Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang

Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang
Ketika istriku tak lagi meminta uang 105


__ADS_3

Happy reading ❤️


Acara tunangan berjalan lancar, terlihat Tania menggepalkan tangannya mungkin dia kesal karena rencananya gagal. Silvi dan Fadli terlihat bahagia setelah saling menautkan cincin di jari masing-masing.


Tania berjalan keluar dari tempat acara itu, aku mengikuti langkah kakinya kemana dia pergi. Takut kalau dia akan melakukan sesuatu lagi di acara pertunangannya Silvi dan Fadli.


Tania berjalan ke dapur lalu menemui pelayan tadi, aku mengambil ponsel untuk merekam mereka berdoa sebagai bukti jika suatu saat dia berbuat sesuatu lagi.


"Apa kau tidak melakukan yang tadi ku suruh?" tanya Tania.


"Sudah, mbak? saya bahkan sudah memasukkan obat tidur yang mbak berikan ke dalam minuman tadi lalu aku meninggalkannya sebentar untuk membuang obat tadi ke dalam sampah," kata pelayan tersebut dengan takut.


"Lalu, kenapa tidak ada efek apa-apa pada Fadli!" gumam Tania sendiri.


"Mungkin ada seseorang yang menukarnya, Mbak?" kata Pelayan tersebut lagi.


"Di tukar, siapa?" kata Tania bingung, Setelah selesai merekam aku mematikan ponsel lalu kembali memasukannya ke dalam tas. Aku ingin kembali ke tempat acara tapi langkah kaki ku terhenti kala mendengar Tania menghubungi seseorang.


"Lakukan apa yang saya perintahkan, setelah rencananya berhasil saya akan bayar sisanya. Sebentar lagi mereka akan pulang, lakukan tugas kamu dengan baik" kata Tania lalu mematikan ponsel.


Siapa yang di hubungi oleh Tania, apa yang ingin dia lakukan lagi dan siapa mereka yang dia maksud, apakah dia ingin melakukan kejahatan pada kami. Aku harus segera bertemu dengan Fadli dan Mas Rahman, aku tidak mungkin membiarkan Tania melakukan yang tidak-tidak.


"Kamu dari mana saja, sayang?" Mas Rahman menghampiriku yang sedang berjalan.

__ADS_1


"Dimana Fadli dan Silvi Mas," tanya ku.


"Ada disana, sedang duduk di meja," kata Mas Rahman, aku bergegas menarik tangan Mas Rahman dan menghampiri mereka. Aku tidak bisa membiarkan semua ini terjadi.


"Ada apa Mbak, kok tegang gitu?" tanya Silvi.


"Beruntung kalian belum pulang, lihatlah ini?" kata Ku membuka rekaman tadi yang ada di dapur, Fadli mengerutkan kening melihat semuanya sedangkan Silvi terlihat shock.


"Jadi minuman tadi itu memang sengaja di berikan Tania pada Mas Fadli," kata Silvi.


"iya tapi beruntung mbak mengikuti Tania dan bisa menghentikan akal jahatnya tapi ada sesuatu yang mengganjal," kataku.


"Apa..?" tanya mereka serentak.


"Sudah, ayo pulang! Kalian pulang bareng Anggara saja dan Mas pulang sendiri saja," kata Mas Rahman tapi perasaan aku tidak enak. Ada sesuatu yang akan hilang tapi aku tidak tahu apa.


"Tidak, Mas. Aku tidak ingin kamu kenapa-napa?" kataku menggenggam tangan Mas Rahman.


"Sayang, Tania mengincar Fadli dan Silvi bukan Mas, jadi Mas saja yang pulang sendiri dan kamu pulang dengan mobil Anggara saja," kata Mas Rahman.


"Iya, kalian pulang dengan mobil aku saja," kata Anggara, ia baru saja kembali dari London. Namun cintanya belum bertaut, Stefani masih mengikis jarang di antara keduanya.


Mungkin banyak hal yang sudah mereka alami disana sehingga membuat Anggara untuk kembali ke Jakarta.

__ADS_1


"Kalau begitu baiklah, Mas kamu harus hati-hati," kata ku serasa berat untuk melepaskan dirinya pergi sendiri, aku mengambil Rania dari pangkuan mas Rahman.


"Ya sudah, Kami pulang duluan," kata Anggara.


"Iya, nanti aku nyusul di belakang," kata Mas Rahman, aku hanya mengangguk lalu kami menaiki mobil Anggara bersama Silvi dan juga ibu sementara Fadli pulang dengan mobilnya.


Di dalam perjalanan, aku terus melihat ke belakang. Perasaan aku begitu gelisah tidak seperti biasanya, aku mengambil ponsel lalu menghubungi mas Rahman tapi tidak di angkat.


"Kamu kenapa kok gelisah gitu?" tanya ibu.


"Entahlah Bu, perasaan aku tidak enak?" kata ku pada ibu.


Aku terus menghubungi nomor mas Rahman, tapi tak juga di angkat. Kemana dia pergi sebenarnya.


Drrt...Drtt...


Getaran ponsel membuat tangan ku bergetar, aku melihatnya ternyata panggilan masuk. Sebaiknya aku angkat saja , takutnya ada hal penting.


Aku pun mengangkat ponsel ternyata nomor polisi.


"Benar dengan saya sendiri? memangnya ada apa ya, Pak," kataku.


",,,^,,,"

__ADS_1


"Apa, Mas Rahman kecelakaan,"


__ADS_2