
Bugh..Bugh
Mas Rahman melayangkan bogem mentah pada wajah pak Andi dan membuat pak Andi tersungkur ke lantai, aku langsung berteriak meminta bantuan pada karyawan yang lain untuk melerai mereka.
"Kurang hajar kamu, akan aku laporkan anda pak Anggara karena telah memukul saya?" Kata Pak Andi dengan pongah berdiri tanpa di mau di bantu oleh karyawan yang lain.
"Silakan, saya tidak takut walaupun di pecat," kata Mas Rahman menatap pak Andi dengan majah yang merah, aku melihat kuku tangannya masih memutih itu tandanya mas Rahman masih dalam keadaan marah.
"Kita pergi saja dari sini, tidak perlu meladeni dia, Mas," kata ku menarik tangan mas Rahman untuk menjauh dari pak Andi, kami berdua pun tidak jadi makan siang. Mas Rahman kembali ke dapur pantry sedangkan aku berjalan menuju ke meja kerjaku.
Rasa lapar aku pun hilang karena kejadian tadi, aku lihat karyawan menatap ke arah ku lalu kembali berbisik sesamanya.
"Ada apa, Sin! Kok mereka dari tadi menatap ke arahku," kata ku bertanya pada Sinta yang asik dengan ponsel.
"What, Ratih kamu viral!" teriak Sinta yang sedang menatap ponselnya, aku sedang duduk mengambil ponsel yang ada di tangannya.
Betapa kagetnya aku melihat video yang barusan terjadi, siapa yang menyebarkan ke media sosial. Aku menscroll akun yang mengirim Video tadi ke media, ia memakai akun Fake.
"Kok bisa terjadi begitu, Ra?" tanya Sinta padaku.
Aku pun menceritakan sebenarnya yang terjadi sebelum mas Rahman melayangkan bogem mentah pada pak Andi selaku HRD di kantor ini.
"Mbak hebat walaupun suami hanya bekerja sebagai office boy, mbak tidak pernah malu untuk mengakuinya sebagai suami kalau aku pasti sudah malu banget,"
Aku tersenyum getir dengan perkataannya, untuk apa malu mengakui kalau dia memang suami kita karena merasa takut di ejek oleh orang lain. Jangan pernah malu di saat suami kita hanya bekerja sebagai buruh atau yang lain karena sejatinya dia sudah berusaha untuk terus membuat kita bahagia, mungkin di luar sana kita tidak pernah tahu apa yang di lakukan suami untuk terus membuat kita bahagia.
"Untuk apa merasa malu jika dia mencari uang secara halal walau hanya sebagai office boy," kata Ratih tersenyum.
__ADS_1
Peristiwa hari ini, membuat aku harus bersyukur dengan kerja keras selama ini. Mas Rahman yang mulai berubah membuat ia merasa bahagia ternyata bahagia itu sederhana.
Jam sudah menunjukkan pukul 04:00 sore, aku keluar dari kantor dan melihat mas Rahman sudah menunggu ku di tempat parkir, Aku melihat dia menggendong Rania putri kami. Apa mas Rahman menjemput Rania dulu tadi.
"Pasti mas sudah lama menunggu ya!" Seru ku pada mas Rahman yang sedang memangku Rania.
"Tidak kok, baru sampai setelah menjemput Rania," ujar mas Rahman.
Aku mengambil Rania dalam gendongannya, sedangkan mas Rahman mengeluarkan motor dari parkiran. Kami pulang berdua bersama-sama meskipun tubuh ini merasa lelah bekerja di kantor tidak membuat ku mengeluh.
Di perjalanan, kami mampir di tukang bakso untuk di bungkus bawa pulang karena tadi siang tidak ada makanan sedikit pun yang masuk ke dalam mulutku. Se sampai di rumah, aku meletakkan Rania di atas karpet di depan tv. Aku berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh yang lelah ini, Aku lihat mas Rahman menuangkan dua bungkus bakso ke dalam dua mangkok.
"Mandi dulu, Mas?" kata ku.
