dimana Silvi?" tanya ku.


"Dia sudah di bawa ke rumah sakit untuk di visum, sepertinya dia mengalami kekerasan sehingga membuat dia kembali trauma," kata Anggara.


Apa, trauma? Apa yang sudah di lakukan oleh pak Yanto dan Riko pada Silvi. Aku hanya mengangguk lalu kami pergi ke rumah sakit untuk menjemput Silvi, aku bersyukur kalau Riko berhasil di tangkap.


Kini putriku sudah kembali dalam pangkuan aku tapi tidak dengan mas Rahman, aku harus mencarinya dan menjelaskan semua pada mas Rahman. Aku yakin dia hanya salah paham karena melihat foto tersebut.


Satu jam perjalanan, kami sampai di rumah sakit dan berjalan ke ruang dimana Silvi di visum. Terlihat Silvi keluar dari ruangan dokter.


"Bagaimana hasilnya, Dok?" tanyaku.


"Hasil visumnya akan keluar besok atau dua hari lagi," kata dokter bernama Anita tersebut.


"Apa kondisi adik saya baik-baik saja?" tanyaku pada dokter yang menangani Silvi.


"Dia baik-baik saja, dia hanya perlu istirahat dan mengobati luka memar dirasakannya," kata dokter tersebut.


Aku hanya mengangguk lalu pergi meninggalkan rumah sakit dan pulang ke rumah, aku sengaja tidak menghubungi ibu agar dia tidak khawatir melihat kondisi Silvi begini.


"Silvi, Ayo kita pulang dan aku juga berterima kasih sama kamu karena sudah mau membantu ku untuk menemukan putriku juga Silvi," kata ku.


Kami pun pulang ke rumah masing-masing, kami menaiki taxi sedangkan Anggara pulang ke rumahnya. Seharian di luar rumah membuat tubuhku lemah, Rania sudah terlelap sedangkan Silvi hanya diam.


Dua jam perjalanan, kami sampai di rumah dan Silvi yang baru saja turun dari taxi langsung berlari ke rumah melihat ibu yang sedang berdiri di depan pintu.


"Ibu, Silvi..!" keduanya saling berpelukan, melepaskan kerinduan yang sudah lama. ibu menangis melihat putri semata wayangnya yang baru saja pulang walaupun dalam keadaan luka memar.


"Wajah kamu kenapa sayang?" tanya ibu.


Silvi terus menangis dalam pelukan ibunya, hatiku sakit melihat orang yang tidak bersalah harus menerima akibatnya.


"Aku di pukul di saat mencoba melarikan bersama Rania dan untung saja Mbak Ratih datang tepat waktu Bu?" kata Silvi sekian lama baru kali ini dia membuka suara.


Ibu terus memeluknya sedangkan aku membawa Rania untuk tidur di atas tempat tidur lalu baru aku turun kembali untuk bergabung dengan mereka.


"Perut kamu...!" ibu meraba perut Silvi yang rata sedangkan yang aku tahu ia hamil akibat ulah pak Sanjaya.

__ADS_1


Apa Silvi mengalami keguguran, kalau benar aku bersyukur setidaknya dia masih bisa melanjutkan kehidupannya ke depan.


"Saat Riko menculik aku dan Rania, aku mengalami pendarahan Bu," kata Silvi tersenyum.


Ibu terkejut dengan mulut yang menganga, begitu juga dengan ku. Aku tidak menyangka jika perlakukan mereka membuat Silvi keguguran.


Aku berjalan mengantarkan Rania, hari ini aku akan menghabiskan waktu bersamanya dan aku tak ingin seorang pun mengganggu ku bersama putriku.


*****


Di kediaman Anggara


Anggara sampai di rumahnya tepat pukul 04:00 sore, dia turun lalu masuk ke rumahnya menaiki tangga satu persatu. Di dalam kamar tamu, Stefani membereskan barang-barangnya. Niatnya untuk pulang kerumah orang tuanya sudah bulat, ia tidak ingin tinggal lagi disana.


Stefani keluar dari kamarnya, terlihat Bu Sonya duduk di sofa keluarga sedangkan Anggara masih di kamarnya.


"Stefani, mau kemana?" tanya Bu Sonya. Kini Bu Sonya sudah sembuh setelah tempo hari masuk ke rumah sakit dan Bu Sonya pun sudah bercerai dengan pak Sanjaya.


"Aku mau pamit pulang dan saya juga mau bilang tidak bekerja lagi disini, kebetulan paman mau membiayai kuliah ku di luar negri," kata Stefani meminta pamit pada majikannya.


"Ah, ya sudah. kamu hati-hati disana dan ini ibu ada sedikit uang untuk kamu, semoga bermanfaat," kata Bu Sonya memberikan uang pada Stefani.


"Tidak usah, Bu. Pak Anggara sudah memberi gaji saya tempo hari, kalau begitu saya permisi dulu," kata Stefani pamit lalu pergi meninggalkan rumah mewah milik keluar Anggara.


Dia pergi dengan membuang perasaannya pada Anggara, dia tidak ingin perasaan itu semakin tumbuh sedangkan ia tidak pantas mencintai Anggara apalagi untuk memilikinya.


Stefani menaiki taxi yang sudah menunggunya di depan pintu gerbang, Stefani melihat ke belakang untuk terakhir kalinya.


Dia melangkahkan kaki masuk ke dalam Taxi yang akan mengantarkan dirinya pada rumah orang tuanya, dia akan pergi ke luar negri karena ia mendapat beasiswa untuk kuliah di luar negri tapi pada Bu Sonya dia beralasan pamannya membiayai kuliah agar dia bisa keluar dari rumah tersebut.


Sepanjang perjalanan Stefani hanya diam berkelana dengan pikirannya masing-masing, ia melihat ke arah jendela dengan langit yang mulai mendung menandakan hujan akan turun.


"Stefani.... Stefani....," teriak Anggara yang baru saja turun dari kamarnya, ia tidak tahu kalau Stefani sudah pergi meninggalkan rumah mereka.


"kamu kok teriak-teriak, ada apa?" tanya Bu Sonya.


"Ibu ada lihat Stefani, dari tadi aku mencarinya tidak ada?" tanya Anggara.

__ADS_1


"Stefani sudah pergi beberapa menit yang lalu?"


"Apa...!"


__ADS_2