Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang

Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang
Ketika istriku tak lagi meminta 121


__ADS_3

"Hai sayang!" ujar Afnan melihat Ratih yang kebetulan lewat di dekat mereka, Ratih melihat ke arah Afnan dan membulatkan mata. Afnan bangun lalu berjalan ke arah Ratih mengandeng tangannya, karena bingung Ratih hanya bisa mengikutinya saja.


Amelia yang tidak tahu siapa perempuan yang di samping kakaknya hanya bisa bengong sembari menatap Afnan.


"Kok lama banget di tungguin, ayo duduk dulu," kata Afnan dengan tangan gemetar takut kalau Ratih marah karena mengakui dia sebagai pacarnya.


"Tapi saya...,"


"Tidak apa-apa, sayang! aku gak marah kok, duduk dulu," kata Afnan menduduki Ratih dengan paksa, Widuri merasa marah karena Afnan seperti ingin mempermainkannya.


Mamanya bilang kalau Afnan lelaki jomblo tapi nyatanya dia melihat wanita cantik yang di panggil sayang di depannya.


"Mas Afnan bukannya jomblo," kata-kata itu begitu saja terlontar dari mulut Widuri, ia merasa iri melihat ada perempuan lain di samping Afnan.


"Siapa bilang, dia ini pacarku namanya Ratih bukan begitu sayang," kata Afnan menggenggam tangan Ratih dengan erat, Ratih mencoba memberontak marah tapi tidak bisa. Seakan jantungnya berhenti berdetak saat menatap mata Afnan.


"Mas Afnan jahat, aku akan bilang pada Tante Lidya," kata Widuri bangun lalu mengambil tasnya, ia keluar dari restoran dengan amarah.


Amelia hanya bisa diam melihat sandiwara kakaknya, bahkan dia tidak tahu siapa wanita yang ada di samping kakaknya.


"Terimakasih karena kamu sudah membantu saya," kata Afnan tak ingin melepaskan tangan Ratih, seakan dia ingin menggenggamnya lama.


Plak...


Tamparan mendarat di pipi Afnan, Amelia sontak kaget melihatnya tapi tidak bagi Afnan. Dia tersenyum saat tangan Ratih melayang di pipinya.

__ADS_1


"Apa kamu tidak bisa menghargai seorang perempuan, seenaknya anda mengakui saya pacar anda dan apa hak anda mengakui saya sebagai pacar anda," kata Ratih marah, ia menatap ke arah Afnan dengan wajah memerah.


Semua mata melihat ke arah mereka, sedangkan Amelia hanya bisa diam. Dia tidak mungkin ikut campur.


"Saya punya hak karena saya... Ah sudah lah, intinya terima kasih karena kamu sudah membantu saya dan ingat, aku akan membuat kamu jatuh cinta kepadaku," kata Afnan tersenyum menatap Ratih yang begitu cantik dengan balutan gamis, pesanan yang dia pesan sudah datang lalu ia duduk untuk menyantapnya.


Sayang, jika di tinggalkan begitu saja sedangkan Ratih pergi ke belakang karena merasa kesal dengan sikap Afnan yang semena-mena dengannya. Niatnya untuk melihat pembukuan restoran jadi tertunda karena kejadian tadi.


"Loe, mbak Ratih kenapa? kok mukanya di tekuk gitu," kata Silvi yang baru saja datang dengan membawa buku restoran yang di minta ini.


"Tidak apa-apa kok," kata Ratih.


"Ini pembukuan restoran dan ini daftar hasil dari restoran dua bulan yang lalu, omset kita naik 30% dari biasanya," kata Silvi memperlihatkan hasil pembukuan bulan lalu.


"Aku dan karyawan lain sepakat untuk menambahkan menu dessert di restoran kita dan Alhamdulillah banyak yang suka," kata Silvi.


"Kok kamu gak kasih tahu sama Mbak," kata Ratih lagi, ia melihat pembukuan tersebut. Tidak ada kecurangan dalam pengeluaran atau pemasukkan setiap harinya.


"Maaf, Mbak. Soalnya aku lupa. Semenjak mas Rahman di nyatakan meninggal mbak kan sibuk kerja," kata Silvi.


Sesaat Ratih diam, ia membenarkan omongan Silvi. Selama ini waktunya untuk bekerja bahkan dia sampai lupa untuk meluangkan waktu untuk Rania putrinya.


"Ya sudah, kamu kelola restoran ini saja dan bulan depan kasih mereka bonus agar karyawan kita senang," kata Ratih setelah melihat Omset semakin naik.


Setelah memeriksa semuanya, Ratih berjalan ke luar dari restoran lalu pulang dengan mobilnya. Karena besok dia harus datang lebih awal ke kantor seperti permintaan Anggara.

__ADS_1


*** ****


"Mas, perempuan tadi siapa?" tanya Amelia penasaran saat mereka pulang.


"Yang mana?" tanya Afnan sembari menyetir mobil.


"Perempuan tadi yang mas bilang pacar Mas," kata Amelia.


"Namanya Ratih, kan sudah Mas bilang tadi," kata Afnan sekali-kali menoleh ke arahnya.


"Apa dia benar pacar Mas," Tanya Amelia lagi.


"Memangnya kenapa, apa kau cemburu?" goda Afnan pada Amelia, adik Angkat yang sudah di anggap seperti adiknya sendiri.


"Kalau iya kenapa?" kata Amelia.


"Ciiit....Ciiitt....," Afnan mengerem mobil dengan mendadak membuat kepala Amelia terkena dashboard mobil.


"Mas apa-apaan sih, ngerem mendadak," kata Amelia.


"Kamu beneran cemburu sama Mas," tanya Afnan.


"Memangnya kenapa kalau aku cemburu, aku hanya takut mas melupakan adik mu ini jika mas menyukainya atau mas berpikir kalau aku menyukai mas," Goda Amelia pada sang Kakak.


Awalnya dia memang menyukainya tapi dia sadar, ada wajah kakaknya dalam diri Rahman dan tidak mungkin dia jatuh cinta pada sang kakak.

__ADS_1


__ADS_2