Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang

Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang
ketika istriku tak lagi meminta uang 60


__ADS_3

Hari terus berganti, kini pak Sanjaya di jatuh hukuman 3 tahun penjara sedangkan Silvi ia mulai mengingat tentang masa lalunya. Walaupun terkadang ia berteriak histeris di malam hari tapi tak membuat kami semua patah semangat untuk menyembuhkannya.


Aku melihat mas Rahman masih bergelayut manja dengan selimutnya, aku mencoba untuk membangunkannya agar mas Rahman cepat pergi ke restoran.


"Mas, gak pergi ke restoran?" tanyaku.


"Memangnya jam berapa!" tanya mas Rahman yang masih dengan selimutnya.


"Jam 08.00,"


"Apa, kenapa kamu tidak bilang kalau sudah jam 08.00,"


"Memangnya kenapa, Mas?" tanya ku mas Rahman berlari ke kamar mandi, aku merapikan tempat tidur yang masih berantakan.


Weekend kali ini, aku hanya di rumah saja bersama Rania. Ku lihat mas Rahman sudah keluar dari kamar mandi, ia memakaikan pakaian baju kemeja panjang dan celana jeans warna hitam.


"Mau kemana, Mas!" tanya ku melihat mas Rahman sudah rapi.


"Kita akan pergi jalan-jalan, bereskan pakaian untuk kita kesana?" kata mas Rahman.


"Apa kita nginap, Mas?" tanya ku penasaran mau di ajak jalan-jalan kemana.


"Iya, masukkan keperluan kita selama disana," mas Rahman menyisir rambutnya.


"Kenapa mendadak begini, Mas," tanyaku.


Aku mengambil koper lalu memasukkan beberapa helai baju untuk ku, Rania dan mas Rahman ke dalam koper, aku mengganti baju dengan one set.

__ADS_1


"Apa ibu juga ikut?" tanya ku lagi.


Mas Rahman berbalik badan berjalan ke arah ku yang sedang mengisi koper dengan baju-baju.


"Tidak, ibu tidak hanya kita bertiga. Sekalian honeymoon untuk kita berdua biar bisa buat adek untuk Rania,"


Mas Rahman menaikkan kedua alisnya, aku hanya tersenyum melihat ia selalu menggoda ku. Selesai memasukkan baju di dalam koper, mas Rahman membawanya ke bawah.


Aku menuruni tangga, tak lupa tas selempang bertengger di bahuku. Aku melihat ibu dan Silvi sedang menonton.


"Kakak, mau kemana?" Silvi bertanya pada kamu yang sudah menuruni tangga yang terakhir.


"Kakak mau pergi jalan-jalan,"


"Aku boleh ikut," pinta Silvi.


"Aku boleh ikut, aku mohon," kata Silvi lagi.


"Boleh tapi ingat Silvi jangan teriak disana nanti?" Kataku.


Aku mengingatkan dirinya agar tidak berteriak, takut disana nanti dia di anggap gila.


Ia berjalan ke kamar mungkin ingin mengemasi pakaiannya sendiri. Ia kadang bersikap lembut, kadang juga kasar mungkin karena ia belum bisa mengontrol emosinya.


****


Perjalanan menuju arah luar kota, mas Rahman menyewa mobil untuk satu Minggu ke depan. Aku duduk bersama mas Rahman sedangkan Silvi duduk di belakang, ibu tidak ikut karena kasian Siti tinggal sendirian di rumah.

__ADS_1


"Mas sebenarnya kita mau kemana?" tanya ku pada mas Rahman.


"Kita mau liburan ke Bandung?" ujar mas Rahman.


"Kita akan tinggal di Villa, mas ingin menikmati suasana desa," kata Mas Rahman tersenyum, mobil terus berjalan.


Aku melihat Silvi sudah tidur di kursi belakang, perjalanan masih lama. Sebaiknya aku tidur saja, biar nanti tubuh ku segar.


******


Di kediaman Anggara


"Pak, saya mau minta izin pulang?" Kata Stefani.


"Kenapa!" tanya Anggara datar menatap Stefani yang berdiri tepat di depannya.


"Ibu saya sakit keras dan saya harus pulang sekarang, Pak," kata Stefani.


"Baiklah, kemasi barang mu?" Kata Anggara.


Anggara berjalan ke kamar sementara Stefani mengemasi bajunya untuk segera pulang karena ibunya mendadak sakit. Selesai mengemasi baju, Stefani keluar dari kamar menuju pintu depan agar ia bisa cepat ke terminal.


"Sudah siap, ayo?" Stefani menatap bingung ke arah Anggara, melihat pakaian sudah berganti dengan kemeja lengan panjang dan celana jeans berwarna hitam.


"Bapak mau pergi kemana?" tanya Stefani.


"Ke rumah kamu?"

__ADS_1


"Apa...!"


__ADS_2