Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang

Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang
ketika istriku tak lagi meminta uang 30


__ADS_3

POV ( Rahman )


Semenjak aku di vonis mengidap penyakit Leukemia, aku mulai tak peduli pada istriku, tak lagi kelembutan padanya. Bukan tidak sayang tapi aku takut akan membuatnya semakin terluka dengan penyakit yang aku derita.


Aku memilih untuk tidak menceritakan pada Ratih karena aku tidak ingin membebaninya, aku mulai pelit terhadapnya. Ibuku ikut bersandiwara karena aku yang memohon padanya.


Satu Minggu sekali aku cek up ke dokter, ternyata sel kanker semakin menjalar di dalam tubuhku. Aku sering mimisan, kadang aku pulang kerumah orang tuaku agar dia tidak tahu tentang penyakit ini.


Setiap malam aku hanya bisa meminta waktu sedikit untuk bisa bersamanya agar jika aku pergi nanti dia tidak terlalu terluka. Aku pura-pura di pecat dari tempat aku bekerja padahal hari itu aku pulang cepat karena aku naik jabatan menjadi menejer. Aku sangat bahagia, dengan begitu aku bisa membeli yang aku inginkan selama ini.

__ADS_1


Tapi saat itu pula dia tidak lagi peduli padaku, dia mulai bekerja dan aku hanya diam seakan tidak perduli dengan apa yang ia kerjakan. Hatiku hancur kala melihat ia harus membanting tulang untuk membiayai kebutuhannya.


"Sampai kapan kamu akan bersikap seperti itu, Man! kamu sudah menyakitinya terlalu dalam,"


ibu menasehati aku untuk tidak terlalu menyakitinya tapi aku tidak peduli, biarkan saja dia membenciku agar jika aku pergi nanti dia tidak terpuruk. Aku mencintainya tapi umur sudah tidak lama lagi, dokter menyarankan aku untuk kemoterapi tapi aku tidak mau takut jika Ratih akan tahu tentang penyakit ini.


Aku mengusap wajah, aku melihat Ratih pulang dari kantor. kami kembali berperan bersama ibu seakan membencinya tapi siapa sangka, kami di usir karena kesalahan ibu mencuri emas Ratih. Sebenarnya ibu tidak mencuri tapi aku lah yang mengambilnya dan memberikan pada ibu untuk menjualnya.


"Rahman, apa kamu tidak apa-apa? kita sudah tidak bisa lagi tinggal di rumah ini dan kita kan kembali ke rumah ibu," ucap ibu.

__ADS_1


Aku hanya diam, bingung apa jalan ku ambil sudah tepat atau tidak. Meskipun aku sudah tidak lagi serumah dengannya tapi mbak Siti selalu memberikan informasi tentang Rania dan Ratih.


Aku bersyukur dia tidak merasa kehilangan, aku mulai bekerja kembali ke kantor. Aku mengumpulkan uang dan membeli rumah untuknya di blok M sebagai kado pernikahan kami tapi aku tidak tahu jika Ratih sudah menggugat aku ke pengadilan.


Hari itu aku kembali mengalami mimisan dan ibu membawa ku ke rumah sakit. Dokter memvonis penyakit ku sudah stadium 4 dan waktu ku untuk hidup tidak lama lagi.


Aku mulai merindukan Ratih dan putriku, aku mencoba untuk kembali ke rumahnya dan di terima walaupun terlihat canggung. Aku mengajaknya jalan-jalan keluar malam dan bertemu dengan Anggara mantan Ratih, aku tahu dia belum menikah mungkin dia masih mencintai istriku.


Aku tidak cemburu bahkan jika aku meninggal, aku akan menitipkan Ratih pada Anggara. Aku meminta Risen dari kantor lalu melamar kerja jadi OB di kantor Anggara agar aku bisa memantau Ratih.

__ADS_1


Namun tubuhku semakin lemah malam acara kantor, aku tidak ingin pergi tapi tidak enak jika harus menolak permintaan Ratih. Aku pun ikut pergi dan malam itu Rahasia yang selama ini aku simpan terbongkar, kini dia pun pergi karena kesalahpahaman ini.


__ADS_2