
Aduh, bagaimana ini? Kenapa pakai jatuh segala sih tompel, kalau ketahuan bisa apes aku.
"Rara, kamu tidak apa-apa?" tanya mas Rahman mencoba membantuku.
Aku mengambil tompel tadi meletakkan di pipi, lalu bangun mengambil boneka yang jatuh.
"Maaf ya, Pak! Mainan untuk putri bapak jatuh," kata ku bersedih lalu mengambil boneka tadi.
"Tidak apa-apa, Ayo!" Mas Rahman mengajakku ke toko baju anak-anak dan aku pun mengikutinya, di belakang mas Rahman aku memperbaiki tompel tadi agar dia tidak curiga kalau tompel palsu ini sudah berpindah tempat.
"Tolong pilihkan baju untuk putriku!" Kata mas Rahman.
Aku berjalan mengelilingi baju semuran dengan Rania, mata ku terpana melihat baju kembang ada pita di belakang kalau memakai baju ini dia pasti bagaikan princes.
Aku mengambil beberapa style baju untuk putri lalu memperlihatkan pada mas Rahman.
"Bagaimana, apa ini bagus pak?" tanya ku memperlihatkan baju untuk Rania putriku.
"Kok kamu tahu ukuran putriku padahal kan kamu tidak lihat dia seperti apa? Bahkan aku papanya saja tidak tahu ukuran apa yang di pakai putriku,"
Kata-kata mas Rahman membuat aku terdiam, dia benar aku kan sedang menyamar jadi Rara bukan Ratih.
"Bu..kan seperti itu pak, kami kan perempuan tentu lebih tahu tentang anak-anak," kataku berkilah.
"Apa bapak mencurigai saya?" tanya ku keceplosan.
Mas Rahman mengerutkan kening"Mencurigai, apa kamu menyembunyikan sesuatu dari saya?"
Mas kembali berbalik bertanya, mati aku! Kenapa aku harus bertanya seperti itu. Apa yang harus aku jawab, kenapa jantung ini semakin dag Dig dug.
"Sudah, jangan tegang gitu! Sini biar aku yang membayarnya." Kata mas Rahman mengambil pakaian tadi lalu berjalan ke kasir.
Aku hanya diam berjalan ke luar toko menunggunya disana, tak ada yang dapat ku lakukan sampai mas Rahman datang.
"Kenapa menunggu disini?" Aku menoleh ke asal suara ternyata Mas Rahman sudah selesai membayar belanjaannya.
"Tidak apa-apa, Pak. Apa kita pulang sekarang?" tanyaku.
"Iya, Ayo!"
Kami berjalan untuk turun ke bawah dengan eskalator tapi langkah mas Rahman terhenti kala melihat toko perhiasan, apa dia ingin membelinya.
"Kok berhenti, pak?" tanyaku.
"Ah, tidak! Kamu turun duluan saja, aku ada perlu sebentar," kata Mas Rahman.
"Ah, baik pak!" Mau kemana dia, apa dia mau ke toko berlian itu tapi mana mungkin lagian mas Rahman punya uang dari mana. Kan mas Rahman tidak bekerja.
Aku turun ke bawah sendirian dengan menenteng beberapa paper bag, aku berjalan keluar menunggu taxi datang tapi lidah ku ingin sekali memakan eskrim yang sering ku lakukan jika jalan berdua bersama mas Rahman.
"Pak, eskrimnya satu ya?" kata ku memesan satu eskrim rasa strawberry kesukaanku.
__ADS_1
"Ini uangnya, Pak!" kata ku setelah pesanku di berikan.
Aku memakan eskrim, rasa strawberry sangat terasa dan eskrimnya sangat lembut membuatku terus ingin memakan eskrim yang ada dalam mangkok kecil ini.
"Ternyata kamu disini,pantesan di cari kemana-mana gak ada?"
"Maaf pak tadi saya mau pengen makan eskrim, bapak mau eskrim," tanya ku memakan eskrim dengan lahap
"Tidak, cara makan eskrim kamu mirip sekali dengan seseorang!"
"Siapa?"
"Ratih..."
Uhuuk... Uhuuk...
Aku terbatuk kala nama ku sendiri di sebut, aku meletakkan mangkok eskrim yang sudah habis lalu berdiri menatap ke arah Mas Rahman.
"Ratih, maksud bapak istri bapak begitu!" tanyaku.
