Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang

Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang
ketika istriku tak lagi meminta uang 53


__ADS_3

Matahari mulai menyising malam, lampu di sepanjang perjalanan mulai menyala menampakkan keindahannya. Aku dan bersama pergi kerumah sakit, tadi ibu menelepon dan mengatakan kalau Silvi sudah sadar tapi ia tidak mengenali dirinya, ia terus berteriak.


Satu jam perjalanan, akhirnya kami sampai di perantaran rumah sakit. Kami berjalan ke rawat inap Silvi, aku melihat ibu duduk di luar dan menangis.


"Apa sebenernya yang terjadi, Bu," tanyaku.


Ibu memelukku, tidak biasanya ibu menangis seperti ini.


"Ibu, tenanglah katakan apa yang terjadi pada Silvi," tanya ku sekali lagi.


"Dia tidak mengenali ibu, dia berteriak histeris," kata ibu.


Aku melihat Silvi lewat jendela kamar, tatapannya kosong ke depan. Sepertinya ia tertekan selama ini, aku mencoba untuk masuk ke kamarnya.


Pelan-pelan aku berjalan lebih dekat dengannya, mencoba untuk berbicara dengannya.


"Bolehkah aku duduk disini?" tanya ku padanya, seakan kami tidak saling kenal agar dia tidak ketakutan.


Entah apa yang terjadi padanya selam ini,


Apa ini semua terjadi karena dia hamil.

__ADS_1


"Kamu siapa?" Silvi menatap ke arahku dengan datar.


"Namaku Ratih, nama kamu siapa?" tanya ku mencoba untuk menanyakan namanya, apakah ia masih mengingat namanya. Kalau tidak fix dia hilang ingatan karena benturan di kepalanya itu.


"Aku... Aku.... Aku tidak tahu namaku, apa kamu mengenali aku," ia berbalik bertanya padaku.


"Nama kamu Silvi," kataku.


Ia menatap ke arahku, lalu kembali menatap datar ke depan. Sepertinya ia terkenan gangguan psikis, sebaiknya aku tunggu sampai Silvi sembuh setelah itu baru aku membawa dokter psikolog untuknya.


Aku kembali keluar lalu menemui ibu dan mas Rahman, aku semua ini pada dokter agar kami bisa menanganinya nanti jika ia kembali histeris.


"Sepertinya ia terkena psikis sehingga ia berteriak, sebaiknya kita tanyakan dokter saja," kata ku.


Mas Rahman hanya mengangguk, lalu kami berjalan menuju ruangan dokter yang menangani Silvi.


"Bagaimana kondisi Silvi, dok."


"Adik anda mengalami gangguan psikis, mungkin selama ini dia tertekan sehingga ia sedikit depresi. Sebaiknya kita lihat perkembangannya beberapa hari lagi," kata Dokter tersebut.


Kami hanya diam, penjelasan dokter cukup segnifikan di lihat dari cara Silvi berbicara. Dia lebih banyak diam, pandangan kosong. Mungkin aku bisa mencari informasi dari ponselnya.

__ADS_1


Kami kembali ke kamar Silvi, ia sudah tidur. . Aku tidak membiarkan ibu terus berada di rumah sakit, apalagi kondisi Silvi yang seperti ini. Bisa saja ia kembali histeris seperti kejadian tadi.


"Ibu pulang saja sama mas Rahman biar aku yang akan menjaga Silvi disini." kata ku pada ibu.


"Tapi kamu harus bekerja besok," kata ibu.


"Besok hari libur, Bu. ibu di rumah saja karena aku tidak ingin ibu sakit," kata ku membujuk ibu agar mau pulang.


Akhirnya ibu pulang juga meski ini zpun berat meninggalkan Silvi, aku masuk ke kamarnya lalu tidur di sofa.


*** ***


"Tolong, jangan sakiti aku... jangan sakiti aku...," Aku terbangun mendengar teriakan seseorang ternyata Silvi mengigau dalam tidur. Aku berjalan untuk membangunkannya.


"Silvi, bangun. Tidak ada yang menyakitimu,"


"Tolong, jangan sakiti aku," ia terus mengigau. Aku terus berusaha untuk membangunkannya. ia terengah-engah setelah terbangun dari mimpi buruknya, ia menatap ke arah ku.


Nafasnya memburu dan melihat seluruh ruangan.


"Tolong, jangan tinggalkan aku. Mereka akan menyakitiku lagi," kata Silvi memegang tangan ku. Tubuhnya gemetar dengan keringat keluar dari dahinya, aku hanya bisa menenangkannya untuk saat ini. Besok aku akan mencari tahu semuanya, aku janji untuk menemukan keadilan untuk Silvi.

__ADS_1


__ADS_2