Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang

Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang
ketika istriku tak lagi meminta uang 29


__ADS_3

"Rumah apa, Bu? apa lagi yang kalian sembunyikan dariku," kataku menaikkan suara satu oktaf.


Rumah apa yang mereka berdua katakan, apa mereka menginginkan hartaku waktu tempo dulu. Aku pikir mereka sudah berubah tapi nyatanya tidak.


"Ratih, sejak kapan kamu ada disana?" tanya mas Rahman dengan pandangan menatap ke arahku.


"Sejak kalian membahas tentang rumah itu, apa kalian berdua ingin mengambil rumah orang tuaku lagi makanya kalian pura-pura baik," kataku dengan air mata yang sudah berderai.


Hatiku sakit, aku kecewa pada sikap mas Rahman. Dia tidak benar-benar berubah, aku membencinya.


"Bukan seperti itu, mas bisa jelaskan Ratih!"


"Cukup, aku tidak mau mendengar apa-apa lagi dari mas. Semua yang aku dengar sudah cukup jelas kalau mas Rahman memang tidak mau berubah, mas masih sama selalu menyakitiku,"

__ADS_1


Aku menangis dengan air mata yang tidak mau berhenti, aku mengambil Rania lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut. Ku dengar suara Rahman berteriak tapi tak ku pedulikan, aku tidak akan tertipu lagi dengan raut sedihnya.


Bruk...


Langkah aku terhenti kala mendengar suara jatuh, apa mas Rahman yang jatuh dari brankar. Ah, untuk apa aku peduli kalau ia saja tega membohongiku. Aku terus berjalan ke depan dan pulang ke rumah, sebaiknya aku tidak bertemu dulu dengannya kalau pun ia aku tidak akan percaya lagi dengannya.


"Rahman, Ayo bangun." kata Bu Romlah pada putranya yang sudah tersungkur kelantai karena mengejar Ratih.


"Semua ini salahku, Ratih salah paham lagi padaku dan dia tidak mau mendengarkan penjelasan aku sebentar saja," kata Rahman menangis, tubuhnya sangat lemah sehingga ia tidak sanggup mengejar Ratih. Hatinya sakit melihat Ratih menangis karenanya tapi apa boleh buat, semua sudah terjadi begitu saja.


"Sudah, kamu tidak usah memikirkannya dulu. Dia hanya salah paham, dia begitu karena tidak tahu yang sebenarnya. kamu terus menyembunyikan sesuatu darinya," kata Bu Romlah membantu Rahman untuk kembali ke tempat tidur.


"Beristirahatlah, kamu harus cepat sembuh untuk Ratih dan Rania," kata Bu Romlah. Dia juga sakit melihat anaknya harus memiliki penyakit yang mengenaskan seperti itu.

__ADS_1


"Pak Rahman kenapa?" Dokter yang menangani Rahman datang ke kamar.


"Tadi anak saya jatuh, Dok," kata Bu Romlah.


"Biarkan saya periksa dulu!" kata Dokter Yadi berjalan ke arah Romlah lalu memeriksanya.


"Dok, apa saya boleh pulang hari ini?" tanya Rahman pada dokter Yadi, ia berharap kalau ia akan di izinkan pulang hari ini dengan begitu ia bisa bertemu dengan Ratih.


"Bapak harus di rawat beberapa hari dulu, kondisi tubuh bapak sangat lemah dan sangat berbahaya jika bapak berpergian, apalagi sel sel kanker dalam tubuh bapak sudah menjalar sehingga kita harus melakukan kemoterapi atau transplantasi sumsum tulang belakang," kata Dokter lagi.


"Apa tidak ada cara lain, dok?" tanya Rahman.


"Tidak ada, Hanya dua cara yang bisa kami ambil untuk keselamatan bapak dan kami akan berusaha untuk menyembuhkannya," kata dokter lagi. Lagi-lagi Rahman hanya diam, ia bingung untuk membayar biaya rumah sakit karena tidak punya uang lagi.

__ADS_1


"Saya tetap ingin pulang dan saya tidak mau disini lagi, saya sudah meras sehat, Dok!" kata Rahman tetap ingin memaksa pulang karena ia harus menyelesaikan kesalahpahaman mereka berdua.


"Tunggu, aku pulang sayang!"


__ADS_2