
"Peluang apa, Mas!"
Wajah mas Rahman tersenyum merekah, ia berjalan ke arahku yang masih duduk di depan cermin. Aku hanya tersenyum melihat ia menahan gairah.
"Peluang untuk membuat adek baru untuk Rania," kata Mas Rahman menggoda ku, aku terkikik geli melihat mas Rahman dengan wajah bersumbu merah. Mungkin ia sekuat tenaga menahan hasrat yang sudah menggebu-gebu.
"Aku capek, ayo kita tidur Mas," kata ku sengaja mengajaknya untuk tidur, aku berjalan menaiki ranjang lalu membaringkan tubuh yang lelah ini.
"Yah, gagal deh bikin adek buat Rania," mas Rahman cemberut menggantikan baju yang di pakainya dengan piyama pendek, lalu menaiki tempat tidur dan menenggelamkan wajahnya di bawah selimut.
Aku hanya tersenyum melihat mas Rahman bagaikan anak kecil yang di ambil mainannya, aku memeluknya dari belakang berharap ia mau berhadapan dengan ku.
"Mas, jangan cemberut begitu dong?"
Diam hening tidak ada jawaban, mungkin mas Rahman sudah tidur. Aku pun berbalik badan memungungi mas Rahman.
"Tetaplah seperti ini...!"
Mas Rahman memelukku ternyata dia belum tidur, lalu kenapa tadi hanya diam. Aku memejamkan mata berharap dia akan percaya kalau aku sudah tidur.
Hembusan nafas menerpa telingaku, aku yakin mas Rahman belum tidur sama sekali.
__ADS_1
"Selamat tidur sayang, semoga kamu kuat di saat aku pergi nanti,"
"Mau pergi kemana, Mas?" tanya ku berbalik badan menghadap padanya. Terlihat mas Rahman kaget dan menghapus air matanya, apa mas Rahman menangis tapi kenapa.
"Kamu belum tidur, mas pikir kamu sudah tidur," kata mas Rahman mengalihkan pembicaraan.
"Aku tanya, kamu mau pergi kemana mas,"
Tanyaku pada mas Rahman, pandangan kami saling beradu. Hanya terdengar jam berdetak.
"Mas tidak kemana-mana kok, mungkin kamu salah dengar," kata mas Rahman mengelak.
Padahal aku benar dengar kalau mas Rahman benar-benar ingin pergi. kenapa dia selalu mengelak setiap kali aku menanyakan "kemana dia akan pergi".
"Jangan pernah menangis, mas tidak ingin melihat air mata ini. Mas sangat menyayangi mu dan putri kita."
Cup...
Mas Rahman menarik aku dalam pelukannya, lalu menghapus air mataku yang sudah jatuh tanpa di minta.
"Kalau Mas tidak mau aku menangis, kenapa Mas menyembunyikan sesuatu dariku. Katakan Mas, apa yang kamu sembunyikan dariku," kata ku.
__ADS_1
Mas Rahman menghela nafas, ia turun dari ranjang lalu berjalan ke dalam lemari dan mengambil sesuatu disana, mas Rahman kembali ke ranjang lalu memberikan sebuah amplop berwarna putih.
"Apa ini, Mas?" Aku mengambil amplop putih yang ada di tangannya dan membukanya, perlahan aku membacanya. Air mata ini terus jatuh perlahan saat aku membaca kertas yang ada di tangan ku ternyata surat dari rumah sakit, Mas Rahman di vonis mengidap penyakit leukemia stadium 4.
Hati ku hancur, mas Rahman menyembunyikan hal sebesar ini padaku dan tidak memberitahu ku selama ini, apa karena ini membuat mas Rahman Rahman berubah terhadap ku.
"Kenapa kamu sembunyikan semua ini dariku, apa aku ini tidak berhak tahu tentang penyakit kamu, aku ini istrimu. Sejak kapan kamu mengidap penyakit ini, Mas?" tanya ku memukuli dadanya dengan tangan ku, hatiku menjerit mendengar ini semua.
"Semenjak dua tahun yang lalu!" mas Rahman menundukkan kepala.
Apa, dua tahun yang lalu. Apa ini alasan kamu dulu, memberikan aku sedikit uang agar aku membenci mu dan menganggap kamu suami pelit yang hanya menyakiti istrimu.
"Apa semua yang terjadi dua tahun. Kamu mulai berubah dan pelit terhadap ku, apa semua karena penyakit ini Mas," tanyaku menggoyang tubuhnya yang menunduk, tidak ada jawaban. Hanya Isak tangis yang terdengar, aku hanya bisa menangis tidak menyangka ia rela menyembunyikan sakitnya terhadap ku.
"Maafkan, Mas. Mas hanya tidak ingin membuat kamu sedih memikirkan tentang penyakit yang mas Derita," kata mas Rahman menunduk, ia belum juga berani menatap ke arahku.
"Apa waktu mas di pecat itu juga alasan agar aku semakin membenci mas dan agar aku bisa bekerja,"
Mas Rahman hanya mengangguk, tubuhnya berguncang tandanya ia menahan tangis. Apa sesakit ini yang kamu rasakan, rela di benci istrimu. Aku menatap mas Rahman yang masih tergugu dalam diam, Aku memeluk mas Rahman untuk menguatkannya.
Hening, tidak ada lagi tangisan. Deru nafasnya seakan berhenti, aku meraba wajahnya dengan tanganku.
__ADS_1
"Mas, mas Rahman!" Aku mencoba memanggil mas Rahman yang masih berada dalam pangkuanku. Darah mengalir dari hidung mas Rahman dan mencoba untuk membersihkannya.
Ternyata mas Rahman pingsan, sebaiknya aku bawa mas Rahman ke rumah sakit agar bisa di tangani oleh dokter.