Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang

Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang
Ketika istriku tak lagi meminta uang 49


__ADS_3

"Maaf, Pak. Di luar ada seseorang yang menunggu bapak,"


"Siapa...!"


"Saya tidak tahu, Pak," kata karyawan tersebut berlalu pergi meninggalkan ruang Anggara. Anggara yang merasa penasaran lalu berjalan menuju lift lalu turun untuk melihat siapa yang ingin menemuinya.


Sampai di lantai dasar, Anggara terkejut melihat perempuan tersebut datang ke kantornya.


"Ngapain kamu kesini?"


"Saya hanya mengantar makanan untuk bapak, ibu Sonya yang menyuruh saya,"


Stefani memberikan rantang pada Anggara bukannya mengambil tapi menyuruh Yogi untuk mengambilnya.


"Yogi, ambil rantang itu dan kamu pulang sekarang," usir Anggara menatap tajam ke arah Stefani.


Stefani hanya mengangguk lalu keluar dari kantor menuju pak Mamat yang sedang menunggunya mengantarkan makanan.


"Bos, perempuan tadi siapa?" tanya Yogi.


"Dia Stefani...! Ayo cepat kita hampir terlambat," kata Anggara berjalan menuju mobilnya.


Anggara masuk ke mobil begitu juga dengan Yogi yang mengemudi. Sementara dia duduk di belakang.


"Kenapa itu kalau bawa ke mobil!" tanya Anggara menunjukkan rantang di samping Yogi.

__ADS_1


"Lalu aku harus menaruhnya dimana, lagian aku ingin merasakan masakan gadis itu Bos dia begitu cantik," kata Yogi tersenyum.


Pletak....


Anggara memukul kepalanya dengan buku membuat ia meringis kesakitan, Yogi menghidupkan mesin mobil lalu mengendarainya dengan kebutuhan sedang.


Dua jam perjalanan, Anggara dan Yogi sampai di hotel Xx untuk bertemu dengan Mr. William bersama kolega-kolega yang lain. Setiap tahun PT, Sanjaya Abadi selalu memenangkan tender dan semoga hari ini mereka juga bisa mendapat tender tersebut.


Mereka berjalan dalam sebuah ruangan yang sudah disediakan, Meja panjang terlihat begitu rap. Beberapa pebisnis sudah datang untuk bisa memenangkan tender ini.


"Selamat datang pak Anggara, kali ini biarkan saya yang memenangkan tender ini," kata salah satu kolega Anggara.


"Boleh...boleh saja," kata Anggara tersenyum mendengar candaan dari sesama pebisnis.


"Kami yang akan memenangkan tender ini," seseorang datang dan berbicara dengan pongahnya, dia adalah pak Hermawan bersama pak Yanto. pak Yanto tersenyum licik ke arah Anggara.


Anggara tidak menanggapi ucapan pak Hermawan, ia menatap pak Yanto yang berdiri di depannya.


"Bagaimana pak Yanto, sudah siap agar tidak spot jantung," kata Anggara.


"Maksud bapak apa berkata seperti itu?" tanya pak Yanto.


"Sebentar lagi permainan tender ini akan di mulai, sebaiknya persiapkan mental sebelum benar-benar di tendang dari sini," Anggara masih bersikap tenang tapi tidak bagi pak Yanto.


Hatinya mulai tak tenang, ia sangat tahu bagaimana kecerdasan Anggara dalam memenangkan tender ini sehingga pebisnis yang lain salut dengan kecerdasannya.

__ADS_1


🌷🌷🌷


Di Rumah Sakit


Kami telah sampai di rumah sakit, mas Rahman sudah berganti pakaian pasien dan sebentar lagi akan melakukan kemoterapi, yang aku tahu kemoterapi itu sakit dan semoga mas Rahman bisa menahan rasa sakitnya.


"Mas, kamu harus kuat." kata ku.


Mas Rahman duduk di atas kursi roda lalu di dorong oleh perawat untuk masuk keruang kemoterapi lalu di susul dokter di belakang.


Kemoterapi bisa berlangsung 2 sampai 3 jam tergantung berapa lama penderita mengidap penyakit Leukemia, aku hanya menunggu di luar. Aku terasa haus lalu berjalan ke luar dari rumah untuk membeli minuman, Aku melihat warga setempat berkerumun di pinggir jalan.


"Ada apa ya, pak? kok rame-rame," tanya ku pada seseorang bapak-bapak jualan cilok.


"Seorang perempuan kecelakaan tabrak lari, neng!"


"Tabrak lari..," Aku melihat warga yang masih berkerumun di tempat kejadian.


Kenapa mereka tidak menolong perempuan tersebut untuk di bawa ke rumah sakit, aku menyebrang jalan untuk melihat melihat perempuan itu dan menolongnya.


"Kenapa tidak di bawa ke rumah sakit saja, Bu?" tanya ku pada seseorang ibu yang berada di depanku.


"Kami tidak berani bertanggung jawab atas perempuan ini, Mbak. Bisa-bisa kami akan menjadi tersangka tabrak lari ini," kata ibu-ibu tersebut.


Aku hanya diam, lalu meminta jalan untuk melihat perempuan tersebut. Mata ku membulat saat mengetahui siapa wanita yang sudah berlumuran darah itu.

__ADS_1


"Silvi...!"


__ADS_2