
Uhuukk... uhuukk...
"Kamu kenapa, Sil," tanya Lili melihat Silvi terbatuk-batuk, Lili mengambil minuman lalu memberikan pada Silvi.
"Ayo, di minum dulu," kata Lili.
"Aku hanya tersedak, maaf ya?" Kata Silvi menatap Fadli mencari kemiripan wajah dengan Mikky.
Kenapa dia menyebut nama Mikky, apa ini hanya kebetulan saja atau dia memang Mikky, siapa lelaki ini tapi rasanya wajah ini tidak asik bagiku. Sepertinya aku pernah melihatnya tapi dimana.
"Sil...Silvi...,"
"Ah, iya, Ada apa?"
"Apa kamu benar tidak apa-apa?" Tanya Fadli menatap bola mata Silvi, ia hanya mengangguk tanpa bersuara.
Lili kembali memakan makanannya, begitu juga dengan Fadli dan Silvi. Selesai makan mereka bertiga berjalan keluar dari restoran beriringan.
"Li, loe pulang pakek apa?" tanya Silvi.
"Tuh, ada motor bebek gue," kata Lili menunjukkan motor miliknya bersandar di samping mobil Fadli.
"Ya, sudah gue pulang dulu ya? Loe pulang bareng gue gak," tanya Lili.
"Silvi pulang bareng gue aja," kata Fadli, Lili hanya mengangguk lalu menatap Silvi lalu berbisik di telinga sahabatnya itu.
"Jangan lupa loe harus cerita sama gue,"
"Cerita apa?" tanya Silvi bingung.
"Tentang kalian berdua," bisik Lili lagi.
"Aku tidak punya hubungan dengannya," kata Silvi lagi.
"Aku tidak percaya, besok aku akan menagihnya," kata Lili menatap senyum ke arah Silvi dan Fadli lalu berpamitan pada mereka berdua.
*** ****
Suasana malam sangat dingin menerpa kulit mulus Silvi, di dalam mobil Silvi hanya diam. Tak ada sepatah kata apapun yang keluar dari mulut Silvi begitu pun juga dengan Fadli, hanya ada keheningan di antara mereka berdua.
"Rumah kamu dimana?" tanya Fadli memecahkan keheningan di antara mereka berdua.
"Di blok M, jalan Mawar?" kata Silvi.
Fadli hanya mengangguk lalu menyetir mobilku dengan kecepatan sedang, sedangkan Silvi terus diam tanpa mau berbicara.
__ADS_1
"Berikan nomor ponselmu," kata Fadli memberikan ponselnya pada Silvi.
"Buat apa?" tanya Silvi.
"Agar aku besok bisa menghubungi kamu, bukannya 3 hari kamu harus bekerja di apartemen ku," kata Fadli menatap ke depan.
"Ya sudah, berikan ponsel mu," kata Silvi mengambil ponsel Fadli lalu menyimpan nomornya di ponsel lalu dia dengan iseng menamai namanya dengan Mouse.
"Jika dia Mikky pasti dia akan tahu tentang Mouse," gumam Silvi mengembalikan ponsel Fadli padanya.
Dua jam perjalanan, akhirnya Silvi sampai ke rumah lalu langsung masuk tanpa berpamitan pada Fadli yang sudah mengantarkannya.
"Dasar perempuan aneh," Fadli tersenyum lalu kembali menghidupkan mobilnya, meninggalkan perumahan yang begitu mewah.
Fadli kembali ke apartemen menembus dinginnya malam, hari ini pekerjaan membuat tenaganya terkuras banyak.
*** ***
"Silvi, kamu dari mana?" tanya Ratih.
"Ah, mbak Ratih, bikin kaget saja," kata Silvi duduk di sofa keluarga.
"Aku baru pulang, Mbak. Hari ini aku sial banget mbak," kata Silvi.
"Memang sial kenapa?" tanya Ratih ikut duduk bersamanya yang baru saja turun dari atas.
"Wah, kok bisa gitu? memangnya siapa nama lelaki itu?"
"Fadli Narendra mbak, hari ini aku benar-benar dial. Mbak aku masuk ke kamar dulu mau mandi," Silvi meninggalkan Ratih yang masih duduk di sofa dan mengingat nama yang tidak asing baginya.
Fadli Narendra, kok rasanya aku pernah mendengar tapi siapa ya? sebaiknya aku ke kamar saja nanti akan aku tanyakan pada mas Rahman, mana tahu Fadli Narendra adalah dokter Fadli. Aku berjalan menaiki tangga kembali satu persatu, aku melihat mas Rahman sibuk dengan laptop miliknya.
"Sedang apa, Mas!" tanya ku berdiri depan di mas Rahman.
"Tidak lagi ngapain, memangnya kenapa sayang?" tanya mas Rahman.
