Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang

Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang
Ketika istriku tak lagi meminta uang 117


__ADS_3

Bugh.....


Aku tidak sengaja menabrak seseorang yang berada di depan ku karena sedang mengambil ponsel yang sedang berdering di dalam tas.


"Maaf, saya tidak sengaja..." kataku terhenti kala melihat seseorang lelaki yang begitu angkuh berdiri tepat di depan ku.


"Apa kamu tidak punya mata sehingga kamu menabrak ku," tanya lelaki tersebut memakai jas berwarna navy.


"Bukankah aku sudah minta maaf, lagian mungkin kamu pakek kacamata terlalu tebal sehingga gak bisa liat jalan," kataku emosi.


Pagi-pagi sudah di sajikan pertengkaran dengan lelaki yang sangat pongah, baru kali ini aku bertemu dengan lelaki yang berbicaranya sangat angkuh.


"Berani sekali kau?" kata lelaki tersebut mengepalkan tangannya.


"Maaf ya pak, mungkin teman saya tidak lihat bapak berjalan." Kata Anggara menarik tanganku untuk masuk ke dalam cafe.


Kami duduk di meja no sembilan, Anggara memanggil waiters untuk memesan minuman sedangkan aku hanya diam. Pagi-pagi sudah di buat kesal.


*** ***

__ADS_1


"Papa dimana? aku sudah sampai lhoe di cafe yang papa sebutin tadi," kata lelaki yang tadi di tabrak oleh Ratih.


"Tuan, apa sebaiknya kita tunggu di dalam saja," kata Joseph asisten Afnan.


"Baiklah, aku tunggu papa disini!" kata Afnan mematikan ponselnya, ia kembali memasukkan ponsel tadi ke dalam saku celananya.


Tak lama kemudian, pak Brata sampai di cafe selayang pandang untuk meeting bersama Anggara. Mereka bertiga pun masuk ke dalam cafe, terlihat pak Brata berjalan ke arah Ratih dan Anggara.


"Kenapa lelaki ini kembali kesini?" gumam ku sendiri saat lelaki yang aku tabrak tadi berjalan ke arah kami.


"Pak Anggara ya?" kata seseorang paruh baya.


Ternyata dia adalah pak Brata, orang yang akan bekerjasama dengan perusahaan kami tapi lelaki ini siapa? kenapa dia ada disini.


"Kenalkan ini anak saya, namanya Afnan," kata pak Brata memperkenalkan putranya.


Kenapa pak Brata sampai mempunyai putra ngeselin seperti dia, aku menoleh ke arah pak Brata.


"Apa bisa kita mulai pak?" kata Anggara memulai pembicaraan tentang kerja sama antara kedua perusahaan ini.

__ADS_1


Meeting berjalan dengan lancar tapi tidak bagi lelaki yang ada di depan aku, dari tadi dia menatap ke arah ku tanpa berkedip. Entah apa yang dia lihat tapi tunggu, matanya mirip sekali dengan seseorang tapi siapa?.


Ah, aku ingat! matanya mirip sekali dengan mas Rahman, bibirnya juga. Ya Tuhan, kenapa aku baru sadar jika mata mirip sekali dengan suamiku.


Apa mereka kembar? aku menggelengkan kepala berharap aku salah menilai tapi tidak, matanya mirip sekali dengan mas Rahman.


"Kenapa melihat aku seperti itu, apa aku mirip dengan suamimu?" kata Afnan.


Kenapa dia tahu apa yang aku pikirkan, apa dia pandai dalam membaca pikiran orang lain.


"Tidak, kenapa kau bilang begitu!" kata ku mengelak.


Dia hanya tersenyum lalu mengalihkan pandangannya, aku meminum jus yang aku pesan. Aku mengalihkan pandangan ke arah lain.


"Semoga kerjasama antara kita berjalan dengan baik, saya tidak akan mengecewakan bapak," kata Anggara menjabat tangan pak Brata.


"Afnan akan bekerja di kantor bapak karena kami yang menanam saham," kata Pak Brata.


"Baiklah Pak, saya setuju," kata Anggara,aku hanya diam tanpa berkata apapun. Selesai meeting kami kembali ke kantor bersama Anggara, hari ini cukup membuat aku kesal.

__ADS_1


"Kita akan sering bertemu, sayang!" gumam Afnan.


__ADS_2