
Anggara menghembuskan nafas, ia tidak menyangka jika Stefani dengan mudah melupakannya. ia berjalan ke kamar dengan lesu, ia terus berpikir meminta tolong pada siapa untuk menanyakan alamat Stefani jika ia ke London.
"Ah, kenapa aku gak menyuruh Ratih saja untuk menanyakan alamat Stefani yang ada di Bandung," gumam Anggara sendiri.
Anggara mengambil ponsel untuk menghubungi Ratih, ia akan meminta tolong pada Ratih.
Tut...Tut...Tut...
Tiga panggilan berturut, Ratih juga tidak mengangkat telepon dari Anggara membuat Anggara sedikit kesal pada Ratih.
"Kenapa gak di angkat sih, apa aku datang ke rumahnya saja tapi aku kan tidak tahu rumahnya dimana," Batin Anggara berkata.
Ia menuruni tangga dan berjalan ke arah mobil miliknya, Bu Sonya hanya diam melihat tingkah putranya.
"Mau kemana, nak?" tanya Bu Sonya.
"Aku mau keluar sebentar, Ma?" kata Anggara.
Bu Sonya menatap putranya yang terus berjalan keluar menuju garasi mobil. Bu Sonya kembali ke kamarnya.
*** ***
Silvi berada di taman, ia duduk sendirian. perasaannya bimbang antara Fadli. Apakah ia harus bersamanya atau pergi meninggalkan Fadli. Ia tidak mungkin bersama Fadli karena ia tidak suci lagi, ia hanya tidak ingin menjadi Boomerang untuknya suatu saat nanti.
"Ternyata kamu disini, pantesan aku cari-cari kemana gak kelihatan?" Seseorang berdiri di belakang punggung Silvi membuat Silvi terkesiap lalu menghapus jejak air matanya. Ia menoleh ke belakang dan melihat Fadli berada di belakangnya.
"Sejak kapan kamu ada disini?" tanya Silvi menatap Fadli dengan wajah cemberut, sudah dua kali Fadli mencium tanpa seijinnya.
"Maaf, aku sudah keterlaluan sama kamu tapi benar-benar serius! katakan maukah kamu menjadi istriku?"
Fadli mengutarakan niatnya untuk menikahi Silvi, wanita yang selalu ia rindukan selama ini.
Entah kenapa, Fadli merasakan Silvi menyembunyikan sesuatu darinya.
Deg, jantung Silvi berdetak kencang. Dia tidak menyangka jika Fadli benar-benar meminta dia untuk menjadi istrinya.
"Maaf Fadli, aku tidak bisa," Silvi mencoba pergi tapi Fadli menghalanginya.
"Kenapa, apa karena aku hanya lelaki miskin sehingga kamu menolak ku. Katakan, apa alasan kamu menolak hah?" teriak Fadli di hadapan Silvi, matanya memerah menahan rasa kecewa.
__ADS_1
Silvi hanya diam, tidak ada satu katapun yang keluar dari bibirnya. ia terus menatap Fadli dengan menggepalkan tangannya.
"Aku rasa diam ku sudah menjadi jawaban untuk mu dan setelah ini kamu tidak perlu lagi menemui aku," kata Silvi menahan tangis, hatinya sakit melihat Fadli dengan air mata yang sudah berembun di balik bulu mata tersebut.
Silvi berjalan melewati Fadli, ia tidak ingin menatapnya lagi atau menoleh ke arahnya.
"Tolong jangan pergi?" Fadli menarik Silvi hingga berada dalam pelukannya, Silvi hanya diam dan hatinya hancur harus melukai perasaannya sendiri, Fadli terus memeluknya dengan erat.
"Lepaskan aku," kata Silvi lirih tapi Fadli tidak menggubrisnya.
"Fadli, lepaskan aku?" teriak Silvi.
Fadli menatap ke arah Silvi, lalu pelan-pelan melepaskan tangannya. Dia tidak menyangka ia harus kecewa seperti ini, di saat ia sudah menemukan cintanya tapi ia harus kecewa.
"Maaf, aku akan pergi dari kehidupan mu," kata Fadli melangkahkan kaki dengan penuh rasa kecewa. Ia melangkah kakinya, Silvi menangis tergugu di belakang menahan rasa sakit.
Fadli menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya tapi Silvi sudah pergi, lagi-lagi dia harus menelan kekecewaan.
*** ***
Hari sudah sore, Ratih berjalan keluar ingin ke supermarket karena bahan makanan sudah habis. Dia mencoba mengendarai kereta miliknya karena hari ini mereka tidak ke kantor.
Tak lama kemudian, ia sampai di supermarket yang tidak jauh dari rumahnya yang sekarang.
