
Happy reading 🍁
"Maksud kamu apa?" tanya Fadli.
"Tidak apa-apa kok, aku pergi dulu," kata Tania setelah mendapat foto ia berpelukan dengan Fadli, dengan cara itu ia bisa menghancurkan hubungan dengan Silvi dan Fadli.
Tania pulang ke apartemen miliknya dengan senyum, sebelum pulang ia menyuruh seseorang menyetak foto tersebut lalu mengirimkan ke rumah Silvi.
Segala rencana sudah di persiapkan, ia tidak ingat kalau polisi sedang mengincar dirinya.
Senja telah berlalu, hujan sudah berhenti tapi dedaunan masih basah karena di guyur hujan hingga sore hari. Aku turun ke bawah untuk makan malam bersama ibu dan juga Silvi, terlihat Rania sedang bermain dengan boneka di atas karpet yang tidak jauh dari kami.
"Ratih, ayo makan dulu?" tanya ku membuka pembicaraan.
"Iya, Bu. Silvi kemana?" tanya ku tidak melihatnya setelah pulang dari kantor Polisi tadi siang. Aku duduk di sebelah ibu lalu mengambil piring, perutku minta untuk di isi karena tadi siang aku tidak makan sama sekali.
"Masih di kamar mungkin, Tuh dia baru bangun," kata ibu menunjukkan Silvi sepertinya baru bangun tidur.
"Baru bangun, Sil?" tanyaku basi-basi.
"Ah, iya mbak, rasanya hari ini capek banget. Eh tahu-tahunya ketiduran sampai magrib begini," kata Silvi menarik kursi lalu duduk bersama kami.
Kami makan bersama dengan diam, tidak ada lagi canda tawa di saat makan bersama mas Rahman. Tempat duduk yang biasa mas Rahman di duduki kini kosong tanpanya, aku yang baru saja makan seakan-akan selera makannya hilang. Aku mengambil air minum lalu meneguknya sampai habis setengah.
"Ibu tahu kamu sedang memikirkan Rahman tapi kamu juga tidak boleh larut dalam kesedihan, jika Rahman belum di temukan kemungkinan ia masih hidup walaupun kita tidak tahu dimana ia sekarang," kata ibu membuat aku menatapnya dengan penuh harapan, Silvi yang sedang asik makan menoleh ke arahku.
__ADS_1
"Apa ibu yakin?" tanya ku.
"Firasat seorang ibu tidak pernah salah, ibu yakin Rahman masih hidup. Semalam ibu bermimpi dia pulang ke rumah kita tapi bukan wajahnya," kata ibu bersedih , Aku memicingkan mata mendengar ucapan ibu.
Bagaimana mungkin, mas Rahman pulang dengan wajah orang lain. Mungkin ibu terlalu merindukan Mas Rahman hingga terbawa mimpi.
"Mungkin itu terlalu merindukan mas Rahman sehingga terbawa dalam mimpi, Bu," kata ku.
"Mungkin saja, ya sudah kamu makan lagi. ibu mau ambil makanan untuk Rania dulu," kata ibu mendorong kursi ke belakang lalu berjalan mengambil nasi untuk Rania.
Aku terus mengunyah nasi walaupun terasa hambar di mulutku, Selesai makan aku dan Silvi membawa piring kotor ke dapur untuk di cuci lalu berjalan ke ruang tv.
Tentang kecelakaan mas Rahman belum juga ada titik terang dari kepolisian, tidak ada tanda-tanda dari polisi bahwa mas Rahman di temukan. Aku terus mengecek ponsel, mana tahu ada notifikasi dari Anggara tentang pencarian mas Rahman.
Aku memutar sinetron ikan terbang, menonton untuk menghilangkan rasa penat. Terlihat Silvi membawa Snack lalu meletakkannya di atas meja di depan sofa.
"Mbak gak tahu ya, kalau aku lagi PMS pasti makan aku banyak. perutku pengen di ajak makan terus mbak," kata Silvi terus mengunyah makanan membuat aku kekenyangan melihatnya.
Aku menggeleng kepala melihat tingkah Silvi, ada-ada saja yang dia katakan. Masak lagi PMS banyak makan, gak takut badannya lebar.
Jam sudah berjalan pukul 10 malam, tapi aku tidak bisa tidur. Mataku tak ingin terlelap walaupun barang sebentar, aku berjalan ke dapur mengambil air minuman.
Rasanya kerongkongan ku kering karena dari tadi tidak minum, ibu dan Silvi sudah terlelap kembali sedangkan aku masih asik menonton Tv sinetron ikan terbang, cukup menguras air mata siapa yang menontonnya.
Setelah mengambil air minum dan Snack di dalam kulkas, aku kembali ke ruang tv untuk menonton siaran tv. Biasanya jika sudah seperti ini mas Rahman pasti mengajak aku ke kamar, ia tidak membiarkan aku bergadang walaupun beberapa jam.
__ADS_1
*** ***
Matahari mulai menampakkan sinarnya, semalaman aku tertidur di sofa di depan Tv. Tidak ada orang yang membangunkan aku, tubuhku rasanya sakit semua.
Ting...tong...
Suara bel berbunyi, siapa yang datang jam segini. Ku lirik jam pukul 07:00 pagi, aku beranjak dari sofa lalu berjalan ke depan untuk membuka pintu.
"Maaf, cari siapa ya?" tanya ku melihat seseorang laki-laki membelakangi aku dan membalikkan tubuhnya.
"Apa benar ini rumahnya Silvi?" tanya lelaki tersebut.
"Benar, ada apa ya?" tanya ku lagi.
"Ada titipan untuknya," kata lelaki tersebut lalu memberikan amplop berwarna coklat lalu aku mengambilnya membolak-balikkan amplop tersebut tidak ada nama pengirimnya.
"Dari siapa ini, Pak?" tanyaku penasaran.
"Saya juga tidak tahu, saya hanya di suruh untuk mengantarkan saja kalau begitu saya permisi dulu," pamit lelaki tersebut, aku hanya mengangguk lalu kembali menutup pintu kembali. Aku berjalan ke dalam untuk memberikannya pada Silvi.
"Sepertinya ada tamu, siapa Mbak?" tanya Silvi yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Kebetulan sekali kamu keluar, Sil. Ada titipan untuk kamu," kataku memberikan amplop tadi.
"Dari siapa, mbak?" tanya Silvi, aku hanya bisa mengangkat bahu tanda tidak tahu. ia kembali membolak-balik amplop tersebut tapi juga tidak ada.
__ADS_1
"Di buka saja dari pada penasaran, mbak ke dapur dulu," kataku berjalan ke dapur untuk membuat nasi goreng.
"Mbak Ratih.....!"