
Silvi mulai tidur kembali setelah dia tenang, sepertinya memang ada sesuatu yang membuat ia bisa histeris begitu. Aku melihat jam masih pukul jam 2 pagi, aku mencari minum karena haus karena gelap aku menjatuhkan seseorang di bawah.
Karena penasaran, aku merabanya dan menemukan sesuatu seperti ini ponsel tapi milik siapa, aku mencoba untuk menghidupkan ponsel tersebut tapi tidak bisa, ternyata ponselnya mati. Sebaiknya aku charge saja agar besok bisa membukanya. Siapa tahu besok aku bisa mencari informasinya.
Aku kembali meletakkan ponsel itu diatas nakas lalu menchargernya, aku tidur kembali agar besok tubuhku kembali fit.
🍁🍁🍁
Aku terbangun kala cahaya matahari memantulkan ke dinding jendela sehingga membuat mataku silau, aku terbangun dan berlalu ke kamar mandi untuk mencuci mu.
Terlihat Silvi masih tidur mungkin semalam ia tidak bisa tidur karena ia selalu mengigau, aku berjalan keluar untuk membeli nasi bungkus untuk ku dan juga untuk Silvi, semoga hari ini dia mau berbicara banyak.
Tak lama kemudian, aku kembali ke kamar karena aku tidak berani meninggalkan Silvi sendirian. Ku lihat mas Rahman duduk di luar, kapan mas Rahman datang dan kenapa tidak masuk ke dalam.
"Mas kok masih di luar, ayo masuk," ajak ku.
"Mas di luar saja, tadi Silvi histeris saat melihat aku katanya jangan menyakitinya," kata mas Rahman.
Aku membulatkan mata mendengar perkataan mas Rahman, apa dia trauma dengan laki-laki.
__ADS_1
Aku masuk ke kamar lalu berjalan mendekati Silvi yang sudah terbangun. Aku membuka bungkus makanan kesukaannya, ayam goreng.
"Kamu tadi kemana saja," tanya Silvi.
"Tadi aku beli makanan sebentar, memangnya kenapa?" tanya ku menyuapi nasi ke dalam mulutnya.
"Tadi ada lelaki datang kesini dan aku langsung mengusirnya," kata Silvi. Ia sudah mau bercerita jika di bahas tentang yang lain tapi jika di tanyakan tentang dirinya, ia menjadi pendiam.
"Kamu tahu siapa?" tanyaku.
Silvi menggeleng lemah artinya dia tidak kenal dengan mas Rahman. Hanya dengan ku ia mau berbicara.
"Lalu itu siapa?" tunjuk Silvi.
Ya salam, bahkan ia tidak ingat dengan ibunya sendiri.
"Dia juga ibuku, sudah habiskan makan mu setelah itu minum obat agar kamu cepat sembuh." Kataku. Aku memberikan makana padanya, lalu ibu berjalan mendekati ku.
"Boleh aku menyuapi mu," tanya ibu pada Silvi, ia malah melihat ke arah ku mungkin meminta persetujuanku. Aku mengangguk tanda setuju begitu juga yang dia lakukan pada ibu.
__ADS_1
Selesai makan, aku berjalan keluar lalu mengajak mas Rahman ke taman. Tak lupa ponsel yang sengaja ku cas tersebut iku aku bawa agar kami bisa mencari bukti tentang apa yang menimpa Silvi.
"Kamu mengajak mas kesini untuk apa?" tanya mas Rahman.
Aku hanya diam, lalu duduk di kursi kosong di taman rumah sakit. Aku menekan tombol untuk menghidupkan ponsel tersebut, mas Rahman melihat ke arah ku.
"Ponsel siapa?"
"Saya juga gak tahu, Mas. Makanya aku mengajak kamu kesini untuk melihat ponsel ini, bisa saja kita bisa menemukan petunjuk dari ponsel ini," kata ku.
Akhirnya ponsel ini menampakkan foto seseorang, benar ini ponsel Silvi. Aku melihat panggilan terakhir di ponselnya tpi tidak menemukan apapun, di aplikasi berlogat F, di aplikasi WhatsApp nya juga tidak ada yang mencurigakan.
Aku sedikit frustasi masalah yang sedang menimpa keluargaku.
"Bagaimana ini, Mas. Tidak ada petunjuk apapun disini." Kata ku memperlihatkan pada mas Rahman.
Ting....
Bunyi pesan masuk terdengar dari ponsel Silvi, kami membukanya betapa terkejutnya aku ketika membaca ponsel tersebut. Aku tidak menyangka jika Silvi melakukan hal tersebut.
__ADS_1
[ Aku tunggu kamu jam 8 malam di hotel xx ]