Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang

Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang
Ketika istriku tak lagi meminta uang 85


__ADS_3

Ceklek...


Rahman menekan handle pintu sehingga pintunya terbuka dan terlihat seorang laki-laki tampan memakai jas putih berdiri tepat di depan dengan bibir merah dan senyum merekah menambah ketampanannya.


"Dokter Fadli, masuklah," kata Rahman mempersilahkan Dokter Fadli masuk, lelaki yang sudah berjasa dalam hidupnya.


"Ada apa, Dok? tumben datang kesini, biasanya aku yang kesana," kata Rahman tersenyum.


Dokter menatap Rahman lalu melihat seisi rumah yang sangat rapi dan bersih.


"Kenapa kamu tidak cek up ke rumah sakit padahal aku sudah bilang jangan sampai kamu tidak cek up," kata Dokter Fadli menyilangkan kakinya.


"Memangnya hari ini tanggal berapa?" tanya Rahman linglung.


"Tanggal 5, apa kamu lagi amnesia," kata Dokter Fadli.


"Yah, aku lupa dok soalnya aku hari ini terlalu bahagia karena bisa bertemu dengan anakku." Kata Rahman antusias, dia sampai lupa membuatkan minuman untuk Dokter Fadli.


"Apa kamu juga bertemu dengan istrimu?" Tanya Dokter Fadli penasaran dengan istri Rahman tapi di balik dinding, Ratih mendengar pembicaraan yang sedang memegang nampan untuk mengantarkan segelas minuman.


"Dia tidak ada di rumah, suatu saat kami pasti bertemu?" Kata Rahman tersenyum.


"Ah, aku sampai lupa nawarin minum sama Dokter?" Kata Rahman menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Maaf, Pak. Makan malamnya sudah siap?" Kataku berjalan ke arah mereka.


Aku melihat mas Rahman sedang ada tamu, siapa lelaki itu.


"Ah, kebetulan sekali ini! Aku lagi laper, makan Ah," kata Dokter Fadli berjalan ke dapur menuju meja makan sedangkan mas Rahman hanya tersenyum sembari menggeleng kepala.


"Siapa itu, Pak?" tanyaku penasaran.


"Pemilik rumah ini, ayo kita makan sama-sama?" Kata Mas Rahman mengajak ku makan satu meja dengan Dokter Fadli yang baru saja aku ketahui namanya.


"Wah, makan enak ala restoran ini!" Kata Dokter Fadli melihat cumi-cumi asam pedas dan ikan goreng yang terhidang di atas meja.


Mas Rahman duduk di dekat dokter Fadli sedangkan aku memilih berjalan ke dapur, aku makan saja di dapur dari pada malam dengan dokter Fadli aku merasa lalu.


"Rara, kamu mau kemana? Makan disini saja!" Kata Mas Rahman membuat dokter Fadli kembali menoleh ke arah ku.


"Iya, makan saja disini!" Kata Dokter Fadli mengambil nasi dalam centongannya.


Aku berjalan menarik kursi di depan mereka berdua, aku merasa canggung karena aku tidak mengenal dokter Fadli.


"Eh, tunggu! Kayaknya aku pernah lihat kamu tapi dimana," kata-kata dokter Fadli membuat mataku membulat, mana mungkin dia mengenalku. Aku saja tidak mengenalinya sama sekali.


"Mana mungkin kamu mengenalnya, Rara baru dua bekerja disini!" Kata mas Rahman mengambil cumi-cumi dan ikan gurame.


"Iya, aku ingat aku pernah melihat kamu di Bandung tapi disana kamu tidak pakai kaca mata,"


Uhuuk... Uhuuk...


Aku terbatuk saat mendengar perkataan dokter Fadli, aku mengambil air minum dan meminumnya.


"Rara, kamu kenapa?" tanya mas Rahman.


"Aku tidak apa-apa, hanya keselek saja?" Kata ku melanjutkan makan.