Mas Rahman menutup laptop Yang ada di depannya lalu membalik badan ke arahku, aku duduk di tepi ranjang.
"Mas, selama Mas tinggal disana? Dari mana mas mendapatkan uang selama Mas disana," tanyaku penasaran.
Ya, hatiku masih bertanya tentang dari mana Mas Rahman memenuhi kebutuhannya. Soalnya tidak ada uang yang di bawa oleh mas Rahman ataupun ATM.
"Sayang, kamu lupa ya kalau kantor Mas bekerja itu di Jakarta Timur dan Mas hanya bekerja dari rumah, Mas ke kantor jika di perlukan. Kan kamu tahu sendiri kalau mas ambil cuti selama sakit dan bekerja dari rumah," kata Mas Rahman memainkan rambutku yang tergerai panjang.
Ah, Mas Rahman benar. Kenapa aku sampai lupa, pantesan dia tidak mencari kami ataupun khawatir kelaparan.
__ADS_1
"Pantesan Mas tidak khawatir pada kami dan tidak mencari kami," ujar ku dengan wajah cemberut.
Aku menunduk merasakan nyeri dalam hati mengingat mas Rahman yang tidak mengabari aku ataupun menanyakan tentang keadaan kami.
"Maafkan Mas, saat itu Mas benar-benar kalap dan merasa di khianati melihat foto bersama Anggara, Mas terlalu bodoh untuk semua itu. Mas mohon maafkan Mas," pinta Mas Rahman menggenggam tanganku, aku hanya diam menatap manik mata yang mulai mengembun.
"Berjanjilah untuk tidak meninggalkan aku dan Rania, Mas," ujar ku.
"iya, Mas tidak akan meninggalkan kalian berdua tapi bolehkah mas meminta hak Mas malam ini, sudah lama bukan kita tidak melakukannya,"
Mas Rahman mencium keningku, lalu kembali menatap padaku. Aku hanya tersenyum lalu mengangguk pasrah, Mas Rahman memeluk ku dengan erat. Bibir Mas Rahman mendarat di pipi dan bibir ku kembali, kami hanyut dalam melodi cinta yang sedang menggebu-gebu.
Hasrat yang kini terpendam, malam ini terbayar sudah. Kami tenggelam dengan nikmatnya cinta dunia, saling merindukan. Malam ini kami lalui dengan keindahan.
Peluh keringat bercucuran walaupun AC sangat dingin, Sementara Rania sudah tidur sepulang dari rumah sakit tadi sore. Aku memejamkan mata menikmati sisa-sisa mengarungi samudra cinta sedangkan mas Rahman berbaring di sampingku, ia sudah terlelap setelah pertempuran tadi.
Aku memalingkan wajah ke arah mas Rahman lalu mencium keningnya dan pipinya.
"Apa kamu ingin lagi Sayang!"
Goda mas Rahman, ternyata dia belum benar -benar tidur. Karena merasa malu aku membalikkan badan menghadap putriku Rania, Mas Rahman memelukku dari belakang.
"Tidurlah, biarkan begini," kata Mas Rahman menyelimuti tubuhku hingga menutupi seluruh tubuhku, aku memejamkan mata ingin melihat hari esok dengan penuh bahagia. Tak akan ada lagi orang yang ingin menghancurkan rumah tangga kit, orang-orang yang jahat masih berada di dalam jeruji besi.
*** ***
Hujan mengguyur kota Jakarta semalam, pagi ini rintik hujan masih terlihat di dedaunan. Aku berangkat kembali bekerja setelah masalah semua selesai, sudah lama aku tidak menginjak tempat aku bekerja.
Aku melihat mas Rahman juga bersiap-siap untuk ke kantor, Aku tersenyum melihat wajah tampan suamiku.
"Sayang, Ayo sarapan?" kata ku.
"Ayo," Kami berdua menuruni tangga satu persatu, kami berjalan ke meja makan. Disana sudah terlihat Ibu dan Silvi sedangkan Rania masih tidur di kamar. Aku harus mencari baby sister lagi untuk putriku karena Siti tidak kembali lagi dan dia sudah menikah disana.
Di saat hendak makan, suara Bel berbunyi dan aku beranjak menuju pintu utama untuk melihat siapa yang datang.
Ceklek....
Aku membuka pintu dan terpana melihat seseorang berdiri tepat di hadapan ku.
Dokter Fadli, kenapa dia tahu rumah kami disini? apa mas Rahman sudah memberitahukannya.
"Maaf mbak, Silvi nya ada ?" tanya Dokter Fadli.
"Ada, sebentar saya panggilkan,"
__ADS_1
"Kamu ngapain disini?" Tiba-tiba Silvi sudah berada di depanku, aku menatap ke arahnya meminta penjelasan darinya.
"Silvi...!"