Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang

Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang
Ketika istriku tak lagi meminta uang 103


__ADS_3

"Wa'alaikumsalam, Bu Sekar! Ada apa kesini?" tanya ku melihat Bu Sekar berada di depan rumahku, selama ini dia tidak pernah kesini sekalipun rumah kami berhadapan.


"Boleh saya masuk," kata Bu Sekar.


Aku hanya mengangguk lalu menggeserkan tubuh ini, aku berjalan ke depan dan ibu masih berada di tempat semula.


"Siapa, Tih?" tanya ibu.


"Lhoe, Bu Sekar! ada apa kemari?" tanya ibu, mereka saling menatap begitu juga dengan ku. Banyak pertanyaan yang berkeliaran di kepalaku.


"Sebaiknya ibu duduk dulu, akan ku buat air sebentar," kata ku berjalan.


"Tidak usah, Ratih. Duduklah," kata Bu Sekar menunduk.


Apa yang sebenarnya yang ingin Bu Sekar katakan, sepertinya benar-benar penting.


"Saya kesini hanya mau meminta maaf atas nama Riko, dia sudah menyesali semua kesalahannya. Dia sangat menyesal," kata Bu Sekar menangis.

__ADS_1


Apa, Riko minta maaf? Apa aku tidak salah dengar, mungkin saja ini semua hanya pura-pura. Aku menatap Bu Sekar, hatiku masih ragu untuk membenarkan ucapan Bu Sekar jika Riko meminta maaf.


"Apa Riko bersungguh-sungguh, mungkin saja hanya berpura-pura bukankah selama ini, Riko terlalu banyak bersandiwara,"


Silvi dengan suara tegas mengatakan itu semua, aku membenarkan semua yang dikatakan oleh Silvi. Ibu dan Mas Rahman hanya diam.


"Aku tidak bohong, selama di penjara dia banyak merenungi kesalahannya. Dia sudah jahat pada kalian terutama pada Ratih," kata Bu Sekar kembali menangis tapi kenapa hati ku mengatakan kalau Bu Sekar hanya berpura-pura.


Air mata Bu Sekar jatuh perlahan, membuat Mas Rahman merasa iba. Ibu menatap ke arah ku, sepertinya ada sesuatu yang ingin di katakan ibu.


"Kami sekeluarga sudah memaafkan kesalahan Riko, semoga saja selama di penjara dia sadar dan tidak mengulanginya lagi," kata Mas Rahman, ia memang tidak bisa melihat orang tua menangis. Aku hanya diam tidak mau berkata apapun.


"Iya, Bu Sekar. Kami sudah memaafkan kesalahan Nak Riko, semoga dengan berada di dalam penjara akan menjadi lebih baik," kata ibu tersenyum, sementara aku dan Silvi hanya diam menatap ke arah mereka.


"Ya sudah, kalau begitu sayang pulang dulu Bu?" kata Bu Sekar pamit.


"Iya, Bu Sekar hati-hati," kata ibu, aku berjalan ke dapur untuk memanaskan makanan tadi untuk di makan bersama.

__ADS_1


"Kamu kenapa, Tih?" tanya Ibu saat aku melangkahkan kakiku ke dapur.


"Maksud ibu?" tanya ku balik.


"Ya, ibu lihat kamu belum percaya dengan perkataan Bu Sekar." kata ibu lagi.


"Ibu benar, aku memang belum sepenuhnya percaya pada Bu Sekar karena Riko sangat licik Bu. Aku takut jika mereka ada rencana lain," kata ku pada ibu, hatiku mulai tak tenang kembali.


Sepertinya akan ada sesuatu yang akan hilang.


"Ya sudah, kamu tidak perlu memikirkan itu semua?" kata ibu.


"Ibu benar, ya sudah Ratih panaskan makanan tadi untuk makan siang kita," kata ku pergi ke dapur.


Setelah memanaskan makanan, aku menghidangkannya di atas meja dan semua sudah berkumpul termasuk Rania putriku yang sudah lancar berjalan.


"Mama, Mom," kata Putriku.

__ADS_1


"Sebentar sayang, mama ambilkan dulu," kata ku mengambil nasi untuknya, ia sudah bisa makan nasi karena giginya sudah tumbuh walaupun belum semua.


Mas Rahman langsung makan begitu juga dengan ibu, sedangkan aku masih menyuapi Rania nanti aku baru makan. Perasaan aku masih tidak enak, aku takut kedatangan Bu Sekar akan menjadi petaka bagi rumah tanggaku.


__ADS_2