
Pagi ini sangat mendung sepertinya sebentar lagi akan turun hujan, Aku berdiri di balkon kamar yang mengarah ke jalanan. Pagi ini aku malas sekali untuk turun.
"Sayang, kamu kenapa? sepertinya ada sesuatu yang mengganggu pikiran mu," Mas Rahman menghampiriku dengan secangkir teh yang berada di tangannya.
Aku menoleh ke arah Mas Rahman lalu kembali menatap ke depan, apa aku harus menanyakan sekarang atau menunggu waktu yang tepat untuk menanyakannya.
"Sayang, Hai! kamu kenapa?" Mas Rahman memegang pundak ku lalu aku mencoba untuk menolaknya.
"Apa Mas bisa menjelaskan siapa dia?" Aku mengembalikan ponselnya yang semalam mengganggu tidur ku.
"Maksud kamu apa sayang?" tanya Mas Rahman yang belum paham kemana arah pembicaraan aku.
"Lihatlah dan bacalah, maka kamu akan tahu kemana arah pembicaraan aku," kataku menatap nanar ke depan.
Rintik hujan masih terdengar di atas genteng, terpaksa pagi ini aku tidak berangkat ke kantor.
Mas Rahman membuka ponselnya lalu membuka aplikasi yang berwarna hijau.
"Jelaskan padaku siapa dia?" kataku setelah mas Rahman membaca tersebut.
"Jadi istri Mas ini cemburu, Kesini biar mas Jelaskan siapa dia?" Mas Rahman menarik ku ke dalam pangkuannya, ia memeluk ku dari belakang.
"Perempuan itu adalah Tantri, dia bawahan Mas. Kata-kata orang sih dia menyukai Mas tapi Mas tidak peduli, lagian Mas bersyukur memiliki wanita secantik dirimu," kata Mas Rahman.
"Lalu, kenapa nomor Mas ada sama dia?" tanyaku lagi.
"Kalau masalah itu Mas tidak tahu, sudah beberapa kali nomornya Mas blok tapi tetap saja dia mengirim Mas pesan," kata Mas Rahman lagi.
"Apa Mas tidak berbohong padaku," aku berbalik badan menatap mas Rahman, mencoba mencari kebohongan di sudut matanya.
"Mas tidak bohong sayang! kalau kamu tidak percaya besok malam kamu akan mas ajak ke pesta,"
"Pesta apa, Mas?" tanyaku.
"Pesta kantor, kamu harus ikut? semua karyawan membawa pasangannya masing-masing," kata Mas Rahman.
Aku hanya mengangguk lalu berjalan masuk ke kamar. Hujan yang belum reda membuat tubuhku Kedinginan.
"Mau kemana sayang?" tanya Mas Rahman.
"Mau masuk ke dalam, di luar dingin loe Mas?" kata ku menghentikan langkah ku.
"Biarkan Mas yang akan menghangatkan mu?" bisik mas Rahman di telingaku, refleks aku kaget melihat mas Rahman menggendong ku lalu membawa ke kamar. Dia membawaku ke atas ranjang, gairahnya mulai bangkit membuat aku pasrah untuk menikmati nikmatnya bercinta.
*** ****
Di dalam kamar lantai bawah, Silvi sedang mengobrak-abrik laci yang ada di dalamnya. Bu Romlah tercengang melihat kamar bagaikan kapal pecah.
__ADS_1
"Silvi, apa yang kamu lakukan?" tanya Bu Romlah.
"Aku sedang cari sesuatu, Bu?" kata Silvi terus menjadi dalam semua laci di kamarnya.
"Lihatlah, kamu membuat semua berantakan! katakan kamu sedang mencari apa?" tanya Bu Romlah lagi.
"Aku sedang mencari kotak kecil, di dalamnya ada kalung dengan sepasang liontin. Apa ibu pernah melihatnya?" Silvi terus saja mencari di sela-sela sudut ruangan, di bawah tempat tidur, di atas lemari membuat kamarnya benar-benar berantakan.
"Apa kotak ini yang kamu cari?" Bu Romlah datang dengan kotak kecil berbentuk jam tangan, Silvi menoleh ke arah Bu Romlah lalu berjalan mendekatinya.
"Dari mana ibu mendapatkannya?" tanya Silvi.
"Ibu menyimpannya, memangnya kenapa kamu mencarinya! Apa itu sangat berharga?" tanya Bu Romlah di saat Silvi mengeluarkan kalung dengan sepasang liontin.
"Wah, kalungnya cantik? oh ya, semalam ibu gak dengar kamu pulang?" kata Bu Romlah.
