Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang

Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang
Ketika istriku tak lagi meminta uang 110


__ADS_3

Happy reading 🍁


"Sayang, Mama yakin dia orang baik. Kita sesama manusia harus saling tolong-menolong," Kata Bu Lidya menggenggam tangan putri satu-satunya, Amelia menghembuskan nafas dengan gusar lalu duduk di sofa yang ada di dalam kamar pasien.


"Apa kamu marah?" tanya Bu Lidya menatap raut putrinya.


"Aku tidak marah, aku hanya takut kalau Mama lebih sayang sama dia nantinya ke timbang, putri Mama?"


Ujar Amelia takut Mamanya lebih memprioritaskan lelaki yang akan menjadi kakaknya nanti ke timbang dirinya.


"Sayang, kamu adalah putri Mama sedangkan dia suatu saat pasti akan kembali pada keluarganya," kata Bu Lidya menangkup kedua tangan di wajah putrinya.


"Bagaimana jika setelah sadar, dia lupa akan keluarganya?" tanya Amelia.


"Jika dia lupa ingatan, dia akan menjadi kakak mu sampai dia mengingat tentang keluarganya." kata Bu Lidya, Amelia hanya diam lalu memeluk Mamanya.


*** ***


Langit berubah jingga, menandakan malam sudah datang. Aku berdiri di balkon kamar, menatap langit berharap mas Rahman segera di temukan tapi sampai saat ini kami belum mendapatkan berita tentang Mas Rahman.


Entah dia baik-baik saja atau memang dia benar-benar telah tiada, aku masih heran dengan musibah yang terjadi pada mas Rahman. Apa penyebab mobil yang di kendarai mas Rahman remnya sampai blong, apakah semua ini sudah di rencanakan.


Hati ku terus menerka-nerka, siapa yang melakukannya. Terakhir kali mas Rahman berada di hotel bersama kami, mungkin ada orang yang sengaja mencelakakannya.


Ah, aku ingat bukankah Tania menghubungi seseorang pada malam itu. Ya, benar, besok aku harus ke sana untuk melihat Cctv hotel setidak aku menemukan pelaku yang menyebabkan mas Rahman meninggal.

__ADS_1


Aku berjalan masuk ke dalam, lalu menarik pintu kaca yang membatasi kamar dan balkon, aku membaringkan tubuh ini karena besok aku harus ke hotel.


**** ***


Pagi hari hujan turun membasahi kota Jakarta, niatku yang ingin pergi ke hotel bersama Silvi harus tertunda. Sebelum berangkat aku sudah mengajak Silvi untuk ikut bersama untuk mencari informasi tentang mas Rahman.


Silvi menghubungi Fadli untuk ikut bersama kami ke hotel kemarin, semoga saja ada Cctv yang mengarah pada tempat mobil yang terparkir sehingga kami bisa menemukan bukti. Mobil yang kecelakaan itu terpaksa aku bawa ke bengkel untuk diperbaiki walaupun harus mengeluarkan uang yang cukup banyak untuk memperbaikinya.


Tak lama kemudian, terdengar deru suara mobil di luar. Terlihat Silvi mematikan ponsel nya, mungkin saja itu adalah Fadli, aku berjalan ke depan ternyata benar dia.


"Pagi Mbak," kata Fadli tersenyum.


"Pagi juga, apa kita berangkat sekarang ?" Tanya ku langsung.


"Boleh," jawab Fadli, Silvi duduk di depan sedangkan aku duduk di belakang. Rania terpaksa kembali aku tinggalkan bersama ibu.


"Ada yang bisa kami bantu, Pak?" tanya resepsionis tersebut pada Fadli.


"Apa kami bisa bertemu dengan menejer hotel ini sebentar?" tanya Fadli pada gadis cantik tersebut.


"Memangnya ada perlu apa pak Ya?" Tanya Resepsionis tadi.


"Ada hal yang penting, kami hanya ingin bertemu dengan beliau sebentar saja," kata Fadli lagi, aku dan Silvi Hanya diam.


"Baiklah, Pak? Tunggu sebentar," kata Repsionis lalu menekan gagang telepon lalu menekan beberapa angka.

__ADS_1


"Hallo Pak, ini orang yang ingin bertemu dengan bapak sebentar katanya penting," kata Repsionis mungkin menghubungi manajernya.


"Baiklah, akan saya antarkan ke ruangan bapak?" Kata Repsionis tersebut.


"Mari, Pak? ikut saya," kata Repsionis tersebut berjalan, kami mengikutinya dari belakang menuju ruangan manajer hotel.


Kami melangkah kaki hingga sampai di ruangan manajer, hanya Fadli yang sedangkan aku dan Silvi menunggu di luar.


Tak lama kemudian, Fadli kembali keluar bersama seorang manajer hotel lalu kami di bawa keruang Cctv.


Sampai disana, terlihat seseorang petugas sedang bersantai.


"Tolong putarkan rekaman Cctv kemarin, bapak dan ibu ini ingin melihatnya," kata manajer tersebut dengan Rahman.


"Tolong putarkan rekaman di parkiran hotel?" pinta ku.


"Untuk apa, Bu?" kata manajer tersebut.


"Buka saja, Pak. Saya hanya ingin melihatnya," kata ku.


Petugas tersebut melakukan tugasnya ia mulai memutarkan video malam itu, dalam rekaman tersebut terlihat dua orang berjalan ke arah mobil mas Rahman.


"Tolong di perbesarkan, Pak," kata ku.


Petugas itu kembali mengerjakannya lagi.

__ADS_1


Mata ku membulat saat melihat dua orang tersebut.


"Bukankah dia..."


__ADS_2