
"Mas lihat itu?" Aku menunjukkan pak Sanjaya juga ada disana, apa pak Sanjaya juga terlibat.
Drrt.. Drrt...
Getaran ponsel mengalihkan pandanganku, aku melihat ponsel ternyata no tadi siang menghubungiku.
"Bagaimana ini, Mas," tanyaku pada mas Rahman.
"Kamu angkat saja, biar kita tahu siapa lelaki itu," kata mas Rahman.
Aku pun mengangkat panggilannya lalu mengeraskan volume suara.
"Hallo sayang, apa kamu sudah sampai?"
"Belum, jalanan macet sebentar lagi aku akan datang kok," ujar ku di sambungan telepon.
"Baiklah, jangan lama-lama karena kami sangat merindukan,"
"Hahaha," suara tertawa terdengar nyaring, artinya dia tidak sendiri berarti mereka ada dua orang bahkan lebih. Bagaimana ini, aku menatap mas Rahman.
"Maaf, aku lama?"
Aku melihat ke arah belakang lalu terlihat Anggara bersama perempuan tapi siapa? Aku tidak pernah melihatnya membawa perempuan selama ini.
"Kamu bawa siapa?" tanyaku.
"Dia Stefani, dia yang akan masuk ke sana dan kita diluar yang akan menjebaknya," kata Anggara.
"Tapi lihatlah dia begitu ketakutan," kata ku melihat gadis bernama Stefani menggigit bibirnya.
__ADS_1
"Kamu yakin," aku kembali menatap Anggara.
"Bukankah dia pernah melakukan itu padaku,"
"Maksud kamu apa..?
"Sudah, hal itu tidak penting yang penting bagaimana caranya kamu masuk ke dalam kamar itu," kata Anggara.
Anggara menceritakan misinya untuk membantu kami, aku juga harus ikut masuk karena aku takut terjadi sesuatu padanya.
Kini kami berada dalam kamar, lampu sengaja kami matikan agar mereka tidak tahu wajah kami, hanya lampu tidur saja yang di hidupkan.
"Hai sayang, aku kangen banget sama kamu," Aku berdiri di belakang jendela, lalu menghidupkan rekaman video untuk bukti.
Lelaki tersebut terus menjalankan aksinya pada Stefani, ia hanya diam dan dapat ku lihat tubuhnya yang gemetar.
Stefani mencoba menjauhkan tangan tersebut dari tubuhnya.
Aku menutup mulut mendengar semua itu, aku tidak percaya jika pak Sanjaya yang sudah melakukan semua ini.
Stefani hanya diam seperti perintah Anggara.
Seseorang mulai masuk lagi, kali ini aku tahu siapa dia. Ya, pak Sanjaya ternyata benar dialah akar masalah ini.
"Bagaimana, apa dia menolak?" Kata pak Sanjaya, aku terus merekam walaupun dengan rasa yang tidak bisa aku percaya.
Lelaki tersebut terus mencoba untuk membuka baju Stefani tapi ia selalu menghindar sehingga tamparan mendarat di pipinya.
Plak....
__ADS_1
Tangan sudah melayang di pipinya, ia di lemparkan di atas ranjang. Kemana mereka, aku takut mereka semakin memperlakukan Stefani sesuka hati.
"Apa yang kalian lakukan...!"
Pintu terbuka dan lampunya nyala seketika, Stefani mendorong pak Sanjaya hingga terhuyung ke belakang, ia berlari ke arah Anggara seakan meminta bantuan.
"Tolong, Pak. Saya mau dinodai," kata Stefani menangis seakan dia benar dianiaya, rambutnya sudah acak-acakan dan bajunya koyak agar terlihat begitu tersiksa.
"Anggara, kamu ke...!"
"Apa, Pa! papa mau bilang kenapa aku ada disini begini hah!" teriak Anggara.
Bugh....
Bogeman mentah mendarat di wajah pak Sanjaya, Stefani hanya diam sepertinya dia ketakutan. Polisi menangkap pak Sanjaya dan temannya.
"Papa di jebak sama perempuan itu, percayalah papa tidak melakukan ini semua," kata pak Sanjaya mencoba mengelak.
Anggara masih dengan nafas yang memburu, aku memeluk Stefani karena ia masih saja menangis. Pak Sanjaya sudah di bawa keluar dari hotel.
"Sebaiknya kita pergi saja dari sini?" ujar mas Rahman mengangguk.
Kami keluar dari hotel tersebut tapi bukankah pak Yanto juga ada disana tadi lalu dimana dia sekarang. Kami terus berjalan melewati orang-orang yang menatap ke arah kami.
"Terimakasih karena sudah menolong kami, kalau bukan karena bantuan kami mungkin sampai saat ini kami tidak tahu siapa yang sudah menghancurkan kehidupan Silvi," kata Mas Rahman.
"Tidak apa-apa? kalau begitu kami duluan, Stefani kamu tidak apa-apa," tanya ku pada Stefani.
"Aku tidak apa-apa kok Mbak?" ujar Stefani.
__ADS_1
"Anggara, Stefani kami pulang dulu ya?" ujar mas Rahman pamit. Kami pun pergi meninggalkan hotel itu, besok kami akan ke kantor polisi untuk menemui pak Sanjaya, Sementara Anggara pulang bersama Stefani.