Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang

Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang
Ketika istriku tak lagi meminta uang 68


__ADS_3

"Jangan pergi dariku, aku mencintaimu," pinta Anggara berdiri tepat di belakang Stefani, ia menatap datar ke arah Anggara.


"Cinta, terus apa yang kau lakukan barusan bersama mbak Ratih?" Kata Stefani bersikap tenang padahal rasa cemburu sudah menggebu-gebu di dihatinya.


"Aku yakin, aku di jebak? Berikan aku waktu untuk membuktikan kalau aku tidak bersalah," kata Anggara.


Stefani hanya diam, ia menatap ke depan membelakangi Anggara.


"Maaf, aku harus pergi?" Stefani melangkahkan kakinya keluar dari villa, ia terus berpikir siapa yang menjebak Anggara dan membuat drama itu seakan-akan Anggara lah yang bersalah.


"Siapa yang menjebak Anggara dan mbak Ratih, apa ini semua kerjaan...," Stefani terus menerka siapa yang melakukan semua ini.


"Ya, aku tahu siapa yang melakukan ini semua, aku harus menemuinya." Gumam Stefani.


Ia berjalan keluar dari villa dan menaiki taxi yang sudah ia pesan beberapa menit yang lalu.


"Kemana, Neng!" tanya sopir taxi.

__ADS_1


"Kita ke jalan xx pak," kata Stefani, ia menatap ke luar jendela melihat sebagai anak yang mulai mencari uang untuk sesuap nasi.


Dua jam akhirnya Stefani sampai di tempat tujuan, ia mengetuk pintu rumah seseorang tapi tidak ada membukanya hingga ketukan ketiga baru lah pintu itu terbuka.


"Rupanya kamu datang juga, masuklah?" kata laki-laki tersenyum menyeringai ke arahnya.


"Kamu kan yang sudah menjebak Anggara dan mbak Ratih," tanya Stefani.


"Hahaha, kenapa? Apa kamu terluka melihat mereka satu ranjang," lelaki itu menatap tajam ke arah Stefani.


"Hahaha, memang itu yang aku inginkan. Aku ingin melihat Ratih jauh dari orang yang dia sayang bahkan sangat jauh. Apa kamu tahu, dia yang menyebabkan papaku masuk penjara dan apa kamu lupa kalau Anggara yang memecat papamu sehingga mengalami stroke,"


"Papa mu masuk penjara itu karena kesalahannya dan mereka hanya ingin keadilan pada Silvi, Masalah papa ku karena itu kesalahannya menggelapkan uang perusahaan," kata Stefani dengan nafas naik turun.


"Stefani, cukup untuk kamu membela mereka,"


"Cukup Riko, mereka orang baik dan aku akan mengatakan pada mereka kalau kamu lah dalang dari semua ini, kamu lah yang menjebak mereka dengan begitu kamu akan masuk penjara bersama papa kamu," kata Stefani mengancam.

__ADS_1


Mata Riko membulat kala mendengar ucapan Stefani, ia tidak ingin di penjara sebelum dendamnya untuk menghancurkan Anggara selesai.


"Kamu jangan pernah mengancam ku karena aku tidak pernah takut dan kamu tidak punya cukup bukti untuk menuduhku," kata Riko tersenyum menyeringai.


"Oh,ya, kamu pikir aku bodoh begitu datang kesini dengan tangan kosong," Stefani mengambil gawainya lalu menghidupkan rekaman.


"Kurang hajar kamu!" teriak Riko ingin merebut ponsel yang ada di tangan Stefani, sialnya Stefani lebih siaga dengan cepat memasukkan ke dalam tasnya.


Riko cemas jika rekaman itu sampai di tangan Anggara maka ia akan mendekam di dalam penjara, ia tidak ingin itu terjadi. Sementara Stefani berjalan keluar.


Bugh...


Riko memukul kepala Stefani menggunakan vas bunga sehingga Stefani pingsan tepat di depan pintu, Riko memasukkan Stefani ke dalam mobil lalu membawanya ke suatu tempat.


"Maaf Stefani, kami terlalu banyak ikut campur dan kamu Ratih, kamu akan kehilangan suami di saat Rahman melihat foto kamu bersama Anggara di atas tempat tidur yang sama," batin Riko.


Maaf ya teman-teman, untuk hari ini aku hanya bisa up satu hari satu bab soalnya mau crazy up,,

__ADS_1


__ADS_2