Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang

Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang
Ketika istriku tak lagi meminta uang 86


__ADS_3

"Untukku, Apa ini pak?" Aku membuka kotak sedikit panjang sepertinya sepatu, ternyata benar ini sepatu pantofel tapi untuk siapa mas Rahman membeli sepatu ini.


"Sepatu ini milik siapa, pak?" tanyaku melihat sepatu pantofel berwarna hitam dan memiliki satu tali sangat cantik.


"Tempo hari sepatu itu saya beli untuk istri saya tapi karena saya tidak bertemu dengannya kamu pakai saja?" Kata Mas Rahman.


Aku menatapnya, dia membeli sepatu untukku tapi kenapa tidak memberikan pada ibu.


"Tapi Pak...!"


"Sudah tidak ada tapi-tapian, kita sudah telat ini lagian ukuran kaki kamu sama istri saya sama kok, mana tahu saja kamu istriku," kata mas Rahman.


"Apa..." Aku tak sengaja menjatuhkan pantofel karena kaget, mas Rahman melihat ke arahku.


"Tidak usah kaget, aku cuma becanda. Mana mungkin istriku menemui aku dengan menjadi orang lain," kata Mas Rahman membuat mulutku bungkam, dia benar jika aku ingin menemuinya tidak harus menjadi orang lain tapi bukannya dia menghindar dariku.


Aku memakai pantoles pemberian mas Rahman, pantoles ini memang pas di kaki ku dan kami pun melangkah keluar rumah.


"Eh, Pak Rahman mau kemana?" tanya tetangga yang kebetulan lewat di depan rumah mas Rahman.


"Saya mau ke rumah sakit, Ada perlu apa Bu?" tanya Mas Rahman.


Aku hanya diam berdiri di belakang mas Rahman, mereka hanya tahu aku pembantu di rumah ini bukan sebagai istri mas Rahman.


"Ah, tidak ada? Saya hanya ingin memberikan sedikit makanan untuk pak Rahman,"


Tetangga yang tidak aku ketahui namanya ini memberikan satu rantang makanan lalu mas Rahman menerimanya.


"Terimakasih Bu Yati, ibu selalu saja memberikan makanan untuk saya,"


Mas Rahman sangat ramah pada Bu Yati itu, apa mereka sudah sangat dekat selama tinggal disini.


"Tidak apa-apa, Pak. Lagian Lilis juga senang bisa masak buat bapak, kebetulan hari ini dia gak bisa mengantar makanan karena pagi-pagi di harus ke puskesmas," kata Bu Yati lagi.

__ADS_1


Lilis, siapa Lilis? Apa perempuan yang menyukai mas Rahman selama ini. Aku merasa kesal lalu berjalan duluan meninggalkan mas Rahman dan ibu-ibu itu.


"Apa mas Rahman menyukai perempuan itu, pantesan dia sangat betah disini?" Gumam ku sendiri sembari berjalan melewati gang yang hanya bisa di lewati satu mobil ini.


Aku terus berjalan lalu berdiri di pinggir jalan menunggu mas Rahman, hatiku merasa sakit di saat ibu-ibu itu menyebut nama putrinya.


"Kenapa kamu meninggalkan aku disana?" Mas Rahman berdiri di belakangku.


"Bukannya bapak sedang berbicara dengan ibu-ibu itu, aku tidak ingin mengganggunya," kata ku.


"Apa kau cemburu?"


"Apa, cemburu! Mana mungkin, aku ini bekerja dengan bapak," kataku baru sadar kalau aku sedang menyamar menjadi Rara.


Lagi-lagi aku terbawa perasaan karena ibu-ibu itu, aku tidak boleh lengah. Aku harus pantau selalu mas Rahman.


"Ayolah, aku hanya bercanda?" Ujar mas Rahman.


Terlihat mobil sudah berdiri di pinggir jalan, sejak kapan mas Rahman memesan taxi bukankah tadi sedang berbicara dengan Bu Yati itu.