"Dokter pernah melihat Rara, dimana?" Rahman kembali melanjutkan pertanyaan yang tertunda. Kenapa harus di tanyakan kembali, semoga saja dokter Fadli hanya mengada-ada.

__ADS_1


"Di kota Bandung, waktu itu kami berdua tak sengaja bertabrakan di koridor rumah sakit," kata Dokter Fadli sambil makan.


Pikiranku melayang pada waktu tempo hari selama di kota Bandung. Ah, aku baru ingat kalau memang aku tak sengaja menabrak Dokter Fadli tapi kenapa dia begitu teliti dalam mengenali seseorang.


"Tapi saya tidak pernah ke Bandung, Pak?" Ucapku beralibi.


"Mungkin saja aku salah orang, ah kenapa dari tadi ngomongin yang gak jelas. Masakan kamu enak, Ra." Kata Dokter Fadli.


"Terimakasih, Dok?" Kataku tersenyum.


Selesai makan, aku membawakan piring kotor ke dapur sedangkan mereka kembali melanjutkan obrolannya di ruang tamu.


"Ingat, besok kamu harus ke rumah sakit untuk cek up dan melihat perkembangan kanker yang loe derita, Nih obat yang harus di minum," Dokter Fadli memberikan obat pada Mas Rahman.


Apa, besok mas Rahman mau cek up ke dokter. Bagaimana caranya aku bisa ikut, kalau aku minta ikut pasti mas Rahman akan curiga padaku tapi kalau tidak, aku sangat ingin melihat perkembangannya.


"Oke, baiklah!" Kata Rahman.


*** ***


"Bu, apa ibu yakin kalau mas Rahman akan kembali sama kita?" Kata Silvi sedang meniduri Silvi sambil menepuk punggungnya.


"Ibu yakin sekali, dia pasti kembali kesini!" Kata ibu sembari membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur yang berukuran size.


"Tapi kenapa mas Rahman tidak menanyakan keadaan mbak Ratih," kesel Silvi.


"Sudah, biarkan mereka berdua disana? Ibu yakin kalau kakak mu akan kembali dengan membawa Rahman pulang," kata ibu tersenyum.


"Sekarang, ayo tidur!" Kata Bu Romlah lagi menarik selimut hingga menutupi dadanya.


Silvi pun ikut berbaring di sisi kanan tempat tidur karena di tengah Rania tidur, ia ingin mencari pekerjaan walaupun hanya sebagai pelayan cafe. Silvi tidak ingin terus-terusan membebankan Ratih.


*** ***


Dia mengikat rambutnya yang tergerai, ia berharap Rahman belum bangun dan melihat dirinya tanpa kacamata dan tompel di pipinya.


Satu jam berkutat di dapur, ia baru selesai lalu menghidangkannya di atas meja makan dan membangunkan Rahman.


"Eh, bapak sudah bangun! Saya pikir mau bangunin bapak tadi," kata Ratih berubah menjadi Rara dengan tompel dan kacamata yang bertengger di hidungnya.


"Tidak usah, kamu masak apa?"


"Wah, enak ini! Kalau begitu tunggu aku mandi dulu dan kita makan bareng," kata mas Rahman tersenyum.


Aku hanya mengangguk lalu menunggu mas Rahman keluar dari kamarnya, sambil menunggu mas Rahman aku mengambil ponsel dan melihat pesan mungkin dari ibu.


Tidak ada pesan dari ibu, tandanya Rania tidak rewel jika tidak bersamaku.


Ceklek,.. terdengar seseorang menekan handle pintu dan aku langsung menyembunyikan ponselku agar mas Rahman tidak tahu jika aku punya ponsel.


"Maaf, sudah lama menunggu!"


"Ah, tidak Pak!" Kata ku memberi piring berisi nasi goreng padanya.


Mas Rahman merasakan nasi goreng buatan ku, ia menghentikan suapan yang pertama lalu menatap ke arahku.


"Kenapa, Pak?" Kata ku.


