
"Mbak, kenapa cemberut gitu?" tanya Silvi saat aku sampai di rumah, aku yang baru saja pulang langsung di todong dengan pertanyaan. Memang sudah kebiasaannya seperti itu.
"Gak, mbak lagi kesel aja tadi ketemu sama lelaki aneh," kata Ku menyandarkan tubuhku di sofa untuk melepaskan penat hari ini.
"Lelaki aneh, maksudnya?" tanya Silvi.
"Sudah, mbak ceritakan kamu juga gak tahu," kata ku pada Silvi yang sedang duduk di sampingku pasti ada maunya ini anak.
"Mbak...!"
"Hmm... sudah beberapa hari ini ada seseorang yang datang ke cafe kita," kata Silvi membuat aku menatapnya, siapa yang datang ke cafe.
"Siapa, Sil?" tanya ku penasaran.
Silvi menghembuskan nafas dengan gusar, ia mendekat ke arahku dengan mimik wajah yang serius.
"Dia..."
Drrtt... drrt...
__ADS_1
ponsel ku bergetar terpaksa Silvi menghentikan ucapannya, aku melihat ponsel ternyata dari Anggara terpaksa aku sedikit menjauh dari Silvi.
"Hallo Ngga, ada apa?" tanya ku di balik telepon.
"Gue cuma mau bilang, besok loe datang lebih cepat sepertinya loe besok tidak lagi menjadi sekretaris gue," kata Anggara membuat dada ku berpacu lebih kencang.
"Maksudnya loe pecat gue gitu?" tanya ku langsung takut kalau aku di pecat, kemana harus aku mencari pekerjaan lagi.
Tidak mungkin mengharapkan penghasilan dari cafe, aku sedikit gelisah dengan ucapan Anggara.
"Gak, besok loe tahu sendiri? ya sudah, gue matiin dulu," kata Anggara mematikan ponselnya, aku menghembuskan nafas dengan gusar.
Jika aku pun di pecat itu wajar tapi kenapa tidak berterus terang jadi aku bisa mencari pekerjaan di kantor lain.
Ah, kenapa aku pikir yang tidak-tidak. Sebaiknya aku ke kamar saja, lagian aku baru pulang kantor. Aku menekan handle pintu lalu melemparkan tas di atas tempat tidur, ku buka sepatu lalu meletakkan di belakang pintu.
Aku merebahkan tubuh sebentar untuk menghilangkan penat, nanti malam aku akan ke restoran untuk melihat perkembangannya. Sudah 2 bulan aku tidak mengecek pendapatan hasil restoran karena terlalu sibuk dengan pekerjaan ku.
Semoga saja omset dua bulan ini naik karena uang di ATM terkuras saat melangsungkan pertunangan Silvi dan Fadli kemarin.
__ADS_1
*** ****
Senja mulai menampakkan sinarnya, Afnan sudah rapi dengan kemeja berwarna navy dan celana jens, ia berdiri di depan kaca merapikan rambut yang sedikit berantakan.
"Wah, Mas Afnan udah rapi aja mau kemana?" tanya Amelia berdiri di depan kamar Afnan dengan pakaian yang sudah rapi.
"Mas mau keluar sebentar?" kata Afnan berjalan mengambil kunci mobil yang tergeletak di atas nakas samping tempat tidurnya.
"Aku ikut ya, Mas?" kata Amelia dengan manja.
"Boleh, Ayo nanti kemalaman pulangnya," kata Mas Afnan, ia sudah mengganggap Amelia seperti Adiknya. Dengan rasa senang, Amelia mengiyakan ucapakan Afnan lalu mereka turun ke bawah bersama-sama.
"Kalian mau kemana?" tanya Bu Lidya melihat Afnan dan Amelia sudah rapi.
"Kami mau makan di luar, Ma?" kata Afnan, Amelia mengangguk membenarkan ucapan kakaknya.
"Ya sudah, tapi pulangnya jangan kemalaman. Afnan, jagain adik mu," kata Bu Lydia memberi peringan pada Afnan untuk menjaga Amelia.
"Selamat malam, Tante?"
__ADS_1