Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang

Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang
Ketika istriku tak lagi meminta uang 65


__ADS_3

Satu jam perjalanan aku sampai di rumah sakit, aku langsung turun meminta bantuan pada dokter untuk membantuku mengangkat mas Rahman ke atas brankar.


Mas Rahman langsung di bawa ke ruang UGD, aku mengikutinya dari belakang bersama Silvi juga Rania. Aku berjalan mondar mandir di depan ruang UGD, takut terjadi sesuatu pada Mas Rahman.


"Bagaimana keadaan Rahman?" tanya Anggara tiba-tiba, apa dia mengikuti kami kesini.


"Mas Rahman masih di ruang UGD," kataku.


Anggara hanya diam dan ikut menunggu mas Rahman yang masih berada di dalam UGD.


"Minum dulu, mbak," Stefani memberikan minuman padaku, aku pun mengambilnya agar hatiku sedikit tenang.


"Makasih, Stef?" Kata ku.


Lalu ia kembali memberikan minuman pada Anggara, aku dapat melihat kalau Stefani dari tadi memperhatikan Anggara.


Ceklek...


Suara pintu ruang UGD terbuka, aku langsung berdiri menghampiri sang dokter.


"Bagaimana keadaan suami saya, Dok!" tanya ku.

__ADS_1


"Untuk saat ini keadaan suami anda baik-baik saja, kami butuh pemeriksaan lebih lanjut dan suami anda harus di rawat disini agar kami tahu bagaimana perkembangannya."


"Baiklah, Dok kalau begitu terima kasih," kata ku.


Aku menatap ke arah Rania dan Silvi, jika aku di rumah sakit lalu Silvi dan Rania dengan siapa di Villa.


"Kenapa Mbak sepertinya ada yang mbak pikirkan," tutur Stefani.


"Aku khawatir meninggalkan Rania sama Silvi di villa sendirian, Apalagi Silvi masih histeris jika ia mengingat sesuatu. Aku tidak bisa meninggalkan mereka di Villa sendirian," kata ku pada mas Rahman.


"Mbak, tidak usah khawatir. Rania biar aku yang jagain bersama pak Anggara, sementara kami akan tinggal di villa yang bak tempati agar aku bisa menjaga putri mbak," kata Stefani membuat Anggara melongo karena ia harus menginap di villa yang di sewakan oleh Ratih.


Aku menatap ke arah Stefani, aku tidak percaya jika dia bisa menjaga putriku karena aku takut dia akan melakukan hal yang tidak-tidak untuk putriku.


"Mbak tenang saja, aku tahu Mbak khawatir meninggalkan Rania bersamaku tapi aku akan menjaganya," kata Stefani menggenggam tanganku berharap aku akan percaya padanya.


"Baiklah, mbak titip Rania sama Silvi ya?" Kataku mencoba untuk percaya Stefani.


Mereka pun pulang bersama, aku berjalan ke kamar inap yang di tempati mas Rahman. Aku melihat tubuhnya melemah, apa ini akhir dari semua ini.


Aku berjalan duduk lebih dekat agar bisa menatap wajah mas Rahman dengan lekat. Aku tidur di sampingnya berharap ia mau membuka matanya kembali walaupun sesaat.

__ADS_1


**** ****


Akhirnya Mereke sampai di Villa, Rania sudah ketiduran mungkin lelah karena seharian jalan-jalan. Silvi sudah duluan ke kamar sedangkan Stefani mengekor dari belakang.


"Kamu letakkan saja Rania di kamar setelah itu kita makan bersama," kata Anggara.


Stefani hanya mengangguk lalu berjalan masuk ke kamar Stefani dan meletakkan Rania di atas ranjang, Silvi yang baru saja keluar dari kamar mandi hanya diam melihat ke arah Stefani.


"Kamu tidak usah takut, aku disini sama kalian," kata Stefani.


"Terimakasih, Nama kamu siapa?" tanya Silvi.


"Panggil saja Stefani?"


Silvi hanya mengangguk lalu tersenyum mengajak Silvi sekalian untuk makan malam bersama, Di meja makan sudah ada Anggara yang sudah menata bungkusan makanan untukku mereka bertiga.


"Ayo, kita makan," Kata Stefani.


Ting.... pesan masuk di gawainya Stefani lalu membukanya.


[ Lakukan tugas mu secepatnya...! ]

__ADS_1


__ADS_2