Brukk...
"Maaf, Bu. Saya...,"
Aku tidak melanjutkan ucapan aku karena kaget melihat Bu Sekar berada di depan ku, Sejak Riko di dipenjara aku tidak pernah lagi melihat Bu Sekar tapi hati ini dia kembali berada di depanku.
"Kenapa menatap aku seperti itu, apa kamu puas sudah memenjarakan Riko?" Bu Sekar langsung marah padaku, aku hanya diam.
"Semua itu karena kesalahannya, Bu. Seharusnya ibu merasa malu karena anak ibu sudah melakukan kejatahan." kata ku.
Bu Sekar bertambah marah, ia menatap ku dengan mata melotot membuatkan tidak gentar walaupun kemungkinannya ia kembali untuk menghancurkan keluarga aku.
"Semua itu karena kamu terlalu ikut campur dalam urusan kami dan ingat, aku akan membalas semua yang sudah kamu lakukan pada putraku," Ancam Bu Sekar.
Aku tidak gentar dengan ucapannya, mungkin Bu Sekar hanya ingin aku merasa ketakutan.
__ADS_1
"Saya tidak takut, silakan jika ingin berada di dalam jeruji besi." Aku kembali memberi ancaman padanya agar dia tidak bisa mengancam aku balik.
Bu Sekar pergi tanpa lagi mengancam ku, aku masuk ke supermarket lalu mengambil troli untuk berbelanja. Hari ini, aku belanja cukup banyak agar cukup untuk satu bulan.
*** ***
Di kantor polisi
"Bagaiman, Bu?" tanya Riko saat Bu Sekar menjenguknya di kantor polisi, sudah 5 bulan semenjak penangkapan itu Riko tetap masih dendam pada Ratih dan Anggara, karena mereka lah penyebab dia masuk dalam penjara.
"Tadi ibu ketemu Ratih di supermarket saat ibu mau kesini?" kata Bu Sekar.
"Apa ibu sudah menjalankan rencana kita?" tanya Riko, ternyata mereka memiliki siasat untuk mencelakai Ratih. Riko belum sadar atas kesalahannya, semua yang di tuai adalah buah dari hasil perbuatannya sendiri.
"Belum, ibu menunggu waktu yang tepat untuk menjalankan rencana kita agar polisi tidak curiga," kata Bu Sekar melihat kiri dan kanan, ia tidak ingin pembicaraannya dengan Riko di dengan oleh polisi.
"Baguslah, ibu harus tetap memantau mereka," kata Riko dengan amarah yang masih menggebu.
"Oh ya, ibu bawakan makanan dan roti untuk kamu disini, bagaimana keadaan papamu," tanya Bu Sekar tentang pak Sanjaya.
"Kenapa ibu menanyakan tua Bangka itu? kita tidak memerlukan dia lagi Bu," Riko tersenyum sembari mengambil makanan yang di bawa Bu Sekar.
"Kamu benar, kita tidak perlu lagi dengan Sanjaya. Sonya telah menceraikannya, dia tidak mendapatkan sepeser harta dari Sonya, menyebalkan," kata Bu Sekar dengan kilat amarah di matanya, dia berharap bisa menjadi kaya raya tapi kehidupan kembali seperti semula setelah Riko masuk penjara.
Rumah yang di belikan dulu terpaksa dia jual untuk kebutuhannya dan kini, ia tidak di rumah mereka yang dulu.
"Waktu kunjungan habis," pak Polisi memperingatkan mereka, Riko pun di bawa kembali ke dalam sel sembari menenteng roti pemberian ibunya.
Siasat demi siasat telah mereka rencanakan untuk mencelakai Ratih dan Anggara, kebencian mereka semakin menjadi.
"Tidak akan lama lagi kalian akan merasakan apa yang aku rasakan," Batin Riko tersenyum.
*** ***
Silvi pulang dengan muka sembab, lalu masuk ke kamar tanpa berbicara dengan orang rumah. Ratih yang melihatnya heran, ia kembali menata makan malam di atas meja. Sedangkan Bu Romlah sedang bermain dengan Rania.
"Silvi kenapa ya? kok mukanya sembab!" gumam Ratih.
Selesai menata makan malam, Aku memanggil ibu dan juga Mas Rahman begitu juga dengan Silvi, wajah tetap murung. Aku tidak mungkin menanyakannya sekarang.
__ADS_1
Semua sarapan dengan hening, tidak canda tawa seperti biasa. kami saling lirikan menoleh ke arah Silvi yang hanya mengaduk-aduk nasi tanpa di makan.
"Silvi, kamu kenapa?"