
Aku terus menyusuri lorong rumah sakit berharap aku bisa menemukan mas Rahman, aku yakin mas Rahman belum pergi jauh dari sini. Aku terus berjalan melihat ke sekeliling arah tapi nihil tidak ada mas Rahman.
Sebenarnya kemana dia pergi, kenapa mas Rahman pergi tanpa bertanya dulu kepadaku. Aku terus berputar lalu melihat seseorang mirip dengan mas Rahman menaiki taxi, bukan mirip tapi itu benar-benar mas Rahman.
"Mas Rahman... Jangan pergi mas!" Aku berlari mengejar taxi yang ia tumpangi. Tak ku pedulikan lagi Rania yang terus menangis, aku terus mengetuk kaca mobil taxi tapi mas Rahman hanya diam bahkan untuk menoleh ke arah ku saja ia tidak mau.
Apa aku sehina itu, aku tidak melakukan itu semua. Air mataku luruh bersama tubuh ini ke atas tanah.
"Kenapa kamu ninggalin aku tanpa bertanya padaku, Mas?" Lirihku.
Hatiku hancur bersama hati yang telah pergi, aku bangun dengan kaki tertatih. Air mata ini terus jatuh perlahan, aku mencoba berjalan kembali ke rumah sakit untuk bertemu dengan Silvi.
"Kak Ratih kok nangis, Kenapa?"
Aku melihat Silvi berada di belakang aku, ia menenteng dua bungkus nasi untuk makan siang. Aku mencoba menghapus air mata ini.
"Silvi, apa selama kamu temani mas Rahman ada orang yang datang kemari?" tanyaku.
Aku berharap Silvi mengetahui sesuatu agar aku bisa tahu siapa orang yang sudah mengirimkan foto pada mas Rahman.
"Ada, dia menitipkan sesuatu pada mas Rahman lalu aku memberikannya, memangnya ada apa kak, apa di dalam situ ada bom?"
Rentetan pertanyaan keluar dari bibir Silvi, aku mengerutkan kening mendengar perkataan Silvi. Siapa teman mas Rahman yang tidak aku ketahui, aku mengusap wajah karena lelah memikirkan semua ini.
"Apa kamu tahu mas Rahman pergi kemana?"
"Mas Rahman pergi tapi kenapa, tadi mas Rahman baik-baik saja," Silvi balik bertanya padaku. Apakah aku harus menceritakan tentang sebenarnya.
Aku menatap ke arah Silvi, mana tahu kalau Silvi tahu kemana perginya mas Rahman dan tidak mengatakan apapun.
"Ayo, kita duduk disana! Ada sesuatu yang harus kakak cerita pada kamu. Oh ya kakak lupa, apa kamu tahu ciri-ciri orang yang menemui mas Rahman tadi," tanya ku.
"Ciri-ciri tingginya, kulitnya sawo matang dan ia memakai masker juga kaca mata kak, jadi aku tidak bisa mengenalinya," kata Silvi.
Bagaimana aku bisa tahu lelaki itu jika Silvi saja tidak mengenalinya, aku kembali mengusap wajah. Besok aku harus kembali ke Jakarta, mungkin saja mas Rahman pulang ke Jakarta tanpa kami.
Hatiku sakit, air mata ini tak henti terjatuh.
Aku mulai menceritakan pada Silvi tentang kejadian tadi pagi dan menemukan lembaran foto ku di kamar rumah sakit.
__ADS_1
"Apa, mbak tahu ciri-ciri lelaki tadi pagi yang mengantarkan makanan yang mbak pesan?" tanya Silvi.
Aku mengingat driver yang mengantarkan makanan, dia memakai jaket juga topi tak lupa ia juga memakai masker seperti lelaki yang menemui mas Rahman.
"Fix, driver itu sama persis dengan lelaki yang menemui aku dan mas Rahman dua jam yang lalu," kata Silvi.
Jika dua jam yang lalu lelaki itu kesini berarti memang dia sudah merencanakan semua ini, sebenarnya siapa dia dan ada hubungan apa dia dengan ku.