"Nanti saja Mas mau makan bakso dulu masih panas," kata mas Rahman mencomot satu bakso masuk ke dalam mulutnya, aku menelan Saliva melihat begitu lahapnya mas Rahman makan bakso sehingga aku ikut bergabung ke meja makan dan menunda untuk mandi.
"iya, Mas. aku ngiler sendiri lihat mas makan begitu," kata ku merasakan kuah bakso yang gurih dan sangat pas di lidahku.
Setelah memakan bakso, aku berjalan ke kamar dan mandi sedangkan mas Rahman sudah duluan setelah memakan bakso tadi. Aku berjalan menemui mas Rahman yang sedang menemani Rania bermain di teras rumah.
"Ratih, Rahman!" Aku melihat ibu sudah berdiri di depan teras, mas Rahman ikut berdiri melihat ibu menenteng tas. Apakah ibu akan tinggal disini lagi, bagaimana kalau mas Rahman mengijinkannya dan kemana perginya Silvi adik nya mas Rahman.
"Ibu kenapa?" tanya mas Rahman mengajak ibu untuk duduk di teras rumah, aku hanya diam menatap ke arah ibu. Apa semua sudah di rencanakan oleh ibu dan mas Rahman agar bisa tinggal disini lagi.
"Ibu kenapa bawa tas begini?" tanyaku.
Bukan maksud ingin mengusirnya tapi aku hanya tidak mau ibu menghancurkan rumah tanggaku yang sudah aman begini.
__ADS_1
"Adik mu sudah menjual rumah ibu dan pergi entah kemana, ibu tidak tahu mau kemana?" kata ibu dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
Apa, menjual rumah. Mana mungkin Silvi berani menjual rumah ibu, apa semua itu karena lelaki tempo hari yang aku lihat terus bersamanya.
Ya, tempo hari aku melihat Silvi berjalan menggandeng tangan seorang laki-laki, aku dengar-dengar dia menjalin hubungan dengan suami orang. Entah lah, mungkin karena selama ini ibu terlalu memanjakan dia sehingga menjadi anak yang manja.
Mas Rahman mengusap wajahnya dengan kasar, ia tidak harus berkata apa. Dia mengambil gawai di dalam saku celana mungkin ingin menghubungi Silvi.
"Argh, Tidak di angkat lagi,"
Mas Rahman berulang kali menghubungi Silvi tapi tak juga di angkat, ibu hanya diam menangis mungkin ia tidak ingin menjadi gelandangan.
"Semua ini karena ibu terlalu memanjakan dia sejak kecil, apapun yang dia minta selalu ibu penuhi dan ini akibatnya Bu!" kata mas Rahman duduk di kursi, aku hanya diam karena aku tidak ingin ikut campur dengan masalah Silvi.
"Apa ibu boleh tinggal disini?"
"Apa, tinggal disini?" kata ku syok mendengar ibu ingin tinggal disini lagi, tidak aku tidak akan membiarkan ibu tinggal disini tapi kalau tidak tinggal disini ibu mau tinggal dimana.
Mas Rahman menatap ke arahku, aku memberi isyarat dengan cara mengedipkan mata agar mas Rahman tidak membiarkan ibu tinggal disini.
"Semua keputusan ada pada Ratih, kalau Ratih mengizinkan ibu boleh tinggal disini jika tidak aku tidak bisa karena rumah ini milik Ratih, Bu," kata Mas Rahman berlalu berjalan ke dalam, mungkin ia tidak ingin membela ibunya di depan ku.
"Ratih, tolong izinkan ibu tinggal disini?" kata ibu mertua menggenggam tanganku, aku hanya diam menimbang keputusan apa yang aku ambil.
"Boleh ibu tinggal disini tapi ingat, ibu jangan membuat kesalahan yang sama lagi atau ibu akan mendekam dalam penjara," kata ku memperingatinya.
"Terimakasih, ibu janji tidak akan melakukan hal yang sama lagi," kata ibu mertuaku.
__ADS_1
Aku berjalan masuk ke dalam sembari mengendong Rania. Sementara ibu menenteng tas bajunya sendiri, bukan tidak ingin membantu tapi aku hanya ingin ibunya menyadari kesalahannya. Aku harap ibu mertuaku mau berubah seperti sikap mas Rahman seperti ini.