"Iyalah gak dengar, wong ibu tidur lelap begitu? Silvi pulang semua lampu sudah mati tapi ibu tahu, semalam itu ternyata dokter Fadli adalah..."
Drrtt... Drrtt...
Silvi terpaksa menghentikan pembicaraannya karena suara ponsel, ia melihat ponsel ternyata panggilan dari Dokter Fadli.
"Hallo, Ada apa?
"^""**^,"
"^"""**^,"
"Apa, diluar? di depan rumah," kata Silvi terkejut mendengar Fadli sudah berada di depan rumahnya.
Silvi berjalan keluar menuju ke depan rumahnya, ia tidak habis pikir dengan Fadli yang selalu datang ke rumahnya lagi.
"Kok kamu kesini lagi?" tanya Silvi setelah membuka pintu rumahnya.
"Memangnya kenapa? apa aku tidak boleh datang kesini?" Fadli balik bertanya pada Silvi yang berada di depan pintu.
"Silvi, siapa di luar?"
"Bukan siapa-siapa, Bu?" teriak Silvi.
"Kamu pergi saja sana, aku hari ini tidak kemana-mana?" kata Silvi mengusir Fadli.
"Siapa yang ingin mengajak kamu pergi, aku kesini mau ketemu sama Rahman," kata Dokter Fadli membuat Silvi malu, dia pikir Fadli mengajaknya pergi keluar tapi ternyata ia hanya ingin bertemu dengan Rahman.
"Kenapa gak bilang dari tadi?" ujar Silvi dengan wajah cemberut.
"Ayo, Masuk?" kata Silvi mempersilahkan masuk lalu menggeserkan tubuhnya yang tepat berada di depan pintu, ibu datang lalu tersenyum melihat dokter Fadli.
__ADS_1
"Ternyata tamunya Dokter Fadli, Tante pikir siapa tadi?" kata Ibu.
Dokter Fadli hanya tersenyum lalu menyalami Bu Romlah.
"Aku kesini mau ketemu sama Rahman, Rahman kemana Bu?" tanya dokter Fadli melihat Rahman belum turun dari lantai atas.
"Mau minum apa?" tanya Silvi basa-basi.
" Apa saja boleh yang penting kamu yang buat?" goda Dokter Fadli membuat bibir Silvi sedikit melengkung.
Silvi berjalan ke dapur untuk membuat minuman untuk Fadli, sedangkan Bu Romlah menaiki lantai atas untuk memanggil Rahman.
"Aku kerjain ah, mumpung dia ada disini?"
Silvi memasukkan garam dalam teh Fadli karena ingin mengerjainya, ia tersenyum bahagia sembari membayangkan Fadli yang keasinan meminum teh buatannya.
Setelah membuat Teh, Silvi membawanya ke depan lalu terlihat Rahman sudah berada di sana dengan rambut yang masih basah.
"Ada apa, Dok?" tanya Rahman.
"Tidak, aku hanya ingin melihat keadaan kamu saja. Setelah di nyatakan sembuh, apa masih merasakan pusing," tanya Fadli, padahal alasan dia bukan untuk menanyakan Rahman tapi untuk melihat Silvi.
Semalaman, ia tidak bisa tidur memikirkan sikapnya yang tidak sopan pada Silvi.
"Minumannya, Dok? silahkan di minum dulu," kata Silvi.
"Iya, terima kasih?" ujar Dokter Fadli meneguk secangkir teh yang masih panas di atas meja.
Uhuukk...Uhuukk....
Fadli terbatuk ketika teh masuk ke dalam kerongkongannya terasa asin, ia tahu kalau Silvi mengerjainya. Dia pun berniat untuk mengerjai Silvi balik dengan berpura-pura sesak nafas setelah meminum teh tadi.
"Aduh, dadaku sakit sekali? ujar dokter Fadli pura-pura sakit memegang dadanya, seakan dia benar-benar tersakiti.
"Dokter kenapa? Silvi apa yang kamu campur dalam minuman dokter Fadli hah," teriak Rahman khawatir melihat dokter Fadli memegang dadanya, ia pura-pura sakit di depan mereka semua.
"Aku... aku tidak mencampur apapun dalam minuman dia?" kata Silvi gugup.
"Mana mungkin, ibu coba minum teh buatan Silvi," perintah Rahman.
Bu Romlah mengambil teh dalam keadaan panik, lalu meneguknya sedikit. lidahnya terasa asin.
"Kok asin, Silvi apa kamu memasukkan garam ke dalam minuman Dokter Fadli?" tanya Bu Romlah.
"Aku... aku...?
"Dokter....!!"
__ADS_1