Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang

Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang
Ketika istriku tak lagi meminta uang 108


__ADS_3

**Happy reading ❤️


📞 Mas Rahman**


Mas Rahman menghubungiku, aku langsung mengangkatnya dan ternyata panggilannya langsung mati, aku kembali menghubungi nomor mas Rahman tapi sudah tidak aktif.


Apa sebenarnya yang terjadi, bagaimana ini? apa yang harus aku lakukan. Aku tidak tahu harus apa, sebaliknya aku minta tolong Anggara saja. Bukankah keberadaan kita bisa di lacak dengan Google map tapi aku tidak bisa, aku harus minta tolong pada Anggara. Sebaiknya aku temui saja dia sekarang.


*** ***


Di sebuah ruang rumah sakit, seseorang gadis cantik sedang beradu argumen dengan seorang perempuan yang hampir paruh baya.


"Apa yang mama lakukan, kenapa mama menghancurkan ponsel lelaki itu? bagaimana kalau keluarganya mencari keberadaannya," kata gadis tersebut menatap mamanya.


Wanita paruh baya tersebut menatap putrinya dengan tajam, lalu mengambil ponsel yang hancur tersebut.


"Amelia, kita tidak tahu apa yang terjadi dengan lelaki tersebut tapi kita bisa lihat kalau ada penganiayaan terhadap dirinya," kata Wanita tersebut merasa iba pada lelaki yang sedang berbaring di brankar rumah sakit.


"Apa kamu yakin, jika orang lain tahu dia akan selamat. Lihatlah, seseorang telah membuat dia teraniaya dengan wajah yang rusak,"


Perempuan cantik itu menatap mamanya, ia membenarkan ucapan mamanya perihal saat mereka menemukan lelaki tersebut dalam keadaan wajah yang sudah rusak mungkin ada seseorang yang menyiram mukanya dengan air keras, mereka saja tidak mengenali wajah lelaki yang mereka temukan di pinggir jalan dalam keadaan merangkak meminta tolong.

__ADS_1


"Lalu, bagaimana kita memberitahukan keluarganya bahkan kita tidak tahu siapa lelaki ini. Hanya ponsel itu petunjuknya Ma," kata Amelia.


"Kita cukup memberikan nama Afnan untuk lelaki itu agar dia bisa selamat, jika dia sadar kita akan menceritakan semuanya." kata Wanita tersebut.


"Ma, tapi kak Afnan sudah meninggal," kata Amelia lagi.


"Mama tahu, tapi kita tidak tahu bentuk wajah siapa yang akan kita berikan padanya. Kamu percaya sama Mama jika dia sudah sembuh, kita akan menceritakan semuanya." kata Wanita tersebut.


Amelia hanya diam, dia tidak tahu bagaimana reaksi lelaki tersebut jika melihat wajahnya nanti.


"Lidya, aku ke kantor dulu? Kalau terjadi apa-apa beritahu aku," kata seseorang lelaki memakai jas kantor.


"Iya, Pa. Papa harus hati-hati?" kata Lydia pada suaminya.


"Kami akan mencari keluarga mu setelah kamu sadar nanti," kata Lydia.


Sementara, Amelia pergi ke kampus. Dia tidak menyangka ada orang yang begitu jahat mencelakai seseorang sedemikian rupa.


*** ***


Aku sampai di rumah Anggara, kebetulan dia hari ini tidak pergi ke kantor karena libur. Aku menekan bel pintu rumahnya hingga tiga kali, lalu terlihat seorang pembantu membukakan pintu.

__ADS_1


"Eh, Ada tamu ?Ayo masuk dulu,"


"Anggaranya ada Bik, saya hanya ingin bertemu dengannya," kata ku tersenyum.


"Ada Mbak, sebentar Bibik panggil dulu tapi mbak masuk dulu, nunggu di dalam saja," kata Bibik tadi, aku hanya mengangguk lalu masuk duduk di ruang tamu. Lima menit menunggu, Anggar turun dengan memakai baju kaos dan celana selutut.


"Ratih, ada apa?" tanya Anggara.


"Apa kamu bisa membantu ku?" tanya ku lebih dulu.


"Bantu apa?"


"Tadi pagi, Mas Rahman menghubungiku tapi setelah itu terputus begitu saja dan setelah aku menghubungi balik ternyata nomornya tidak aktif.


"Apa kamu bisa melacak keberadaannya dengan google map soalnya aku tidak bisa," kata ku.


"Berikan ponselmu," kata Anggara.


Aku memberikan ponselku pada Anggara, dia mulai mengotak-atik ponselku. Entah apa yang dia lakukan aku tidak tahu.


"Sepertinya arah tanda panah mengarah ke rumah sakit, mungkin Rahman ada disana?" kata Anggara.

__ADS_1


Aku mengambil ponsel lalu melihat aplikasi google map ternyata benar arahnya mengarah ke rumah sakit tapi bukan kah rumah sakit ini tempat Fadli bekerja.


__ADS_2