Aku mengajak Silvi pulang ke villa dan menghubungi Anggara untuk mencari bukti, Sementara mas Rahman aku tidak tahu dimana sekarang? aku menghubungi nomornya tapi tidak aktif.
Dua jam perjalanan, kami berdua baru sampai di villa dan hari ini kami kembali ke Jakarta, disana nanti aku akan menceritakan semua pada ibu agar kami bisa mencari solusi.
"Kalian mau kemana?" tanya Anggara.
Aku menatapnya sekilas lalu kembali membereskan bajuku dan baju Rania, aku masih memikirkan mas Rahman. Aku mengambil ponsel lalu menghubungi nomornya.
"Rahman kemana?" tanya Anggara lagi.
Aku hanya diam, pikiran ku kacau karena tidak ada tempat yang bisa aku datangi untuk mencari mas Rahman.
"Kakak sudah siap?" tanya Silvi.
"Silvi, kalian mau kemana?" tanya Anggara berulang kali.
"Kami mau kembali ke Jakarta," kata Silvi.
"Lalu Rahman dimana?" tanya Anggara.
"Mas Rahman pergi setelah melihat foto kalian berdua di atas ranjang," kata Silvi lagi.
"Apa? maksud kamu Rahman melihat semuanya," tanya Anggara.
"Jangan-jangan semua ini sudah di rencanakan dan semua ini di lakukan untuk memisahkan kalian berdua," kata Anggara.
Langkah ku terhenti kala mendengar ucapan Anggara, aku menatap Anggara meminta penjelasan apa maksudnya begitu.
"Maksud kamu apa bilang begitu?" Tanya ku.
"Coba kamu pikir, untuk apa orang itu menjebak kita dan mengirimkan pada Rahman kalau bukan punya tujuan lain, Apa selama ini kamu punya musuh," tanya Anggara.
__ADS_1
Selama ini aku tidak punya musuh kecuali dulu pernah berurusan dengan Riko, apa semua ini dia yang melakukannya tapi bukannya mas Rahman berteman dengan Riko. Mana mungkin ia melakukan ini.
Aku memijat keningku sedikit pening, siapa yang harus aku curigai.
"Aku tidak punya musuh selama ini kecuali pak Yanto," kata ku pada Anggara.
"Jangan-jangan semua ini ulah Riko!" tebak Anggara. Anggara mengambil ponsel lalu menghubungi seseorang, entah siapa aku pun tidak tahu.
Aku menatap ke arah Silvi, hari sudah sore tapi aku belum melihat tanda Stefani pulang.
"Anggara, Stefani belum pulang?" tanya ku.
Anggara yang baru saja selesai berbicara menoleh ke arah ku. lalu menatap jam yang ada di tangannya.
"Sudah jam 05:00 sore tapi Stefani belum pulang, kemana dia pergi?"
"Apa sebelum pergi Stefani ada bilang sesuatu?" tanya ku.
Aku juga khawatir karena sudah membawa ia kesini tapi dia belum pulang, kemana dia pergi sebenarnya.
"Tidak ada, dia hanya bilang pergi ke suatu tempat," kata Anggara.
Aku hanya diam berperang dengan pikiran masing-masing, masalah ini saja belum selesai sudah datang masalah lain.
"Coba kamu lacak nomornya dimana dia terakhir kalinya," kata ku.
Ya, aku dengar-dengar seseorang bisa dilacak tapi aku tidak tahu bagaimana. Semoga kami mendapatkan petunjuk agar bisa menemukan Stefani.
"Tunggu aku hubungi Yogi, semoga saja dia bisa keberadaan Stefani sekarang?" kata Anggara kembali mengambil ponsel di saku celananya lalu menghubungi Yogi dan kembali mematikan ponselnya.
Drrt..Drrt...
Deru suara ponsel Anggara berdering, ia melihat lalu mengangkatnya. Entah siapa yang menghubunginya aku pun tidak tahu.
"Apa kamu sudah mendapatkan informasinya?"
"^----^,"
"Apa, di Bandung? ya sudah Terimakasih informasinya," kata Anggara mematikan ponselnya
__ADS_1