"Iya, dia sangat suka dengan eskrim. Cara makannya sangat mirip dengan kamu,"
Mas Rahman mengingat saat kami memakan eskrim bersama, tapi di saat aku bersamanya bahkan dia tidak bisa mengenali istrinya.
"Ayo, apa kau sudah selesai makan eskrim!" tanya mas Rahman lagi.
Aku hanya mengangguk lalu mengambil belanjaan yang begitu penuh di tangan ku. Kami berjalan ke arah taxi lalu pulang.
Tak lama kemudian, kami sampai di rumah dan membawa belanjaan ke dapur untuk di tata di dalam kulkas. Sementara mas Rahman sudah masuk ke kamarnya.
Selesai menata semua belanja di dalam kulkas, aku berjalan ke kamar untuk istirahat. Makanan tadi siang masih ada dan nanti aku hangatkan saja untuk makan malam.
*** ***
Langit senja mulai nampak memerah, burung-burung mulai kembali ke sarangnya begitu jangan orang-orang yang tadi bekerja di luar kini kembali kerumahnya.
Aku menyiapkan makan malam untuk mas Rahman, untuk saat ini aku belum tahu bagaimana kondisi mas Rahman, apakah dia sudah sembuh atau masih harus cek up setiap seminggu sekali.
"Pak, makanan sudah siap?" kataku.
"Iya, sebentar lagi aku makan!" Kata mas Rahman.
Aku kembali ke kamar untuk menghubungi Anggara kalau aku mengambil cuti untuk satu bulan karena aku tidak mungkin bisa membawa mas Rahman pulang dalam kurun waktu satu minggu.
Drrtt...Drrtt...
Suara ponsel Anggara bergetar tapi tidak di angkat, aku kembali menghubunginya hingga ketiga kali baru tersambung.
"Hallo, Anggara!"
""^-^"
__ADS_1
"Aku mau izin cuti selama satu bulan?"
""^-^,"
"Kalau begitu terimakasih karena sudah memberiku izin," kata ku berucap terima kasih pada Anggara.
Aku merebahkan tubuh ini ke atas tempat tidur walaupun tidak empuk tapi cukup untuk membuat orang tertidur.
Kediaman keluarga Anggara
Anggara kembali meletakkan ponselnya di atas nakas, dia berjalan menuju balkon kamarnya. Hati dan pikirannya menerawang pada Stefani yang sudah pergi ke London, ia pun tidak tahu kapan Stefani pulang.
Dia merasa bersalah karena bersikap kasar pada Stefani tempo hari dan kini dia merindukan sosok gadis itu, namun apalah daya. Hanya bisa merindukan tanpa bisa menggenggam.
Semakin ia jauh dari Stefani, semakin bayangan itu menghantuinya. Rasa yang di acuhkan dulu kini tumbuh menjadi cinta.
"Kapan kamu akan kembali," gumam Anggara menatap bulan yang bersinar terang di langit kelam. Lelah menatap langit tanpa bintang, Anggara masuk kembali ke kamarnya lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang berukur size miliknya dan mematikan lampu tidur.
*** ***
Hari telah berganti, Silvi dan Bu Romlah sedang duduk sembari memangku rania yang hari ini sudah berumur 2 tahun.
"Bu, mbak Ratih pulang gak ya! Hari ini kan ulang tahun Rania," kata Silvi memakai kue buatannya ibunya.
"Iya, apa kakak mu lupa kalau hari ini ulang tahun Rania tapi bagaimana kakak mu pulang, dia sedang menyamar," kata Bu Romlah mengelus puncak kepala cucunya.
Sementara Rania asik bermain dengan mainan di tangannya, sesekali ia mengeoceh memanggil mamanya.
"Lalu, kita harus bagaimana Bu?" tanya Silvi bingung.
"Ibu gak tahu, sebaiknya kita hubungi kakak mu saja," kata Bu Romlah mengambil ponsel lalu menghubungi Ratih untuk menanyakan tentang ulang tahun Rania.
Nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi
Suara operator yang berbicara membuat Bu Romlah kembali meletakkan ponselnya.
"Tidak di angkat sama kakakmu!"
"Ya sudah kalau begitu!" Kata Silvi.
Bu Romlah kembali menikmati secangkir teh buatannya, ia berharap Rahman akan sadar dengan perbuatannya bahkan yang di lakukannya itu salah.
Ting...tong....tong....
Suara bel berbunyi membuat Bu Romlah menggerutu.
"Siapa sih pagi-pagi bertamu!" Kata Bu Romlah berjalan hendak membuka pintu.
Ceklek....
"Rahmannn"
__ADS_1