
"Ya, ada apa Sil?" tanya ku mengangkat telfonnya, mata ku terasa berat karena mengantuk membuat aku ingin tidur.
"Ibu suruh pulang, Mbak! Ada hal yang ingin di bicarakan oleh ibu," kata Silvi sedikit kaget, ibu menyuruh kami pulang. Apa ibu sakit padahal belum sehari disini.
"Apa ibu sakit, Sil?" tanya ku lagi walaupun mata sudah tak sanggup untuk menahan kantuk, tidak biasanya aku tidur siang tapi hari ini benar-benar mengantuk.
"Tidak, Mbak. Ibu sehat-sehat kok," kata Silvi.
"Emm, ya sudah. Nanti Mbak pulang sama Mas mu," kata ku lalu mematikan ponsel, mata ku benar-benar tidak bisa lagi di ajak kompromi. Sudah beberapa kali aku menguap maka ku putuskan untuk tidur saja.
______________&&&&&&&&________________
Di lantai bawah, Bu Lydia sedang beradu argumen dengan pak Brata. Dia merasa kesal karena Kedatangan Ratih tanpa sepengetahuan dirinya.
__ADS_1
"Jadi papa sudah kenal dia lebih dulu?" tanya Bu Lydia dengan amarah yang sudah sampai ke ubun-ubun.
Pak Brata mengangguk sembari melepaskan jas yang masih menempel di tubuhnya, ia terlihat santai menanggapi istrinya yang hampir meledak karena amarah.
"Dia sekretaris di perusahaan pak Anggara dan dia memang benar-benar istrinya Rahman ah maksud ku Afnan." Kata pak Brata duduk di atas sofa.
Lagi-lagi Bu Lidya menatap nyalang ke arah suami dengan perasaan kesal, ia tidak tahu kalau suaminya lebih dulu mengenal Ratih dan ia juga tidak menyangka jika Ratih juga wanita karir. Melihat kesederhanaan Ratih, Bu Lydia pikir kalau Ratih hanya wanita rumahan yang tidak punya penghasilan.
"Terimalah dia, Ma. Lihatlah, Afnan sampai harus membawa istrinya ke rumah kita karena hanya untuk bisa bersama anak dan istrinya, jadi lah seorang ibu yang bijaksana untuk Afnan sekalipun bukan anak kandung mu, Ma," pak Brata menepuk bahu istrinya, ia harus membuat istrinya sadar bahwa apa yang di inginkan tak selamanya tercapai.
______________&&&&&&&&&_______________
Matahari mulai tenggelam, Ratih dan Afnan sudah siap-siap untuk pulang ke rumah mereka karena tadi siang Silvi sudah menghubungi Ratih. Ratih memakai baju tonik longgar dengan celana jeans hitam di dalamnya.
__ADS_1
Penampilannya sungguh mempesona membuat dia cantik, mata Afnan tak henti-hentinya menatap istri cantiknya.
"Mas, kok lihat aku begitu banget!" tanya Ratih.
"Enggak, mas paling saja kok istri mas cantik banget," kata Afnan memuji istrinya, ia ingin sekali mengecup bibir merah Ratih tapi niat itu terpaksa ia tahan karena mereka harus pergi ke rumah orang tuanya.
Ratih dan Afnan turun ke bawah dengan Rania di dalam gendongan Afnan, Bu Lidya sedang duduk di meja diam melihat mereka yang sudah rapi.
"Mau kemana kalian?" Tanya Bu Lidya.
Langkah kaki mereka terpaksa berhenti, Afnan berjalan ke arah Bu Lidya.
"Kami mau ketemu sama ibu sebentar, sepertinya ada yang penting," kata Afnan berharap Bu Lidya memberikan izin untuk keluar malam kalau tidak bisa kecewa ibu.
__ADS_1
"Saya ikut kalau begitu....!"
Bola mata Afnan hampir saja keluar mendengar penuturan Bu Lidya, ia tidak habis pikir mendengarkannya atau ada sesuatu yang ingin di rencanakan oleh Bu Lydia.