"Ah, tidak apa-apa? Masakan kamu enak," kata mas Rahman.

__ADS_1


"Nasi goreng seperti nasi goreng buatan Ratih, hanya dia yang bisa membuat nasi goreng selezat ini," Batin Rahman.


Rahman terus berperang dengan batinnya, ia yakin di depannya adalah Ratih tapi bagaimana cara membuat Ratih mengakui kalau itu dirinya.


"Ra, kamu bisa temani saya ke rumah sakit?" Tanya mas Rahman membuat aku kaget.


Apa, dia mengajak ku untuk ke rumah sakit. Untuk apa? Apa mas Rahman tahu kalau ini aku tapi kalau aku tidak ikut dia bisa curiga tapi kalau aku ikut, aku bisa mendengar bagaimana kesehatan mas Rahman.


"Sebaiknya aku ikut saja mumpung di ajak," batinku.


"Boleh, Pak?" Kataku tersenyum.


Mas Rahman hanya mengangguk dan tersenyum, selesai makan aku masuk ke kamar untuk mandi karena kamar mandi ada di luar khusus pembantu.


Setelah selesai dengan rutinitas mandi, aku kembali ke kamar dan memakai baju untuk menemani mas Rahman ke rumah sakit tapi sayang kali ini aku harus menemaninya sebagai Rara, cewek culun yang memakai kecamata dan tompel.


Aku menggeleng kepala melihat penampilan ku yang berubah, aku mengoleskan pemecah bibir sedikit di bibir ku lalu mengambil tas selempang.


Aku keluar dengan memakai sandal karena aku tidak membawa sepatu karena aku datang kesini hanya sebagai pembantu bukan sebagai istri mas Rahman.


"Rara, kamu sudah siap?" Kata mas Rahman yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Sudah, Pak?" Kata ku.


Mas Rahman melihat ke arah ku dari ujung rambut sampai ujung kaki lalu kembali menatap ke arahku.


"Hahahaha..." Mas Rahman tertawa terbahak-bahak ketika melihat ke arahku, aku yang tidak mengerti dengan sikapnya ikut menoleh melihat penampilan ku.


"Kok bapak ketawa, ada yang lucu," tanyaku.


"Gak ada lucu sih, kok kamu ke rumah sakit pakai sandal Miky mouse gitu!" Kata mas Rahman kembali tertawa.


Apa, sandal Miky mouse? Aku melihat ke bawah ternyata benar aku pakai sandal Miky mouse, sandal yang aku pakai waktu tidur. Kenapa aku sampai lupa?


"Maaf, Pak. Saya lupa ganti," kataku cengengesan lalu berjalan kembali ke kamar untuk menggantikan sandal tadi.


"Tunggu..?"


"Ada apa, Pak?" tanya ku lagi.


"Boleh aku lihat sandal kamu?" tanya mas Rahman berjongkok ingin mengambil sandal di kaki ku.


"Untuk apa, Pak?" tanyaku.


"Cuma pengen lihat saja!" Kata mas Rahman.


Aku mencopot sandal lalu memberikan pada mas Rahman. Ah, aku baru ingat bukankah sandal ini mas Rahman yang belikan untuk ku. Kenapa aku harus membawanya kesini.


Aku menepuk jidat sendiri karena terlalu bodoh membawa sandal pemberian mas Rahman.


"Dari mana kamu dapat sandal ini?"


"Di toko lah, Pak. Wong saya beli," kataku pura-pura cemberut.


"Tunggu disini?" Kata Mas Rahman mengembalikan sandalku lalu ia berjalan ke kamarnya. Aku mengelus dada merasa aman untuk saat ini.


"Aku sangat yakin kalau sandal itu milik Ratih karena aku yang membelinya dulu, Kenapa kamu harus berpura-pura sayang,"


Kata Rahman membatin lalu berjalan ke lemari mengambil sebuah kotak dan kembali berjalan ke luar dari kamar.

__ADS_1


"Ini untukmu...,"


__ADS_2