
Sayang, mau kah kau menikah dengan ku,"
Di sebuah restoran seseorang laki-laki sedang mengadakan makan malam hanya berdua dengan pasangan. Restoran yang sudah di boking jauh-jauh hari, Persiapan yang sudah di siapkan.
Dekorasi restoran yang sangat menarik, menggelar karpet merah dan lilin-lilin yang terus menyalami di sekeliling dua insan yang sedang jatuh cinta. Siapa lagi kalau bukan Anggara dan Stefani.
Malam ini, dia melamar Stefani. Hanya mereka berdua disana, ia mengajak Stefani untuk kencan. Wanita yang memakai dress merah selutut yang tersenyum, ia takjub dengan cara Anggara melamarnya.
Ia tidak menyangka jika Anggara benar-benar memperjuangkannya setelah beberapa kali dia tolak.
"Apa kau bersedia menikah dengan ku?" Ulang Anggara satu kali, rasa gugup di hatinya tidak bisa ia pungkiri sama sekali.
"Ya, aku bersedia menikah dengan kamu Mas," kata Stefani tersenyum, Anggara yang mendengarnya langsung memeluk Stefani karena merasa bahagia.
🍁
🍁
🍁
Kini kami berada di meja makan bersama ibu, kami makan bersama. Semenjak Silvi pindah ibu tidak ada lagi teman berbicara hanya ada Rania sebagai teman tidur. Aku merasa kasihan pada ibu, beliau sudah lama menjanda semenjak bapak mertua meninggal.
__ADS_1
"ibu Kenapa? kok sedih gitu?" tanya ku di sela- sela makan malam.
"ibu teringat sama Silvi, Tih. kok dia gak jenguk ibuk ya?" kata ibu dengan raut wajah sedih.
"Mungkin Silvi dan suaminya sedang sibuk makanya belum bisa kesini," kata Mas Rahman, Aku mengangguk membenarkan ucapan Mas Rahman.
Drrrrt.... Drrrrt.....
ponsel ku berbunyi, aku melihatnya ternyata Silvi yang menelepon.
"Ya, ada apa Sil?" tanya ku setelah mengangkat telfon dari Silvi.
"Ada, sebentar mbak berikan ponsel pada ibu," kata Ku.
"Bu, ini Silvi mau ngomong! katanya nomor ibu kok gak aktif kenapa?" tanya Ku lagi sembari memberikan ponsel pada ibu.
"Ah, ibu baru ingat kalau ponsel ibu mati. Hallo Na, Ada apa?" tanya Ibu.
Kami lanjut makan sedangkan ibu beranjak dari meja mungkin ingin leluasa berbicara dengan Silvi. Tak lama kemudian, ibu kembali lalu memberikan ponsel pada ku.
"Udah ngomongnya, Bu. Kok cepat sekali?" tanya ku.
__ADS_1
"Sudah, Silvi cuma mau bilang belum bisa jenguk ibu karena besok ia mau ke Paris. Sepertinya mereka mau honymoon," kekeh ibu tersenyum, aku hanya mengangguk dan membereskan piring kotor, sedangkan mas Rahman langsung naik ke atas mungkin mengerjakan tugas kantor yang belum selesai.
Setelah mencuci piring, aku kembali ke kamar menaiki tangga satu persatu. Rasanya aku capek banget, pengen tidur rasanya.
Aku membuka lemari untuk mengambil baju tidur tapi aku menjatuhkan sesuatu, aku melihatnya ternyata lingerie yang di belikan oleh mas Rahman sebelum dia kecelakaan.
"Apa ku pakai ini saja ya, lagian sayang kalau gak di pakai," gumam ku berjalan ke kamar mandi memakai lingerie yang sangat kontras dengan kulit ku berwarna putih, aku keluar dari kamar mandi lalu berdiri di depan kaca rias. Menatap pantulan tubuhnya ku dari cermin.
"Cantik....," Suara seseorang membuat aku menoleh ke arahnya ternyata ia sudah berada di kamar. kapan Mas Rahman masuk kok aku gak dengar, aku mencoba mencari handuk atau apapun itu untuk menutupi tubuh ini.
kenapa aku merasa malu?"
"Mau kemana?" Mas Rahman menarik tangan ku memeluk tubuh yang sedikit menegang, nafas ku memburu dengan jantung terus berdetak tak karuan.
Cup....
Mas Rahman membawa rambut ku ke depan lalu mencium tekuk ku membuat bulu kuduk ku berdiri dan aku hanya diam, merasakan setiap hembusan nafas mas Rahman yang menerpa tekuk ku di belakang.
Dia membalikkan tubuhnya yang membelakanginya, aku hanya menatapnya lalu ia mulai mendaratkan kembali bibirnya. Kami saling di mabuk cinta, ia mulai me lu mat bibir ku. Hembusan nafas kami kembali beradu, perlahan lingerie yang ku pakai jatuh perlahan ke bawah.
Kami tenggelam dalam hasrat yang tak terbendung lagi, kami saling melepaskan kerinduan bahkan lebih dari itu. peluh mulai keluar dari tubuh mas Rahman begitu juga dengan ku meskipun AC menyala tapi tetap terasa panas.
__ADS_1