Sepanjang perjalanan, Ratih hanya diam tanpa mau membuka mulut. Pikirannya terbayang nama Lilis yang di sebutkan oleh Bu Yati tadi. Dia sangat penasaran dengan perempuan yang mungkin saja mendekatinya.


Sesampai di rumah sakit Jakarta timur, Rahman dan Ratih turun dari taxi lalu berjalan ke ruang dokter Fadli karena dokter Fadli yang akan menanganinya.


"Pagi, Dok?"


"Pagi, tumben pagi bener loe datang. Biasanya siang?" Kata dokter Fadli duduk di meja kerjanya.


"Biasa dok, hari ini aku lagi semangat buat cek up," kata Mas Rahman.


"Semangat cek up apa karena ada yang temani," kata Dokter Fadli menoleh ke arahku.


Aku hanya diam lalu dokter Fadli kembali fokus pada mas Rahman. Mas Rahman di bawa keruang lab guna untuk cek up darah agar dokter bisa memantau kanker. Kanker darah bisa di sebabkan karena kelebihan sel darah putih dari pada normal.

__ADS_1


Aku hanya menunggu di ruang dokter Fadli, karena bosan aku mencoba mengelilingi ruangannya terlihat satu foto seorang perempuan dan juga laki-laki. Aku mengambil lalu melihat perempuan yang ada di foto ini.


"Bukankah wanita di foto ini Silvi!" Gumam ku sendiri melihat foto jaman dahulu tapi saat itu dia masih kecil.


Ah, aku foto saja. Nanti akan aku menanyakan semuanya pada Silvi.


Tidak terasa dua jam sudah aku ada di ruang ini, mas Rahman dan dokter Fadli juga belum kembali. Aku sudah terasa lapar karena hari sudah siang, aku membuka pintu untuk keluar ternyata mereka sudah berada di depan pintu.


"Eh, Rara pasti kamu sudah lama menunggu ya?" kata Dokter Fadli, aku hanya mengangguk.


"Jadi bagaiman dok, apa saya sudah di anggap sembuh?" tanya mas Rahman.


Aku hanya menyimak setiap kata perkata yang keluar dari mulut keduanya.


"Kanker leukemia untuk sementara memang tidak menyebar lagi tapi sewaktu - waktu kanker itu bisa datang lagi dalam kurun waktu 10 tahun atau 5 tahun ke depan," kata dokter Fadli.


"Kok bisa begitu Dok bukannya kalau kanker tidak terdeteksi lagi tandanya sudah sembuh," kata ku bingung.


"Kamu benar Ra tapi jika Rahman tidak menjaga kesehatannya, maka 10 tahun ke depan kanker itu bisa kembali lagi," kata Dokter Fadli.


Aku menatap mas Rahman, aku senang kanker darah dalam tubuhnya tidak terdeteksi lagi. Tak peduli jika 10 tahun ke depan kanker itu akan kembali lagi yang terpenting untuk saat ini mas Rahman di nyatakan sembuh.


"Oh, begitu Dok. Saya tidak peduli jika 10 tahun ke depan jika kanker ini bisa kembali tapi untuk saat ini aku hanya ingin sembuh agar aku bisa menemui istriku," kata-kata mas Rahman membuat aku terharu.


Aku ada di samping mu Mas, batinku.


"Iya, kamu benar dan hari ini kamu selamat, usahamu untuk sembuh tidak sia-sia. Aku doakan kamu cepat bertemu dengan istrimu." Kata Dokter Bayu duduk di depan kami.


Aku hanya diam, tidak ada yang harus aku katakan tapi aku masih teringat dengan foto yang mirip sekali.


"Maaf ya, Dok? Jika saya lancang, tadi saya tidak sengaja melihat foto seorang perempuan dan laki-laki di foto itu?" Kata ku mencoba untuk mencari tahu.


"Tidak apa-apa, perempuan di foto tersebut adalah teman aku tapi sekarang entah dimana dia. Aku terus mencarinya tapi juga belum ketemu," kata dokter Fadli.

__ADS_1


"Siapa namanya kalau boleh tahu, Dok?" Tanyaku penasaran.


"Silvi...


__ADS_2