
Mas Rahman membawa ku ke atas ranjang, ia terus mencumbui ku membuat aku susah untuk bernafas. Kali ini kekuatan mas Rahman sepertinya meningkatkan, ia tidak memberikan aku peluang untuk bisa bernafas meski hanya sebentar.
Pistol miliknya sudah siap berdiri dengan tegang, masuk ke dalam sarungnya. Aku hanya bisa mengeluh di saat mas Rahman mulai melakukan aksinya.
Ia begitu lihai dalam membuat aku melayang ke awan bahkan ia tak menghentikan aksinya, padahal kami sudah melakukan satu jam.
"Sayang.... aku...Ahh," dia terkapar lemah di lalu membaringkan tubuhnya di samping ku, aku hanya tersenyum melihat ia begitu puas. Peluh keringat berjatuh di tubuh kami, ia mengambil selimut lalu menyelimuti tubuh sampai dada.
"Tidurlah sayang, jika tidak aku akan membuat kamu tidak bisa berjalan besok pagi," kata Mas Rahman.
Sejak kapan ia romantis begini, benarkah dia suami ku atau aku sedang melakukannya dengan orang lain.
"Aku masih suami mu, bukan orang lain jadi berhentilah untuk menatap aku seperti itu," kata Mas Rahman memeluk tubuhku dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leherku, ia kembali mencumbui aku lalu tidur memejamkan mata.
Aku pun ikut tidur, pertempuran malam ini cukup melelahkan dan membuat aku harus istirahat karena besok aku harus berangkat ke kantor.
🍁
🍁
__ADS_1
🍁
Hujan turun di saat pagi hari membuat semua orang enggan untuk keluar termasuk aku dan Mas Rahman, aku masih berada di dalam kamar di temani secangkir teh panas bersama suamiku tercinta.
"Sayang, Honymoon yok," kata Mas Rahman.
"Honymoon, Tapi kenapa Mas?" tanya ku.
"Kita sudah lama tidak jalan-jalan, kali ini aku ingin honeymoon berdua dengan istriku saja," kata Rahman.
Aku menatapnya lekat, aku bukan tidak mau honeymoon tapi bagaimana dengan Riana. Bagaimana bisa ibu tinggal berdua dengan Riana di rumah sendirian.
"Bagaimana kalau ibu ikut juga, biar ibu bisa merasakan dunia luar," kata Mas Rahman memberikan ide.
"Kalau begitu, aku setuju Mas," kata ku tersenyum.
"Sudah, Mas akan urus visa kita akan honymoon ke Jepang." kata Mas Rahman.
"Hah, Jepang. Negara Sakura itu Mas?" kata ku.
__ADS_1
Aku melongo mendengar honymoon ke Jepang, aku memang punya mimpi untuk bisa ke sana dan kini aku akan pergi ke sana.
"Iya, Sayang. Bukankah kamu memimpikan datang ke sana," kata Mas Rahman mengelus rambut ku yang basah.
"iya sayang, aku mau pastinya aku seneng banget bisa ke sana," kata ku memeluk Mas Rahman, terpaan air hujan semakin deras membuat tubuh ini terasa dingin. Aku berjanji ke kamar karena tadi kami berada di balkon yang terhubung langsung kamar hanya ada pembatas Saja.
"Mas, masuk yok? di luar hujan loe," Ajak aku pada suami tercinta ku ini, Mas hanya mengangguk lalu masuk ke kamar bersama-sama. ia mengangkat diriku lalu membawanya ke atas ranjang, ia menatap aku sambil tersenyum lalu kembali mendaratkan ciumannya ke keningku.
"Mas, ini masih pagi loe?" kata ku memperingati mas Rahman.
Dia tidak peduli, ia terus mencumbui aku yang berada di bawahnya.
Tok...Tok...Tok....
"Ratih....?" suara ibu mengetuk pintu membuat kegiatan yang di lakukan mas Rahman berhenti. Aku mendorong mas Rahman ke belakang lalu bangun memperbaiki rambut yang berantakan akibat mas Rahman. Aku mengambil jilbab untuk di kenakan, aku tidak mungkin keluar dari kamar tanpa hijab.
"Ibu, Ada Apa?" tanya ku setelah membuka pintu.
"Di depan apa polisi,"
__ADS_1
"Apa polisi.....,"